Paddington : Iklan Kota London

image

Paddington, beruang kecil dari Peru ini berangkat ke London untuk mencari Montgomery Clyde, penjelajah dari Inggris yang pernah janji, datang aja ke London dan dia akan disambut hangat. Setelah gempa bumi yang menghancurkan rumahnya dan menewaskan pamannya, berangkatlah Paddington dengan menyelinap di kapal, dibekali berbotol-botol selai jeruk kegemarannya dan doa dari bibinya. Karena si penjelajah meninggalkan piringan hitam dan playernya, Paddington menjadi beruang yang sopan dan penuh tata krama.

Mencari dimana tempat si penjelajah tidaklah mudah, terutama ketika tidak ada alamat satupun yang ia pegang. Orang Inggris juga bersikap kasar dan ngga pedulian, sampai kemudian datanglah keluarga Brown yang membiarkannya menginap semalam. Dari sinilah petulangan dan kegemparan dimulai. Awalnya muncul penolakan dari Mr. Brown dan Judy, si sulung. Tapi akhirnya semua sayang Paddington, termasuk segera menyelamatkannya ketika ia diculik oleh anak si penjelajah, untuk diawetkan jadi pajangan di museum.

Secara teknik film ini mampu memadukan tokoh rekaan dengan bintang filmnya, mulus dan natural. Ngga ada gerakan kaku, bahkan ekspresi si Paddingtonpun bisa dipahami. Banyak gerakan slapstick yang memicu tawa disajikan dengan lancar.

Selain keberhasilan Paddington diterima keluarga Brown, sebenarnya kedatangannya juga menyelesaikan masalah dalam keluarga Brown. Sang nenek jadi ngga rematik lagi, Mr. Brown jadi lebih spontan, Mrs. Brown jadi terinspirasi oleh suaminya dan bisa melanjutkan sketsanya, Judy jadi lebih pede, sedang Jonathan mendapat kepercayaan untuk boleh bereksperimen. Intinya mereka jadi keluarga yang lebih kompak.

Karakter yang menarik justru diperankan Nicole Kidman yang jadi anaknya Montgomery, Milicent. Kurus tinggi langsing blonde, idolanya westerner deh. Perpaduan antara kecantikan dan kekejaman, kayanya rias artisnya ngga perlu usaha banyak deh untuk mendandani mbaknya supaya cantik.

Keseluruhan film ini cukup berharga untuk ditonton bersama keluarga. Penonton kecil pasti terbahak melihatnya. Buat penonton dewasa, misal saya nih, Paddington tidak menawarkan sesuatu yang baru. Kisahnya seperti 101 Dalmatian, cuma inti film  itu mau menguliti si anjing, kalau yang ini mengawetkannya. Bisa dimaklumi ada topik berulang, karena Paddington sendiri diangkat dari novel yang sudah terbit tahun 1958.

Lainnya yang saya lihat adalah keinginan sutradara atau produsernya ya, unuk mempromosikan London. London yang kota metropolitan tapi tetap menjaga kelestarian bangunan tua, museum yang dingin dan besar, London yang beradab dan sopan, London yang multikultural dan sanggup menerima siapa saja yang datang. Suatu hal yang bertentangan dengan berita terbaru, saat seorang anggota parlemen menginginkan semua lulusan universitas di Inggris yang berasal dari luar negeri segera meninggalkan Inggris begitu selesai. ‘Diterima dengan hangat’ sepertinya jauh dari kenyataan yang ada.

Tentu hal ini ngga akan menyurutkan kelucuan dan kecerdikan Paddington dalam menemukan keluarga barunya.

image

***
IndriHapsari

Advertisements