Museum di Bali, Wisata Edukasi Murah Nan Berkelas

Wisata edukasi yang murah, tengah kota, dan bisa seharian sebenarnya adalah berkunjung ke museum. Harga tiket dewasa lima ribu rupiah bahkan gratis. Kalau mau donasi boleh, serelanya, terutama untuk pemandu yang sudah memberikan penjelasan ke kita, dan sabar menghadapi pertanyaan pengunjung yang ewet-ewet ini.

Keberadaan pemandu memang penting banget untuk memberikan keterangan pada benda-benda yang tidak bisa bicara ini. Kalau di luar negeri bisa pakai fasilitas audio atau video, di Indonesia biar padat karya makanya perlu pemandu. Sayangnya belum diresmikan tarifnya, tapi semoga saja banyak yang memberi di atas standar yang ada daripada yang kurang. Kalau mau lengkap lagi dan sekalian bisa menghabiskan waktu seharian di sana, studi literatur dulu aja dari internet. Cari tau tentang museumnya, barang di dalamnya, dan cerita yang ada di baliknya. Meski sudah ada gambarnya, beda kok antara melihat langsung dengan melihat di layar.

Kelemahan museum di Indonesia adalah komunikasi visualnya yang kurang menarik, perawatan yang kurang, dan minimnya interaksi dengan pengunjung. Barang ditaruh begitu saja tanpa jelas itu barang apa, dipakai buat apa, sejarahnya, keterkaitan satu dengan lainnya apa. Penataannyapun  mainstream jadi ngga ada suprise di dalamnya. Suasananya remang-remang, berdebu, dengan petugas yang sedikit jadi sulit ditanyai. Fasilitas seperti tempat duduk bagi pengunjung yang ingin menikmati lebih lama, menulis, mengambil foto atau sekadar berisitirahat juga kurang. Toilet dan kafe mestinya juga jadi sarana pelengkap yang diperlukan, selain toko souvenir dan pusat informasi. Untuk interaktif bisa dibuat kids club, atau scientific club, website yang menarik, bedah buku, acara mingguan,  seminar, kerjasama dengan sekolah juga bisa untuk meningkatkan traffic ke museum. Saat berkunjung ke museum di Melbourne, banyak beredar para remaja bercelana pendek yang mencatat. Rupanya mereka dapat tugas dari gurunya untuk tugas musim panas mereka.

Museum Bali ini terletak di tengah kota, tepatnya di Lapangan Puputan. Ada lima bangunan utama yang menggambarkan lima kerajaan di Bali. Tiap bangunan punya ciri khasnya sendiri, dan sudha dibangun tahun 1914 oleh Belanda. Setelah membayar tiket kami disertai pemandu memasuki gedung demi gedung yang ada di sana. Bayangin kalau ngga ada pemandunya, pasti kami sporadis aja memasukinya.

image

Di dalamnya banyak benda menarik yang lagi-lagi harus dijelaskan pemandu mengenai sejarah dan latar belakang kenapa benda itu ada. Termasuk hal-hal mistis seperti keris yang urip (hidup) pada waktu-waktu tertentu. Beberapa foto juga disajikan untuk melengkapi cerita yang ada. Bendanya ngga cuma prasejarah atau sejarah, yang masih dipakai sekarang pun, terutama yang terkait adat ada semua disana, termasuk semua filosofis banten (sesajen) dan patung dewa di Bali.

Jika Museum Bali dikelola negara, maka museum Setia Darma di Ubud dikelola orang perorangan, seorang pengusaha dari Jakarta yang punya kepedulian melestarikan semua topeng, boneka dan wayang khas dari seluruh pelosok Indonesia. Terdiri atas enam bangunan, museum ini juga memerluka pemandu untuk menjelaskan semua benda yang ada di sana, termasuk sejarah dan kenapa dibuatnya seperti itu.

image

Museumnya gratis, pemandunya ramah,toilet dan halaman bersih, dan ada kafenya. Semua siap meski pengunjungnya hanya kami, karena tempat ini sulit dijangkau bis dan hanya orang yang benar-benar tertarik atau yang iseng kaya kami yang menjadi pengunjung. Tapi keren kok museumnya, selain bendanya lengkap, bangunan dan pernik-pernik di dalamnya juga jadi pajangan juga.

Hal yang selalu teringat dalam benak saya saat memasuki museum adalah ‘Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai sejarahnya.’ Semoga museum dapat membantu kita mengingatkan akan hal itu.

***
IndriHapsari

Advertisements