Sastrainment #3: A. S Laksana, Penulis Yang Tukang Protes

20130203-174115.jpg

Salah satu kolumnis favorit saya adalah A. S Laksana, yang tulisannya rutin saya ikuti setiap hari Minggu di salah satu surat kabar nasional. Sejak ada Kompasiana malah lebih parah lagi, saya menyempatkan membaca koran HANYA untuk kolom yang diasuhnya.

A. S Laksana adalah sastrawan, pengarang, kritikus sastra, dan wartawan Indonesia yang dikenal aktif menulis cerita pendek di berbagai media cetak nasional di Indonesia. Laksana pernah menjadi wartawan Detik, Detak, dan Tabloid Investigasi. Selanjutnya, ia mendirikan dan mengajar di sekolah penulisan kreatif Jakarta School.

Kenapa saya tertarik dan sampai kepincut untuk mengikuti terus artikelnya?

Pertama, karena ia baik. Ia punya banyak pengetahuan, wawasannya luas, tapi mau membaginya dengan pembaca macam saya yang nol putul (Indonesia: sama sekali tidak paham) dan yang tidak terlalu peduli dengan politik, sejarah dan peristiwa-peristiwa besar di dunia. ‘Jauh ini’ pikir saya dulu. Namun Laksana berhasil menyampaikan informasi tersebut dengan caranya.

Berarti saya harus masuk yang kedua. Laksana bisa menyampaikan semua hal yang terkesan njlimet (Indonesia: rumit) dengan cara penyampaiannya yang sederhana.. Alih-alih menggunakan istilah asing atau ilmiah, menggunakan dialog filosofis agar terkesan cerdas, ia sering menggunakan metafora, atau secara tidak langsung. Memang sih bakal ada multitafsir, tapi dengan cara tersebut, karya akan bertahan lama.

Misalnya ia bisa menggunakan karya Shakespeare yang lampau, untuk menghubungkannya dengan kejadian masa kini. Nilai-nilai yang terkandung dalam karya kuno tersebut, ternyata masih relevan dengan situasi sekarang, bahkan dengan perbedaan ruang.

Yang ketiga adalah saya selalu mendapatkan sesuatu yang baru dari karyanya. Maklum deh, banyak sekali karya tulis yang bertebaran di sekitar kita, baik fiksi maupun non fiksi, dunia nyata ataupun maya. Maka seperti selektif saat memilih buku yang akan saya beli, saya juga perlu selektif membaca artikel yang ada. Saya teringat kata-kata Sujiwo Tejo untuk Ajie Prasetyo, komikus favorit saya,

‘Jika karyamu tidak beda dengan komik-komik kebanyakan, apa yang bisa kudapatkan dari membacanya? Aku ngga tambah sugih’

Jadi, itulah sebabnya saya menjadi pembaca rutin artikel Laksana, karena tulisannya membuat saya tambah sugih (Indonesia: kaya).

Keempat, ternyata ia penulis fiksi juga!

Awal perkenalan saya dengan tulisan Laksana adalah dia suka sekali ‘ngomelin’ pejabat negara, dengan caranya. Jadi ada metaforanya, sehingga membuka mata saya…’oooo, begitu to!’. Sudah dapat pengetahuan, menambah pemahaman atas situasi yang terjadi. Saya pikir ia penulis artikel yang nyinyir, kerjanya protes mulu. Ternyata, basicnya adalah penulis fiksi. Bahkan, kumpulan cerita pendeknya yang berjudul Bidadari yang Mengembara terpilih sebagai buku sastra terbaik 2004 versi Majalah Tempo. Meskipun saya tidak satu selera dengan fiksi yang dibuatnya, namun penghargaan itu, dan dimuatnya karya-karya fiksinya di media nasional, sudah cukup meyakinkan saya atas kualitasnya.

Atas kompetensi tersebut, ia juga sering membagi di blognya tentang segala sesuatu tentang menulis, termasuk menerbitkan buku tips menulis cerpen dan novel. Kadang ia menjadi kritikus sastra dengan memakai karya yang sudah dimuat di media sebagai studi kasusnya. Jadi sebab keempat, ia adalah penulis fiksi dan non-fiksi, dan di kedua bidang tersebut dia sama hebatnya.

Mungkin karena itu saya jadi terpengaruh ya, ingin menjadi penulis dengan dua kaki berdiri di pijakan yang berbeda. Ngga apa kan? Asal ngga terjengkang saja :D.
(Indonesia:..eh..ini sudah bahasa Indonesia ya?)

Serial sastrainment (sastra + infotainment) lainnya:
Sastrainment #1: Lord Byron dan Kisah Cintanya Yang Juara
Sastrainment #2: H. C. Andersen, Mengubah Kelainan Seksual Menjadi Dongeng Terkenal

***

Sumber gambar: http://www.winternachten.nl
Referensi :
id.wikipedia.org/wiki/A.S._Laksana
as-laksana.blogspot.com

Advertisements