Minggu Ini Belum Nonton Bokep

Siapa yang mengatakan kalimat ini?

Pelajar SMP yang berada di sebelah saya, di sebuah kafe yang menjadi satu dengan tempat kursus bahasa.

Kenapa kok sampai minggu ini belum nonton bokep?

Karena dia sedang UN, alias Ujian Nasional.

Kaget? Miris?

Menurut saya, berhenti deh meributkan masalah kevalidan data hubungan seksual usia dini yang terjadi pada remaja kita, seperti yang nampak pada komentar-komentar yang berada pada artikel ini. Kejadian itu sudah sangat dekat dengan kita, baik remaja di perkotaan maupun di pedalaman. Daripada ngeributin data, mari kita bahas kejadiannya.

Usia segitu memang masa-masanya ingin tahu. Sialnya, kalau dulu mungkin cuma dengar cerita, atau sembunyi-sembunyi baca majalah dewasa, sekarang dengan mudah diakses lewat media internet. Berkat gadget yang dilimpahkan oleh orang tua pada si anak, sebagai bagian dari gaya hidup dan biar ngga ngerepotin orang tuanya yang juga sibuk sama gadgetnya, maka semakin lancar jaya akses mereka ke dunia maya.

Termasuk membaca cerita khusus dewasa. Termasuk melihat foto yang menggoda. Termasuk menonton video yang memunculkan kenikmatan yang luar biasa. Dan jangan salah, ngga cuma cowok saja, cewek juga ada yang jadi kepingin nyoba gara-gara semua luapan informasi tersebut.

Maka yang kita temui sekarang adalah remaja-remaja yang secara fisik bagian genitalnya sudah aktif, kelebihan berat badan karena sibuk nonton video daripada lari-lari mengejar layangan. Sedang secara mental malas belajar karena perhatian terpecah dengan video yang baru ditontonnya, dan tak lagi menjadi remaja lugu seperti yang ia selalu perlihatkan di depan orang tuanya.

Miris bin prihatin.

Mencegahnya? Paling utama adalah keluarga. Kedekatan antar anggota keluarga menyebabkan perhatian itu juga berfungsi sebagai pengawasan, sebagai pengingat bahwa ‘aku selalu ada untukmu’ dan penjaga moral seseorang. Yah kelihatannya naif banget, moral seseorang kok yang jaga orang lain. Tapi saat hasrat menguasai logika, mau ngga mau mesti ada yang ngebilangin, it’s right or not right. Apalagi mereka masih usia belasan, belum bisa menimbang baik dan buruk jika tidak diarahkan. Menjadi teman, salah satu jalan keluar. Jangan sampai kita sebagai orang tua dianggap musuh bebuyutan, dan malah semua hasratnya dia sembunyikan.

Menjadi teman, gimana sih?

Teman tidak menghakimi. Teman tidak mengomeli. Teman tidak menasehati. Teman hanya mendengarkan. Menyampaikan pendapatnya tanpa paksaan. Menyemangatinya untuk hal-hal yang positif. Menghargai apapun dia, apapun pencapaiannya, dan menghibur saat ia berduka. Jika dalam keluarga sudah ada teman, ia akan mengurangi pergaulan ngga pentingnya dengan teman-teman yang sudah berpengalaman dalam hal aktivitas seksual, dan ngajarin yang ngga-ngga pada anak-anak kita.

Ah susah pasti, karena kesalahan kecil pun telah membuat kita cemas hal tersebut akan bertambah besar. Tapi memang perlu dipilah kok, memperingatkan mereka untuk hal-hal besar saja, agar si remaja tidak merasa dibatasi dimana-mana. Nanti begitu masalah yang gawat malah dia abaikan karena merasa jenuh dengan semua aturan.

Oh remaja, bisa ngga, ngga nonton itu, hingga kau dewasa?

20130505-092257.jpg

Artikel Terkait : Hati-hati Jaga Bodi

Advertisements