Sembahyang = Sembah + Hyang?

20130723-202817.jpg

Menarik membaca rubrik Bahasa di majalah Tempo akhir Juli ini, ditulis oleh Rohman Budijanto. Judulnya Sekat Kultural Istilah Agama. Intinya, kosakata antar agama itu ternyata berbeda-beda. Ada yang sama, tapi ada juga yang memilih lebih nyaman pakai apa. Tidak konsisten pula harus pakai serapan dari bahasa tertentu saja misalnya, tapi berpindah-pindah dari bahasa Arab, Inggris, Belanda dan Sansekerta.

Contohnya kata sembahyang, mulai ditinggalkan umat muslim puritan karena konon berasal dari bahasa Sansekerta yang berarti sembah dan Hyang. Hyang adalah sebutan untuk Tuhan bagi agama Hindu. Mau diganti dengan sembahallah kok maksa ya. Jadilah lebih nyaman dengan menggunakan kata sholat atau shalat.

Kalau agama, pahala, dosa, surga dan neraka sepertinya cukup nyaman digunakan para khatib dan dai, dan umat agama lain. Mereka tidak berusaha menggantinya dengan serapan dari bahasa Arab, yaitu dzanbun, itsmun, rijsun, wizrun (dosa), tsawabun dan ajrun (pahala), atau din untuk agama.

Berbeda dengan surga yang disebut dengan jannah atau firdaus, sedangkan neraka disebut naar atau jahannam. Edenpun artinya surga, tapi biasanya dipakai oleh umat kristiani yakni taman eden.

Alkitab sendiri sebenarnya bukan milik orang Kristen saja, karena Al-Quran juga menyebut dirinya sebagai Alkitab (Al-Baqarah: 2). Namun kata ini jarang dipakai, malah kaum muslim menyebut kitab suci orang Kristen sebagai Injil, sementara orang Kristennya sendiri menyebutnya Alkitab.

Jemaah dan jemaat akarnya sama dari bahasa Arab. Namun jemaah biasa digunakan kaum muslim, sedang umat kristiani menggunakan jemaat. Tidak semuanya harus beda. Misal kata persamuhan, dengan variasi pasamuan yang artinya sidang atau kongres, dipakai dalam agama Hindu, Budha dan Kristen Jawa. Nah, untuk kaum muslim biasanya menggunakan kata muktamar, istilah yang juga dipakai oleh organisasi profesional, misalnya Ikatan Dokter Indonesia.

Kata Allah sendiri dipakai bersama-sama oleh umat muslim dan kristiani untuk penyebutan Tuhan, meski pelafalannya beda. Untuk muslim menyebutnya dengan ‘alloh’, sedang kristiani melafalkannya dengan ‘alah’.

It doesn’t matter ^_^
***
indrihapsari
Picture : pinterest.com

Advertisements