Sastrainment #7: Sir Arthur Conan Doyle, Dokter Yang Menjadi Novelis

Satu-satunya genre novel yang membuat saya bertahan membaca, adalah novel misteri. Tentu misterinya bukan suster ngesot atau hantu-hantuan lain, namun ada kasus yang harus dipecahkan. Dan pemecahan kasusnya bukan atas kecerobohan penjahatnya, namun karena kecerdasan tokohnya.

Yang menarik dari novel bergenre misteri ini, mereka menggunakan kalimat-kalimat yang efektif, yang satu dengan lainnya saling berkaitan. Hingga kadang saya harus kembali membaca halaman-halaman awal, untuk mencocokkan dengan penjelasan yang baru muncul belakangan. Mengikat pembaca untuk mengikuti dari awal sampai akhir itu sulit, apalagi yang tidak melibatkan rasa atau feeling seperti novel Sherlock Holmes.

20131220-010752.jpg

Sherlock Holmes yang diciptakan oleh Sir Arthur Ignatius Conan Doyle menjadi salah satu tokoh detektif favorit saya, selain Hercule Poirot yang diciptakan Agatha Christie. Sosok Holmes yang dingin, angkuh, hobi menilai karakter seseorang namun tidak hobi terlibat dalam hubungan pribadi, membuat jalinan cerita bertumpu pada kekuatan karakter dan plot yang kuat.

20131220-011056.jpg

Doyle sendiri adalah seorang dokter. Ia sempat bekerja di angkatan darat dan laut Inggris, setelah menyelesaikan kuliahnya di Universitas Edinburgh pada tahun 1881. Sosok Holmes sendiri muncul dari kekagumannya terhadap dosennya, dokter Joseph Bell yang memiliki kekuatan diagnosa yang tinggi. Ia bisa menangkap detil, membuat deduksi dan membuat diagnosa dari semua bukti yang ada. Sang dosenpun dapat menjelaskan alasannya, dan ternyata semua menjadi begitu sederhana.

Tokoh Holmes sendiri banyak mengambil karakter dan penampilan sang dosen. Doyle senang mencatat segala hal yang menarik minatnya, dan kelak catatannya itu yang ia gunakan untuk memperkuat cerita yang ia tuliskan. Karena Holmes tidak dapat menceritakan dirinya sendiri, maka diciptakanlah sahabatnya yang setia, yaitu Dr. Watson, yang menceritakan kisah petualangan Holmes dari sisi ‘aku’.

Jika pada awalnya Doyle menciptakan kisah Holmes sebagai bagian dari kesukaannya untuk menulis dan telah dimuat dalam berbagai media dan jurnal, akhirnya ia meninggalkan praktik pribadinya untuk fokus dalam penulisan kisah petualangan Sherlock Holmes. Pada awalnya karyanya ini pernah ditolak karena pada tahun 1886 pasar dibanjiri dengan fiksi murah, namun akhirnya ada juga penerbit yang tertarik untuk menerbitkannya.

Doyle memperlakukan setiap kisah petualangan Holmes sebagai karya yang harus sama baik dengan sebelumnya, atau ia tidak akan pernah menuliskannya. Karya tersebut harus menarik bagi penulisnya, agar dapat menarik juga bagi orang lain. Ia memicu diri agar mampu menghasilkan karya yang tidak memaksakan jalan ceritanya, namun sudah mempersiapkannya dengan baik di awal, sebelum menuliskannya.

Namun Doyle sempat jenuh juga. Ia sempat ‘membunuh’ detektif kesayangannya, yang idenya ia dapatkan saat berjalan-jalan ke air terjun di Swiss. Langkah yang memicu kemarahan penggemar Holmes, yang mengirimnya surat dengan kalimat pembuka ‘Kau kurang ajar!’ Tokoh Holmes memang sudah merasuk ke pikiran penggemarnya, sehingga mereka sulit membedakan fiksi dan realita. Doyle sering mendapat surat untuk Holmes, dokter Watson, dan tawaran kasus untuk dipecahkan.

Satu pertanyaan menggelitik yang ditanyakan para penggemarnya adalah, karakter Doyle sendiri seperti apa? Seperti Holmes, atau Watson? Menjawab pertanyaan ini, Doyle mengatakan ‘Seorang lelaki tidak mungkin mengeluarkan suatu karakter dari dalam kesadarannya sendiri dan membuatnya begitu hidup, kecuali ada beberapa kemungkinan bahwa dia memiliki karakter itu di dalam dirinya. Hal yang berbahaya bagi saya, yang menciptakan begitu banyak karakter penjahat, dalam fiksi saya.’

Hahaha, good answer Mr. Doyle!

***
IndriHapsari
Referensi : 7 Favorite Stories of Sherlock Holmes
How to Think Like Sherlock Holmes
en.wikipedia.org/wiki/Arthur_Conan_Doyle
Gambar : wikipedia.org

Serial Sastrainment : sastra infotainment

Sastrainment #1: Lord Byron, dan Kisah Cintanya yang ‘Juara’
Sastrainment #2: H. C. Andersen, Mengubah Kelainan Seksual Menjadi Dongeng Terkenal
Sastrainment #3: A. S Laksana, Penulis Yang Tukang Protes
Sastrainment #4: Joko Pinurbo dan Tahilalat
Sastrainment #5: Selalu Ada Selma untuk Gibran
Sastrainment #6: Wiji Thukul, Penyair Yang Diburu Serdadu

Advertisements