Museum M. H. Thamrin, Museum A. H Nasution, dan Museum A. Yani

Jakarta itu gudangnya museum. Makanya sayang banget kalau kesini kerjanya ngemall, la di tiap kota ada kan. Justru museumlah keunikan Jakarta, karena duh beneran deh, sejak dulu Jakarta jadi gudangnya pahlawan nasional.

Awalnya kita ke Museum M. H. Thamrin di daerah Senen, tepatnya di Jalan Kenari. Inget banget karena jalan menuju sana breath taking banget. Bukan karena pemandangan indah, tapi ni Google Map ngasihnya jalan nyelempit, sempit, dan dua arah. Jadi tiap papasan, padahal sama sepeda motor loh, kita harus pelan-pelan supaya ngga diserempet dan menyerempet. Sama mendadak religius, banyak doa moga-moga ngga ada mobil dari arah kebalikan. Jalannya berliku, sampai di suatu titik yang garis birunya berhenti, lah kok jalan buntu 😅 Ternyata jalannya ketutupan bajaj (bayangin!) yang lagi nurunin penumpang. Pulangnya, kita kapok lewat jalan tadi sehingga ambil jalan terusannya. La kok sama aja 😅 Sempit, lebih pendek, tapi lebih rame karena ngelewatin Pasar Kenari.

Siapa M. H. Thamrin? Sy dgn ngaconya bilang, salah satu pahlawan revolusi, karena dua tujuan kami berikutnya memang para jendral yang tewas di lubang buaya (silakan baca disini) Ternyata setelah keliling satu museum yang bentuknya rumah itu baru inget ah iya nama beliau kan dikenal pas masa sebelum kemerdekaaan ya, saat perjuangan diplomatik itu. Karena orang kaya, M. H. Thamrin yang asli betawi ini bisa mengenyam pendidikan yang bagus. Pintar dan berani yang pasti, karena meskipun kalau beliau mau niih…bisa aja beliau bertahan di zona nyaman, kerjasama aja sama Belanda. Tapi ngga, beliau menempuh jalan rumit dan bikin kejepit dengan menyuarakan kemerdekaan.

Tiket masuk dewasa 5 ribu, anak-anak 2 ribu, sudah dapat CD tentang museum tersebut. Isi museumnya foto-foto, peralatan jaman baheula, termasuk alat musik tanjidor, gambang kromong, andong, dan kereta jenasah. Eh mengenai bahasa, ternyata kosakata yang pernah saya ucapkan atau dengar, asalnya dari betawi loh 😊

Museumnya ngga besar, yang bertahan memang yang punya ketertarikan khusus karena praktis kita cuma ngeliatin foto dan tulisan yang ada di bawahnya. Eh ada satu lagi, Ismail Marzuki itu ternyata ganteng ya ☺️ Beliau ada juga tuh fotonya lagi bergaya, kaya di bawah ini.

Ternyata Ismail yang pencipta lagu sooo amazing itu orang betawi asli. Lagunya liriknya indah, easy listening, dan patriotik banget. Gabungan penyair dan pemusik emang maut. Rayuan Pulau Kelapa, Sepasang Mata Bola, Selendang Sutra.,,ah keren-keren lah pokoknya.

Lepas dari museum tersebut, kami ke museum A.H. Nasution di daerah Menteng. Mesti dah kalau ke museum daerah sini daerahnya enak, sepi, rimbun, dan rumahnya gede-gede. Rumah yang jadi museum ini miliknya mertua Pak Nasution. Nyonya Nasution sendiri turunan Belanda karena mamanya dari sana. Masuk museum ini gratis, mau nyemplungin sukarela ada kotaknya. Kalau ditemani pemandu juga ngasihnya sukarela kok. Kebetulan kami dapat pemandu yang ciamik, orang angkatan. Neranginnya detail dan dramatis, sampe anak-anak bengong kalau dia cerita 😄 Wah Ma, coba guru sejarahku kaya gitu, kata anak-anak. Tuh kaaan….pelajaran sejarah itu menarik kok, asal tahu cara menyampaikannya.

Kami jadi ikut merasakan detik-detik pasukan Cakrabirawa memasuki rumah Pak Nasution, menembaki pintu yang tertutup hingga menyebabkan lubang di pintu, meja dan dinding, tubuh Ade Irma Suryani yang bersimbah darah, kisah pelarian Pak Nasution, dan sialnya Pierre Tendean yang disangka sebagai Jendral tersebut. Jadi ceritanya nyerangnya kan subuh ya, ngga nampak yang lagi ditodong senjata di rumah ajudan itu siapa. Pierre sudah bilang dia ajudannya A. H Nasution, tapi pas didengar pasukan tersebut kata ‘ajudannya’ ngga kedengeran, sehingga dikiranya itulah sang jendral. Itu juga yang menyebabkan pasukannya mundur tanpa merangsek lebih jauh, karena mengira misi tercapai.

Eh ngomongin peristiwa penembakan Ade Irma ya, Ibu Nasution itu tegar banget loh. Setelah menerima anaknya yang suddah bersimbah darah dari tangan ibu mertuanya, dia nyuruh suaminya pergi karena tahu yang diincar pasti suaminya. Adegan nutup pintu sehingga diberondong peluru juga karena Ibu yang melakukannya. Trus beliau bisa ke ruang makan, sambil gendong anaknya yang sudah lemas, untuk menelepon Pangdam. Dibentak Cakrabirawa 5 orang yang menodongkan senjata, Ibu mampu menjawab dengan tenang. Ternyata beliau dulu jadi anggota PMI di Bandung Lautan Api, dan disanalah bertemu dengan Pak Nasution.

Rumah Jendral A. Yani yang diserahkan ke negara untuk jadi museum juga besar, tapi kesannya lebih muram. Pantas saja, setahun setelah peristiwa itu ibu Yani dan anak-anaknya yang delapan orang pindah ke sebrang, trauma dengan kejadian yang menimpa ayah mereka. Ibu Yani sempat jualan juga loh untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka. Sekarang semua anaknya sudah mentas, sebagian pengusaha, ada yang jadi dubes juga.

Pemandu membawa kami ke bagian belakang rumah dulu. Oya disini ngga ada biaya masuk, hanya isi buku tamu. Tapi karena ditemani pemandu, silakan ngasih serelanya ya. Setelah melepas sepatu, kami memasuki lantai yang terdiri dari batu-batu kecil. Rupanya pas kejadian hanya ada Pak Yani, pembantu, dan anak-anaknya. Ibu Yani ada di rumah dinas dengan satu ajudan, yang di rumahnya malah ngga ada. Ruang belakang dipilih karena di tempat ini pasukan Cakrabirawa masuk dan meminta pembantu untuk membangunkan Pak A. Yani. Karena pembantu tidak berani, dimintalah anaknya yang kebetulan bangun untuk membangunkan ayahnya. Ayahnya bangun, diminta ikut untuk menghadap Paduka Mulia, mau ganti baju ngga boleh sampe ditonjok tuh yang ngga ngebolehin. Pak Yani ditembak 7 kali, peluru menembus pintu dan lukisan. Jenasahnya diseret dan dilempar ke truk.

(hela napas)

Diceritain lisan gitu aja udah kebayang histerisnya yang liat. Isi ruang belakang adalah foto-foto potongan film G30S/PKI yang dulu wajib tonton itu. Trus ada foto-foto setiap jenasah yang diangkat dari lubang buaya yang kata anak saya, udah ngga jelas bentuknya. Saya sudah ngga berani lihat, karena beda dengan di film, pada kenyataannya ada yang ditembak di kepala 😨

Bagian dalam rumahnya penuh dengan barang hasil pemberian dari rekan-rekan. Ada bar mini tempat Pak Yani menjamu tamu luar negeri. Macannya aja ada 3 hasil lawatan. Kamar tidur Pak Yani dan anak-anak tidak boleh didokumentasi, ya patut dihargai itu peristiwa yang menyakitkan bagi pihak keluarga, kalau disebarkan jadi keinget lagi ya. Meskipun begitu kami mendapatkan satu buku tentang museum tersebut yang ada foto kamar tidurnya.

Berkunjung ke museum pahlawan yang tewas ini memang bikin shocking, terpana, dan merenung. Betapa kejam yang namanya haus kekuasaan, sampe derajatnya lebih rendah daripada binatang. Sorry to say, tapi buat siapapun yang tega menghalalkan segala cara, hidupnya ngga akan tenang baik di dunia maupun di neraka.

***

IndriHapsari

Advertisements