Tante Kaya Sumber Masalah

Gara – gara postingan saya tentang Tante Kaya di Surabaya yang murni cerita tentang SEO, banyak pembaca dan komentar yang masuk terkait dengan artikel tersebut. Bagaimana mereka ujug – ujug bisa sampai di sana? Tak lain karena mereka memang mencarinya, lewat mesin pencari misalnya Google. Dan saya yang ngga gitu ngerti masalah SEO, ternyata telah mencantumkan entah apa dan dimana, yang membuat Google selalu menunjukkan blog saya pada mereka, si pemburu kenikmatan di dunia maya.

Artikel Tante ini selalu menempati tiga besar dari top ten article yang dihitung setiap hari. Berarti kebanyakan pengunjung blog saya…ya emang yang lagi nyari-nyari. Kejadian yang sama saya amati juga menimpa blog lainnya, yang ada unsur Tantenya. Tentu saja setelah membaca artikel tersebut, mereka pasti kecewa. Soalnya ngga ada Tante genit nan nakal membutuhkan layanan mereka.

Masalahnya, ada yang ngga baca.

Sehingga komentar yang bolak balik saya hapus, adalah mereka yang langsung aja mengetikkan, atau menyalin iklan yang mereka tuliskan di blog-blog sebelumnya. Kalau spam sih di WordPress ada Azkimet untuk menyaringnya. Masalahnya mereka ini identitasnya jelas, bahkan tanpa malu-malu mencantumkan nomor teleponnya agar bisa dihubungi. Untuk mereka yang cuma show off aja, masih saya tampilkan komennya sambil diomelin, untuk membaca isi artikel sebelum komen. Ini sih namanya OOTnya ngga tanggung-tanggung, persis Bolot.

20131217-220312.jpg

Fenomena apa yang bisa dikaji dari peristiwa ini?

Bahwa standar moral mereka sudah menghilang. Yang bener aja, bukannya cari pasangan yang sesungguhnya, berusaha meningkatkan kualitas hubungan, dan hidup punya tujuan, ini malah menggadaikan harga diri demi kenikmatan sesaat. Eh iya sih bisa lebih lama kalau berhasil jadi piaraan Tante. Cuma tetep aja, kemana kejantanannya (kiasan) yang biasanya bisa menguasai wanita? Mana tanggungjawabnya untuk membangun keluarga baik-baik bersama wanitanya? Mana harga dirinya yang biasanya gengsi bertekuk lutut di bawah harta sang wanita? Kenapa tidak jengah disebut pria murahan?

Alasan seperti saya miskin, tidak ada kerjaan, sungguh ngga bisa diterima. Yang benar saja, banyak pria yang lebih susah hidupnya, tapi mampu mengangkat tinggi-tinggi kepalanya, untuk tidak mengerjakan pekerjaan yang hina. Banyak pria yang rela berkubang lumpur dan sampah, berada di daerah antah berantah, bekerja di saat orang lain terlelap dalam tidurnya (pokoknya bukan maling). Semua pekerjaan halal, yang membuat mereka bisa tetap bangga membawa hasil pekerjaannya, untuk diberikan pada keluarga tercinta.

Menyedihkan melihat cowok-cowok muda, gagah, masa depan masih terbentang luas, tapi begitu saja menyerah pada kerasnya kehidupan.

Petantang petenteng naik mobil Tante, makan pake uang Tante, atau bergaya dibeliin Tante. Itu sih mau hidup enak, tapi males usaha. Dan karakter seperti ini sih bakal ngegelendot terus ke induk semangnya. Okelah suka sama suka, tapi ingat loh, si Tante ada umurnya, ntar dia yu bye bye duluan, siapa yang mau biayain lagi? Lalu, biarpun sekarang brondong, nanti juga bakal tua. Dan siapa yang mau menyewa pria tua, biar ganteng, tapi ngga ada duitnya?

So sorry kalau keras begini. Janganlah karena kepingin narsis pakai barang bagus, jadi melupakan harga diri. Jangan karena mengincar target seorang Tante, sampai lupa untuk kasihan pada pasangan maupun anak si Tante yang mungkin seumuran dengannya. Jangan juga karena terburu nafsu, jadi meninggalkan moral yang mestinya jadi panduan kita.

Cek lagi tujuan hidup, di waktu yang semakin sempit ini.

***
IndriHapsari

Advertisements