Meributkan Sastra, Penting Ngga Sih?

Ini asli curcol gw, sebagai penikmat dan pengarang cerita. Mau disebut sastra, silakan aja. Karena pada hakekatnya sastra itu kan tulisan. Masalah tulisan gw dianggap kurang mutu trus ngga pantes dibilang sastra, ya silakan. Gw sih nulis suka-suka.

Pertama, yang gw yakini, sastra itu mesti jujur. Jadi itu bener-bener karya kita, dari hasil pemikiran kita, yang kita rangkai dari apa yang ada di hati dan logika. Jangan jauh-jauh dari logika, kalau ngga sastra kita kelihatan ngawurnya. Jadi ngga cuma asal sedih, asal seru atau asal saru, ada pengetahuan di dalamnya.

Kenapa sih, harus saru? Lost in Dolly? Wkwkwkwk..(gambar by cak cuk design)

20121228-113648.jpg

Then lupakan soal copas, ngga bermartabat banget itu. Ambil saja idenya, itu ngga apa. Otherwise, perlu ditanyakan benarkah kita sastrawan, atau lebih jauh lagi, benarkah kita penulis?

Kedua, sastra ngga mesti dialami sendiri. Yang bener aja, misal gw mau bikin cerita abad pertengahan. Asal Einstein udah beresin mesin waktunya, ok deh gw jabanin jadi manusia jaman pertengahan. Tapi berhubung tu mesin belum jadi (semoga aja yang nuntut harus ngalamin sendiri juga sepinter Einstein) ya gw mesti cari sumber lainnya.Literatur, blog atau situs di internet, pengalaman dan pengamatan orang lain, bisa memperkuat detil kita. Mesti ngejalanin dulu? Iya, ntar ya, kalo gw Tuhan.

Ketiga, sastra itu bebas. Gw mau pake teknik apa aja, dibolak balik, dicampur, ya itulah sastra gw. Ala gw. Then kalau ngga setuju, ya bikinlah yang lu setuju. Nikmatin sendiri karya lu. Jadi penulis itu, siap berlayar di samudera kesepian. Bukan cari kepopuleran, dengan mengikuti selera pasar, atau kata teman. Masalah tulisan gw laris, ya itu side effect, public suka dengan gaya gw. Jadi, berangkatnya bukan untuk mencari fans sebanyak-banyaknya, atau mencari kritik sebanyak-banyaknya (emang ada ya yang doyan kritik?) tapi ya nomor satu itu tadi…jujur, emang gw pengen nulis itu.

Then keempat, tetep, sebebas-bebasnya, ada baiknya bebas karena udah tahu yang diatur itu apa. Jadi, karya gw jadi (dicap) aneh gitu, bukan karena ngga tau yang bener gimana, yang sesuai aturan gimana, yang main stream gimana. Soalnya kalo ngga, ntar gw GR, udah nyiptain genre baru. Padahaaal…udah ada! Ih, malu banget! Trus, dengan belajar teori sastra, gw juga terbuka wawasannya, ah, mau coba teknik yang ini. Atau, bisa juga ya kalau kalimatnya diubah kaya gini, lebih mengena.

Kelima, mengenai sastra instant, gw antara setuju ngga setuju. Buat gw yang baru belajar, sastra instant ini asyik banget buat explore kemampuan kita, dan membuat kita produktif. Practices make perfect. Habis itu, barulah bikin tulisan yang rada serius, pake kontemplasi dulu, nyari ide dulu, pake teknik tertentu, sudut pandang tertentu..nah, jadi ngga instant lagi kan.

Terakhir, terima kritik dengan terbuka. Mm..kritik ada yang benar dan salah. Terima aja, biar yang ngritik senang. Masalah diikutin apa kagak, itu hak kita kok. Kalau dirasa ngga sesuai, ya cuekin aja. Ntar ikut kritik sini kritik sana, malah ngga ngenalin karya sendiri. Kuncinya, jangan sombong. Ngga ada tuh karya yang ‘paling bagus’. Yang ada cuma ‘bagus’ dan ‘lebih bagus’. Trus jangan pelit bagi ilmu. Beri dukungan, bukan menjatuhkan, mereka yang baru belajar, coba-coba nyusun cerita.

Karya-karya besar juga awalnya dilecehkan kok. Disalah-salahin. Apalagi di era digital gini, bullying di public media udah biasa. Ngga berani ngadepin sendiri, jadi keroyokan. Benernya mau diskusi, atau ngga berani berpendapat? Trus ngga bisa nyerang tulisannya, jadi nyerang penulisnya. WTH. Untuk kasus kaya gini cuekin aja, bukan kita yang rugi. Hargai kritik yang pintar dan membangun, fokus aja di sana, lainnya, lewatin aja. Bikin karya kita lebih baik lagi bagi kita sendiri dengan terus belajar. Apresiasi, ngga usah dipaksa, nanti juga akan tiba.

(Gw = tuhan di sastra gw)

8 comments

  1. yang menentukakan itu karya sastr atau bukan siapa sih? Bagus tidaknya siapa yang menentukan hehehe…
    Yang paling penting apa yang ditulis dari kedalaman hati dan kejernihan pikiran

      • Meributkan sastra emang nggak penting. Tapi kalo diskusi, itu bagus. Trus saya nggak setuju dengan ” Ambil saja
        idenya, itu ngga apa.” Ide itu mahal dan susah nyarinya bu dosen…. buat saya mencuri ide lebih buruk dari copas. Selainnya setuju.

      • Diskusi means saling membuka diri untuk mendengarkan dan memahami pendapat yang lain. Otherwise sih, bukan diskusi namanya.

        Nah, gimana membuktikan itu ide kita? Skeptis aja, krn produk turunannya bisa macam2. Itu ironi, Roy^^

Komen? Silakan^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s