Sastrainment #5: Selalu Ada Selma untuk Gibran

gibran1

Kahlil Gibran, sebagai sastrawan idola saya, ternyata menyimpan kepedihan yang mendalam tentang cinta pertamanya. Jatuh cinta pertama kali pada usia 18 tahun pada Hala Dahir, yang berakhir tragis karena orang tua Hala tidak setuju. Akhirnya Hala menikah dengan pria yang dijodohkan oleh orang tuanya, dan meninggal dalam usia muda.

 

Gibran menggambarkan sosok Hala ini pada tokoh Selma Karamy pada bukunya Sayap- Sayap Patah. Pada kata pengantar pada buku tersebut, terdapat ungkapan perasaan untuk menggambarkan besarnya cinta Gibran pada Selma. Sejak saat pertemuan, terluka saat dipisahkan, dan meratap saat ditinggalkan untuk selamanya. Namun yang menarik adalah kutipan ini :

 

Dalam kehidupan setiap pria muda ada “Selma” yang muncul tiba-tiba, di musim semi kehidupan dan mengubah kesendiriannya menjadi saat-saat bahagia dan mengisi kesunyian malam-malamnya dengan musik.

 

Aneh ya, betapa Gibran yang hidup di tahun 1900-an dapat menggambarkan kondisi yang berlaku untuk selamanya. Akan ada seorang wanita yang hadir memporakrandakan hati seorang pria.

 

Ketika kisah cinta ini berakhir tragis dan Selma meninggal, Gibran mengungkapkannya sebagai berikut :

 

Oh, teman-teman dari masa mudaku yang tersebar di kota Beirut, ketika Anda melewati kuburan di dekat hutan pinus, masuklah diam-diam dan berjalan perlahan-lahan sehingga langkah kaki Anda tidak akan mengganggu tidur orang mati, dan berhentilah dengan rendah hati pada makam Selma, dan menyapa bumi yang membungkus mayatnya dan menyebutkan namaku sambil menarik napas dalam-dalam dan berkata kepada diri sendiri,

 

“di sini, semua harapan Gibran, yang hidup sebagai tawanan cinta dalam lautan, dikuburkan. Di tempat ini ia kehilangan kebahagiaannya, terkuras air matanya, dan lupa senyumnya. ”

Hmm…bayangkan kalau ada yang mencintai kita sebegitu rupa. Dan bayangkan juga rasanya kalau cinta yang baru tumbuh, sudah terbayang kelak akhirnya bakal berakhir tragis seperti Selma dan Gibran.

Anyway, betapapun remuk redamnya perasaan kita karena cinta, tetap kisahnya menarik untuk diikuti, untuk dibagi, dan untuk dijadikan inspirasi bagi banyak orang.

 

Sayap Sayap Patah

Wahai Langit

Tanyakan pada-Nya

Mengapa dia menciptakan sekeping hati ini..

Begitu rapuh dan mudah terluka..

Saat dihadapkan dengan duri-duri cinta

Begitu kuat dan kokoh

Saat berselimut cinta dan asa..

Mengapa dia menciptakan rasa sayang dan rindu

Didalam hati ini..

Mengisi kekosongan di dalamnya

Menyisakan kegelisahan akan sosok sang kekasih

Menimbulkan segudang tanya

Menghimpun berjuta asa

Memberikan semangat..

juga meninggalkan kepedihan yang tak terkira

Mengapa dia menciptakan kegelisahan dalam relung jiwa

Menghimpit bayangan

Menyesakkan dada..

Tak berdaya melawan gejolak yang menerpa…

Wahai ilalang…

Pernah kan kau merasakan rasa yang begitu menyiksa ini

Mengapa kau hanya diam

Katakan padaku

Sebuah kata yang bisa meredam gejolak hati ini..

Sesuatu yang dibutuhkan raga ini..

Sebagai pengobat tuk rasa sakit yang tak terkendali

Desiran angin membuat berisik dirimu

Seolah ada sesuatu yang kau ucapkan padaku

Aku tak tahu apa maksudmu

Hanya menduga..

Bisikanmu mengatakan ada seseorang di balik bukit sana

Menunggumu dengan setia..

Menghargai apa arti cinta…

Hati yang terjatuh dan terluka

Merobek malam menoreh seribu duka

Kukepakkan sayap-sayap patahku

Mengikuti hembusan angin yang berlalu

Menancapkan rindu….

Disudut hati yang beku…

Dia retak, hancur bagai serpihan cermin

Berserakan ….

Sebelum hilang di terpa angin…

Sambil terduduk lemah….

Ku coba kembali mengais sisa hati

Bercampur baur dengan debu

Ingin ku rengkuh…

Ku gapai kepingan di sudut hati…

Hanya bayangan yang ku dapat….

Ia menghilang saat mentari turun dari peraduannya

Tak sanggup ku kepakkan kembali sayap ini

Ia telah patah..

Tertusuk duri-duri yang tajam….

Hanya bisa meratap….

Meringis..

Mencoba menggapai sebuah pegangan..

gibran2

Advertisements