Museum Pasifika, Koleksi Seni Asia Pasifik di Bali

Sebelumnya saya antara ‘jadi ngga’ untuk mengunjungi museum ini. Isinya paling lukisan, apalagi dulu pernah mengunjungi Museum Puri Lukisan di Ubud. Jangan-jangan sama nih…Tapi karena waktu cukup panjang dan kami lagi menunggu Devdan Show yang jadwalnya malam hari, ya sud mampir sini. Dan seperti museum lainnya, pengunjungnya cuma kami 😀 Ada beberapa turis asing terlihat, turis domestik sih ngga ada. Menurut mbak yang jaga orang Indo kalau ke Bali sukanya ke pantai dan shopping. Kami malah ngga masukkan itu ke daftar destinasi, abis kan sudah pernah ke pantai dan shopping 😛 

Brosur dari Museum Pasifika


Pertama baca namanya yang terbayang ini museum tentang laut, kan Lautan Pasifik. Ternyata Pasifika disini menggambarkan nama daerah, Asia Pasifik, berikut koleksi yang berasal dari daerah tersebut. Kalau dari brosur ada 600 karya seni dan 200 artis dari 25 negara yang berkontribusi untuk mengisi museum ini. Berdiri di lahan seluas 12.000 meter persegi, museumnya terkesan oblong-oblong alias lega banget, beda banget dah dengan Museum Bung Karno yang kami kunjungi sebelumnya. Lahan parkirnya luas (dan cuma mobil yang kami sewa yang parkir, karena turis lain datang dengan jalan kaki. Museumnya sendiri nyempil di antara jajatan hotel mewah yang menguasai pantai di Nusa Dua) halamannya juga luas. 

Koleksi Museum Pasifika

 
Meskipun dari 11 ruangan hanya 2 ruangan yang diperbolehkan untuk foto-foto (ini juga kali yang bikin orang Indo malas berkunjung, kan ngga bisa selfie :P) kebayang gimana usaha dan kayanya orang yang memiliki semua koleksi ini. Sama seperti Setia Dharma Puppet Museum di Ubud, biasanya ada orang kaya yang suka seni, mengoleksi (itu termasuk keliling dunia dan membelinya, mungkin juga melalui lelang) trus ngebikinin tempat khusus untuk menyimpannya, dan hei…kenapa ngga mengijinkan orang untuk melihatnya? Apapun alasannya membuka untuk publik, hal-hal begini patut diapresiasi bagi kita yang punya satu lukisan aja ngga kebayang saking mahalnya. Ngga usah nunggu ke luar negeri untuk menikmatinya, jangan pelit keluar uang 70 ribu per orang, ngga usah komplain di Indonesia seni terpinggirkan, kalau menghargai museum seperti begini aja ogah. Menghargai itu termasuk menaati peraturan ngga boleh foto di ruangan tertentu lo ya. Emang sih ngga ada yang ngawasin, tapi tindakan itu sudah menunjukkan kelas kita sudah termasuk yang beradab apa primitif 😀

Banyak kenangan kondisi di Indonesia dalam lukisan-lukisan di ruangan I hingga V. Pelukisnya ada dari Indonesia, Italia, Belanda, Prancis dan Indo-Eropa. Kebanyakan obyeknya manusia, wanita, dan telanjang dada 😀 Buat yang imannya gampang terguncang ngga usah masuk sini deh. Kalau anak-anak sih mereka liatnya selewat ya dan tau itu seni, tau dulu orang Asia pernah begitu (karena ternyata ngga cuma Bali yang dulu wanitanya telanjang dada) dan itu bagian dari sejarah manusia. Kalau soal teknik lukisan saya paling bego dah urusan ini, tapi lukisannya hampir realistis semua kok, jadi jelas yang digambar apa. Ada satu lukisan Barong karya pelukis Bali, kalau diliat dekat kaya coretan cat biasa berbagai warna. Tapi saat kita melihat dari jauh wih ternyata berbentuk barong yang lagi pentas. Emang hebat ya otak kanannya pelukis, bisa membayangkan jadinya kaya apa dan bagaimana mewujudkannya.

Koleksi selain lukisan adalah patung dan topeng-topeng serem dari Polynesia. Jadi inget ornamen yang ada di Tintin dan Lucky Luke, karena isinya kaya topeng dukun yang kerjanya manggil hujan, atau totem tempat mengikat sandera, senjata kayu. Yang bagusnya lagi selain penataannya rapi dan nyeni, toilet bersih, ada halaman dan balkon yang instagramable banget. Meski saya males main instagram foto-foto di luar wajib dilakukan. Gedungnya juga bagus bikinnya, kelihatan terang karena ada jarak antara langit-langit dan tembok (seperti ventilasi) jadi cukup pakai fan gantung sudah ngga panas. Hemat listrik dan yang pasti lebih ramah lingkungan. 

Pas mau pulang baru diminta mengisi buku tamu dan sama mbak ramah yang bertugas menyambut tamu, jual tiket dan mungkin jaga cafe itu, saya diminta untuk menuliskan pengalaman di Tripadvisor. Pulang juga dikirimi email thank you dan ngingetin lagi soal Tripadvisor itu. Mau nulis eh kok mesti di aplikasi, dan ngga yakin deh kalau ngga punya akun apa bisa. Jadinya tulis disini aja deh, semoga ada yang tertarik dan bisa mengunjugi Museum Pasifika.

Email dari Museum Pasifika


***

IndriHapsari

Advertisements