Pohon-pohon Sesawi: Cerita dari Romo Mangun

image

Gara-gara aplikasi iJak, buku-buku yang biasanya ngga saya lirik di toko buku, jadi iseng saya bukain sinopsis dan testimoninya. Kalau komennya OK, baru dah saya unduh. Dan penulis sekaliber Romo Y. B. Mangunwijaya ngga luput dari filter pembaca-sok-tau ini.

Awalnya bingung bacanya, karena buku yang terdiri dari belasan bab ini ceritanya ngalor ngidul soal kehidupan di paroki, gereja lan sapanunggalane soal Katholik. Ya mulai dari ketua lingkungan, sesama Romo, pastor, frater, suster, sampai aneka jemaat. Jika minat saya membaca semula untuk mengetahui ada apa saja di per-Katholik-an, akhirnya menjadi kekaguman atas isi bukunya begitu selesai membacanya.

Buku ini disunting setelah Romo Mangun wafat, dikumpulkan dari draft tulisannya yang masih berupa ketikan manual penuh coretan, dan disunting oleh Joko Pinurbo. Ia mengalami kesulitan saat menyambung berbagai tulisan Romo. Bab-bab di buku ini tidak saling nyambung, jadi seperti cerpen tanpa plot, dikategorikan oleh Gramedia sebagai novel. Sigh, sampai sini aja bikin iri karena sudah naskahnya ngga mateng, penerbit sekaliber Gramedia mau bersusah-susah menyebarluaskannya.

Tapi emang dasar saya ngga ngeh siapa Romo Mangun, cuma sempat ingat beliau disebut Burung Manyar, saya membaca judul buku tersebut di PULUHAN BUKU yang ditulisnya. Bukan hanya buku teologi, tapi juga novel dan buku teknik. Malah kayanya saya mesti cek buku Fisika Bangunan yang ada di rak buku saya di kantor, jangan-jangan itu juga Beliau yang nulis wong ada di daftar buku-bukunya. Hal ini terkait dengan S2 Beliau di bidang teknik, sedang S3nya di Human Interest. Wiiih….hebaaat….

Kalau cerpennya, isinya kaya orang cerita tentang latar belakangnya, kehidupan sehari-hari, dan berbagai peristiwa. Meskipun yang diceritakan adalah Romo Yunus, rasanya kok cerita Romo Mangun sendiri ya, atau paling ngga Romo lain yang sangat dekat dengan Romo Mangun. Habis detail banget dan unik, ngga jarang juga bikin saya senyum-senyum.

Ada kisah latar belakang Romo Yunus, yang sejak kecil jadi bahan sindiran kakak-kakaknya, tapi adik yang paling ngga pinter inilah yang jadi Romo. Ada orang tua yang ngikut agama anak-anaknya, ‘biar bisa bareng di surga’. Ada jemaat yang jor-joran ngasih sumbangan ke gereja, karena saingan. Ada juga drama Natal dadakan yang jadinya malah saling sindir.

Tak jarang Romo Mangun menyelipkan kisah serius, misal pembangunan gereja yang terabaikan, gara-gara ijin tak keluar karena ‘orang Indonesia begitu kreatifnya sehingga muncul berbagai alasan’. Lagu lama, dan itu fakta. Umat akhirnya menggelar misa di halaman gereja, yang dibilang oleh Romo Doyo, Romo paling senior, sebagai ‘kandang domba’. Atau pertanyaan Romo Yunus ke suster, sedihkah ia saat berperan sebagai Maria, yang bisa menggendong anaknya sendiri, karena suster di Katholik tidak boleh menikah? Dijawab bahwa ia lebih sedih lagi jika memperhatikan anak-anak yang hadir ke dunia, tapi tidak ada yang memelihara. Disinilah tugasnya untuk merawat anak orang lain.

Kisah serius tapi terasa ringan dan lucu muncul saat perjodohan terjadi di gereja. Dibuka dengan pengandaian pohon-pohon untuk menggambarkan karakter dan tampilan tokoh-tokohnya, muncullah tokoh Lusi yang aktif di kegiatan gereja, tomboi kekar, dengan Gembong, frater muda kurus kecil yang memimpin grup ibu-ibu dengan Lusi di dalamnya, sebagai satu-satunya perawan. Awalnya sebel sama Lusi yang kritis, eh akhirnya malah si frater ini berani melamar dan nengundurkan diri jadi calon pastor. Berbagai pertentangan muncul, karena Lusi dianggap ‘merebut milik Tuhan’. Lusinya sendiri menjawab santai, ‘Buktinya sampai saat ini saya belum tersambar petir, berarti Tuhan merestui.’ 😀 Atau ibu-ibu yang gemas, kok malah Lusi yang dapat, bukan putri-putri mereka 😀

Romo Yunus yang mendukung hubungan mereka, wanti-wanti agar mereka berdua menjaga kesucian sampai pernikahan. Dijawab sama Lusi, mantan frater itu sudah ‘mencoba beberapa kali, mungkin karena kebelet’. Ampuuun 😀 ‘Tapi berakhir setelah saya jepit lehernya sampai dia megap-megap.’ Aduh…sampai ngakak bacanya 😀

Romo Mangun juga menceritakan orang-oramg fanatik yang keaktifannya sangat membantu gereja, namun juga perlu diadem-ademin biar ngga sensian. Yeah dimana-mana emang yang berlebihan itu ngga baik. Akhirnya setelah membaca 138 halaman di buku ini, saya jadi lebih tahu Katholik itu bagaimana, serta kerjasama antara pengelola dan dengan jemaat yang membuat suasana lebih gayeng dan bersahabat.

***
IndriHapsari

Advertisements