Imperium : Novel Politik Robert Harris

Satu keheranan saya, jika novel seperti Imperium ini akan menarik minat saya, seperti semua novel yang bergenre misteri-petualangan-sejarah, kenapa ya cerita yang saya tulis ngga jauh-jauh dari orang-orang galau gagal move on, yang selesai baca pembaca akan melupakannya saking ngga berkesannya. Ckckck…padahal umpannya sudah begitu bagus…ikannya yang ngga dapat-dapat.

Belum lagi resiko saya akan dimarahi Bung Hatta!

Masih muncul dalam ingatan saya, nasehat Bung Hatta untuk Meutia Hatta dan anak-anaknya atas buku-buku koleksinya. ‘Jangan dilipat, jangan dicoret, jangan dikotori.’ Itu kiat Beliau untuk menjaga bukunya tetap mulus dan bertahan lama, hingga jadi satu perpustakaan Bung Hatta.

Sementara saya suka sekali menandai buku. Maklum otak ini ngga mampu mengingat apa persisnya bagian atau kalimat-kalimat yang menurut saya satu pencerahan, dan stress sendiri ketika merasa pernah membacanya, tapi lupa di halaman berapa dapat menemukannya. Maka yang terjadi, saya menandai buku itu dengan pensil, pulpen, stabilo, bahkan kalau tak ada alat tulis yang bisa saya temukan, pensil alis! Kalaupun itu tak ada, maka mulailah proses melipat ujung halaman dimulai.

Dan itu hanya terjadi bagi buku-buku yang asyik, seperti karya Robert Harris ini.

Sebelumnya saya sudah terkesima dengan cara dia mengemas 2.000 literaturnya untuk menjadi novel Pompeii. Maka tak heran karyanya bagai nyata, melempar saya ke jaman sebelum Masehi, menyusuri Italia, dan mengikuti petualangan sang tokoh. Cara yang sama ia lakukan untuk novel Imperium, pun dengan bukti-bukti sejarahnya, dan menyelipkan Julius Caesar muda nan ambisius di dalam ceritanya.

image

Penampakan bukunya akhirnya seperti ini, terlipat ujungnya, di banyak halamannya. Sebagian karena kondisinya relevan antara kejadian di Roma kala itu dan perpolitikan Indonesia saat ini. Sebab lainnya karena kalimat-kalimatnya begitu inspiratif, dan saya ingin memindahkannya menjadi tulisan, agar gampang saya akses.

Imperium bercerita dari sudut pandang Tiro, budak Marcus Tullius Cicero yang berambisi mendapatkan gelar konsul di pemerintahan Roma. Kala itu Roma sangat ekspansif, menaklukkan negara-negara di sekitarnya, menjajah Yunani, dan kekuatan berada pada dua kubu, poilitik dan militer. Tiro sendiri bertugas sebagai pencatat, dan ia telah mengembangkan sistem stenografi, menggantikan kata dengan lambang, dan ada 4.000 lambang yang diciptakannya. Kegiatan Tiro mencatat ini, yang nampaknya sepele, menjadi ending yang manis dalam novel Imperium. Lainnya adalah kisah Tiro mengamati sepak terjang tuannya.

Cicero muda, enam belas tahun, sudah merasa perlu untuk meningkatkan kemampuannya berpidato dengan berguru pada ahli-ahli pidato di seluruh Roma. Ia membawa Tiro untuk mendampinginya, termasuk saat kuliah. Tiro menjadi teman diskusinya, sekaligus menyemangatinya saat down. Cicero gagap, dan ia merasa itulah hambatannya jika ia ingin terjun ke politik. Namun Cicero memiliki kombinasi angkuh, cerdas, dan mempunyai tekad yang kuat. Itulah yang menjadi bekalnya saat berhadapan dengan para politikus Roma yang sama saja dengan di Indonesia, tidak semua bersih dan bermain cantik. Cicero juga berlatih olah tubuh tiap hari, karena ia menjaga penampilan sebagai orang yang berwibawa. Ia juga gemar menonton drama, dan menjelma menjadi aktor yang ulung di tiap pementasan orasi politiknya. Dalam usia 42 tahun ia sudah menjadi konsul atau wakil resmi suatu negara. Rindu rasanya mendapatkan tokoh yang all out seperti ini di dunia politik. Bung Karno bisa dijadikan contohnya, dan saya yakin Beliau tidak begitu saja mendapatkan kharisma yang begitu dikagumi rakyatnya.

Cicero juga tidak bisa mengandalkan ayahnya, karena ia bukanlah keturunan aristokrat, politikus, ataupun jendral yang membanggakan. Ia berusaha keras, meskipun diejek ‘orang baru’, ia mampu menangani persoalan-persoalan pelik. Berbeda dengan anak-anak orang terkenal lainnya, yang ternyata berleha-leha di ketiak ayahnya atau garis keturunannya. Sounds familiar, eh?

Banyak yang berusaha menjegal Cicero, senator muda yang cemerlang, tapi golongan idealis karena meski awalnya ia melakukannya untuk kepentingan dirinya, tapi ia menempatkan posisi sebagai pembela rakyat kecil. Berjuang melawan kesemena-menaan, anti suap, memainkan skenario untuk dia atau Pompeius Agung, sang jendral besar, dan menanggapi dengan mual seluruh adegan penyiksaan.

Penduduk Roma jaman itu berusaha menjadikan diri sebagai warga negara eksklusif kelas dunia. Namun karena itu pula mereka berhak untuk menyalib para tawanan, menguburnya hidup-hidup, menenteng penggalan kepala musuhnya sambil keliling kota, atau melakukan penyiksaan lainnya, yang berakhir dengan pemenggalan. Di tengah situasi penuh intimidasi itu, Cicero harus berjuang melawan ketidakadilan.

Novel ini juga memperlihatkan, betapa rapi Roma mengatur pemerintahan. Sistem republik disempurnakan, sistem Pemilu diciptakan. Kisah pembelian suara, pengajuan tokoh dan persekongkolan mewarnai novel ini. Dewan rakyat atau tribunpun, dipenuhi oleh wakil-wakil yang bisa disuap, berpihak sana-sini, dan tidak semua punya kemampuan jadi orator yang ulung. Orator yang ulung selain bisa menjiwai kata-katanya, ia pun harus melihat timing, kapan waktunya bicara dan kapan waktunya diam, karena olok-olok biasa terjadi. Dan percayalah, itu semua berlaku pada siapapun, tak peduli keturunan bangsawan, jendral besar, atau politikus ulung.

Anyway…mari kita simak kalimat-kalimat yang sudah saya tandai.

  • Tiro mengisahkan dirinya dulu adalah budak ayah Cicero, dan ia dipinjam Cicero untuk mendampinginya kemana-mana. ‘Pada akhirnya, seperti buku yang amat bermanfaat, aku tidak pernah dikembalikan.’
  • Molon, guru orator Cicero memberikan tips dan quote, ‘tak ada yang mengering lebih cepat daripada air mata.’ dan ‘Yang membosankan hanyalah kesempurnaan.’
  • Cicero menghadapi dilema untuk mendukung siapa. ‘..lalu akan menghadapi mimpi terburuk politikus: keharusan memberikan jawaban jujur.’
  • Cicero mengecam konspirasi si ambisius dan si jahat. ‘Jabatan konsul diminta dan diberikan di bawah ancaman pedang. Kita sedang menyaksikan awal keruntuhan republik ini.’
  • Cicero diancam cerai oleh istrinya, karena ia sedang stress menghadapi masalahnya. ‘Kegagalan adalah bahan bakar seorang lelaki.’ ‘Ketekunanlah, dan bukan kejeniusan yang mengantarkan manusia ke puncak.’
  • Cicero menolak janji Pompeius Agung. ‘Kita sudah sering melihat orang-orang seperti itu di senat-beranjak tua, menunggu janji-janji yang hanya separo dipenuhi.’
  • Cicero mengomentari Lucius, sepupunya yang filsuf dan menurutnya terlalu idealis. ‘Dia menyangka politik merupakan perjuangan demi keadilan. Politik adalah profesi.’
  • Tiro menceritakan kisah kedua, melompat beberapa tahun berikutnya. ‘Tak ada bacaan yang lebih membosankan daripada kebahagiaan.’
  • Cicero mengeluhkan ikut terjunnya militer dalam politik. ‘Itulah masalahnya Tiro, kalau orajurit memutuskan ikut bermain politik. Dalam bayangan mereka, mereka hanya perlu mengeluarkan perintah, dan semua orang akan patuh.’
  • Tiro mengingat pepatah lama. ‘Bahwa terkadang orang harus memulai pertempuran untuk mengetahui cara memenangkannya.’
  • Tiro mengamati lawan politik Cicero yang kaya raya. ‘ dan saat itu aku memahami satu hal penting tentang para pengusaha yang cerdik-bukan keganasan terus menerus yang menjadikan mereka kaya (sebagaimana tanggapan orang banyak), tetapi juga kemampuan bersikap murah hati bilamana perlu, secara tak terduga dan tanpa batasan.’
  • Lawan politik Cicero menyadari kekayaannya bukanlah tujuan, namun sarana mencapai tujuan.
  • Cicero menyatakan perlu untuk mempelajari sejarah. ‘Tidak mengetahui apa yang terjadi sebelum kau lahir, berarti kau akan selalu menjadi kanak-kanak. Karena apalah nilai hidup manusia, kecuali jika hidup itu terjalin dengan hidup para leluhur kita, melalui catatan sejarah?’
  • Cicero, menghadapi undian yang tidak bisa ia kendalikan. ‘Kau dapat bermuslihat sesukamu di politik, tetapi pada akhirnya semua bergantung pada peruntungan.’
  • Kesenjangan yang begitu besar antara prajurit biasa dan jendralnya. ‘Kemelaratan prajurit biaaa ini dikontraskan oleh Gabinius dengan kekayaan besar sang komandan aristokrat itu,…’
  • Istri Cicero melahirkan seorang putra setelah lama menunggu. ‘Ketakutan tak terucap yang menggayuti semua persalinan-takut nyeri, kematian, dan cacat-sirna, dan sebagai gantinya ada mukjizat kehidupan yang segar ini.’
  • Nasib teman Cicero, yang ditinggalkan orang yang didukungnya. ‘Dari sosoknya, kita dapat memetik pelajaran peringatan tentang apa yang terjadi dalam politik jika seseorang terlalu bergantung pada kebaikan orang penting.’
  • Tiro mengomentari tim kampanye Ceciro. ‘Tak satu hal pun tentang peta pemilih Italia yang tidak diketahui kedua berandal ini: siapa di antara golongan eques setempat yang akan tersinggung jika Ceciro tidak singgah untuk menunjukkan rasa hormat, dan siapa yang harus dihindari; suku dan centuria mana yang paling penting di setiap distrik, dan mana yang paling mungkin mendukungnya; apa isu yang paling diperhatikan warga, dan apa janji yang mereka harapkan sebagai balasan suara mereka.’
  • Harris juga mewarnai novelnya dengan sindiran maupun candaan. Misal ia menuliskan teman baik Ceciro, yang merupakan penganut ataraxia atau kebebasan dari gangguan. ‘Tak perlu disebutkan, dia tidak menikah.’ Atau kesinisannya mengenai kesetiaan dalam politik, ‘Jika kau ingin balas budi, belilah anjing.’ Pun juga pada sinismenya pada tokoh politik yang tak tahu malu, ‘pendeknya, kau ini lelucon, tetapi lelucon jenis terburuk-lelucon yang berlangsung terlalu lama.’
  • Atau saat ia mengomentari agen suap yang biasa bekerja saat Pemilu. Untuk menangkap basah kasua penyuapan, Ceciro sengaja meminta timnya untuk berpura-pura berminat menyuap, agar mendapatkan kisaran besar suapan yang telah dijanjikan lawannya. Agen itu kembali, dengan membawa berita , ‘ …untuk pertama kalinya dalam tiga ratus tahun Roma sudah dipenuhi orang jujur, atau setiap suara yang diperdagangkan sudah dibeli.’
  • Mengenai suap ini, Cicero secara tegas berujar, ‘..warga yang tidak jujur harus diingatkan bahwa hak pilih adalah amanat suci, bukan kupon yang dapat diuangkan setahun sekali…Apakah kita benar-benar mengatakan bahwa orang malang yang takluk pada godaan itu harus lebih dikecam daripada orang kaya yang sengaja menawarkan godaan itu di hadapannya?’
  • Keprihatinan terhadap orang-orang yang tak seharusnya didukung oleh tokoh-tokoh terkemuka, mwmbuat Cicero gemas. ‘Apakah kalian ingin memercayakan perlindungan pada dua orang yang kaudukung menjadi konsul-yang satu tolol, yang lain gila-yang bahkan tak mampu mengelola rumah tangga mereka sendiri, apalagi urusan bangsa?’
  • Ketika para aristokrat itu memberikan suara untuk Ceciro, dan lega karena mereka tak harus berhadapan langsung dengan lawan Ceciro yang bengia, Harris menggambarkannya sebagai ‘seperti membunuh anjing pemburu favorit yang terjangkiti penyakit gila anjing-‘
  • Antara Cicero dan lawan-lawa politiknya, sebenarnya saling mengintai apa yang masing-masing akan lakukan. Yang menarik adalah bagaimana menciptakan strategi tanggapan, yang bisa memberi kemenangan, atau paling tidak posisi jadi satu sama.

Mengingat kampanye paling hitam pada sejarah Indonesia, pada pilres kemarin, ternyata yang semua dilakukan  itu ada dalam sejarah Roma. Intrik antar elit politik menghiasi seluruh novel yang terbagi menjadi dua kisah besar ini. Dan semua pesan pengkritik kebijakan menjadi sia-sia, jika mereka tak berani masuk ke dalam kalangan yang berpengaruh pada suatu keputusan.

***
IndriHapsari

Advertisements