Kesepakatan di Lawang Sewu

Old Building

“Hari sudah gelap!” seru Meneer dengan sedih. Ironis, karena dulu mereka pernah menyambutnya dengan gembira.

Payah sekali memang. Ketika hari gelap lampu-lampu kini menyala sendiri, setelah mereka sukses menakut-nakuti penjaga baru itu agar tak menyalakan lampu setiap jam 6 sore. Entah dengan memainkan saklar lampu sehingga lampu mati-hidup-mati-hidup sendiri selama puluhan kali (yah, setidaknya sampai si penjaga pucat pasi kebingungan), menghembuskan nafas yang dingin ke tengkuk penjaga (dalam hal ini Sairento-san jagonya. Lebih karena alasan praktis saja: tingginya sama dengan si penjaga), sampai membiarkan Kandas menggelindingkan kepalanya. Sengaja, supaya sang penjaga melihatnya. Tidak sia-sia mereka memberi nama julukan kepadanya, karena Kandas singkatan dari ‘Karjo Tanpo Endhas’ (Karjo Tanpa Kepala).

Sebabnya, setelah mereka mendiskusikan bersama mengapa meskipun berbeda bangsa, usia, jenis kelamin dan tahun tewasnya, ternyata mereka punya satu persamaan. Selalu blingsatan kalau berada di bawah sinar yang terang. Tak heran semua punya kebiasaan bak kelelawar. Tidur di siang hari, ndugem di malam hari. Karena dianggap menganggu stabilitas Wilhelminaplein atau Tugu Muda dan sekitarnya, akhirnya dibuatlah peraturan, tiap jam 6 sore hingga 6 pagi lampu haruslah dinyalakan. Tak pelak laporan macam ‘pusing pala Nonik’ langsung mendera kuping Gendi sebagai pimpinan di sana. Gendi alias Genderuwo Gedi selalu tak berdaya jika Nonik Belanda yang cantik ini yang mengeluh manja. Padahal sebelumnya ia marah-marah karena Kandas mengeluhkan hal yang sama. Bisa-bisanya Kandas yang selalu menenteng kepalanya mengeluh pusing. Pusing dari Tembalang??

Maka diputuskanlah untuk melanggar aturan tersebut, sesuatu yang segera dibuat strateginya oleh Meneer Van Leider. Tak salah rupanya selama hidup ia menjabat sebagai kepala Nederlands-Indische Spoorweg Maatschappij atau Kantor Kereta Api. Ada saja ide jenis dan tingkat godaannya, tergantung dari siapa yang bertugas. Penjaga pertama selalu takut dengan bau-bauan (harum, anyir, kemenyan), penjaga kedua sensitif dengan bunyi-bunyian (langkah kaki, suara lokomotif, ketawa Nonik), penjaga yang terakhir ini…yah rupanya ia baru terbirit-birit ketika indra penglihatannya menangkap gelindingan kepala Kandas yang nyengir mendekatinya.

Masalahpun selesailah. Mereka kembali berkumpul di lantai ketiga, lantai paling luas dan bisa menampung mereka semua. Ada saja yang dilakukan, tapi sebenarnya program Gendi tidak berjalan dengan baik. Sairento-san sulit sekali diajak bicara, ia hanya membersihkan sangkurnya, lalu memandang bintang-bintang yang tersembunyi dari balik genting. Ia rindu tanah airnya, tapi tak ada yang ingat dan berusaha membawanya kembali kesana. Nonik Belanda itu selalu dikelilingi para pria, namun ia bertahan tetap setia pada Knap, pacarnya yang tewas saat menjaga Lawang Sewu, namun jasadnya sudah dibawa keluarganya ke Belanda. Sebenarnya batalyon Sairento-sanlah yang menyerbu hingga menewaskan banyak penjaga, termasuk Nonik yang saat itu sedang mengunjungi kekasihnya. Itulah sebabnya sampai saat ini Nonik dan Sairento-san tak pernah bicara, kalau Nonik karena dendam kesumat yang ternyata tak berakhir hanya karena kematian, sedang Sairento-san…yah sudah kubilang kan kalau dia pendiam. Saat jadi manusia saja dia irit bicara, apalagi setelah jadi setan. Kandas selalu berkumpul dengan teman-temannya, orang pribumi yang terpaksa merelakan kepalanya dipenggal saat mereka menjadi tawanan tentara Jepang. Lebih tepatnya mungkin mereka patut disebut ‘Perkumpulan Kepala’ karena kepalanyalah yang diletakkan di meja, saling mengobrol membicarakan masa lalu. Gendi sendiri, yang mencanangkan program keakraban itu malah menyendiri, berdiri saja sambil mengamati rekan-rekannya. Tubuhnya yang tinggi besar memang menyulitkan untuk bisa mengobrol enak dengannya tanpa menyebabkan sakit leher rekan-rekannya karena harus menengadah.

Lalu, keadaan berubah.

Sebenarnya Meneer jugalah yang memperkirakan hal yang buruk ini bakal terjadi. Awalnya karena ia terbangun di siang hari, dengan segala bunyi dan keriuhan yang terjadi. Di lantai tiga, lantai dua, lantai satu, dan setiap balkon terdengar suara tangga digeser, celotehan dalam bahasa Semarangan, dan denting peralatan. Meneer menembus tingkap lantai bawah tanah, tempat mereka tidur tenang, untuk kemudian mengintip dari balik pintu. Ia hanya melihat orang-orang berseragam menaiki tangga, memasang lampu yang lebih besar, kemudian menjulurkan kabel yang harus dipasang. Kenapa semua lampu diganti? Pikiran Meneer mulai terusik.

Untuk memastikannya, ia ingin tahu apakah lampu itu fungsinya sama. Begitu para pekerja beralih dari ruangan dalam ke ruangan luar, ia mencoba menyalakan saklar yang berada di…lo, kemana saklarnya?? Dengan bingung ia melayang ke lampu yang sudah terpasang, benar ada kabel yang terhubung. Tapi bagaimana cara menyalakannya tanpa saklar?

Kebingungan, ia duduk di pojok ruangan. Dipandanginya lampu itu tanpa mengerti. Keriuhan pelan-pelan menghilang, mungkin mereka telah pindah ke gedung sebelah. Hari beranjak gelap, suara dari bawah tanah mulai terdengar. Teman-temannya sebentar lagi muncul.

Tak menunggu lama, mulailah mereka datang dengan cara mereka masing-masing. Kandas selalu muncul setelah kepalanya. Gendi menyusuri lorong-lorong tinggi yang cocok untuk tubuhnya. Sairento-san sama dengan sikapnya yang pendiam, memilih untuk menembus dinding dan mengagetkan rekannya, karena tahu-tahu ia sudah berada di belakang mereka. Mereka keheranan melihat Meneer yang menatap kosong ke atas. Kemudian, ketika mereka bersiap-siap menjalin malam keakraban seperti biasa karena hari makin gelap…tring!! Semua lampu menyala!

Nonik menjerit. Teriakannya sampai menggema ke seantero gedung. Kepala Kandas berhenti berputar, hampir saja ia membentur dinding. Gendi mengeryitkan wajahnya yang sudah berlipat-lipat. Hanya Meneer yang bangkit dengan semangat.

“Ah…aku tahu! Lampu otomatis!” katanya seolah kejatuhan apelnya Newton.

“Maksudnya apaaa??” teriak Nonik masih tidak terima dengan kesilauan ruangan itu.

“Lampu-lampu ini,” jelas Meneer dengan sabar, “tidak memerlukan saklar lagi. Mereka akan menyala sendiri ketika sensornya menangkap ketiadaan cahaya…dan dugaanku…mereka akan mati jika terkena cahaya matahari.”

Nonik menjerit lagi. Sementara ini hanya itu yang bisa ia lakukan, wong ‘otomatis’ saja dia tidak mengerti. Tapi apa yang lebih mengerikan dari lampu yang tidak memerlukan penjaga untuk menyalakannya? Siapa yang akan mereka takut-takuti?

“Kenapa mereka melakukannya…kenapaaa??” kata Nonik mulai drama.

“Sepertinya mereka akan menawarkan jam kunjungan yang lebih lama,” kata Sairento-san akhirnya bersuara. Semua memandang takjub ke perkataan pertama yang keluar dari serdadu Jepang itu. “Aku mendengarnya dari penjaga terakhir sebelum kutakuti dia. Dia mengeluh gara-gara gedung ini boleh didatangi pengunjung hingga jam 9 malam, terpaksa ia harus menyalakan lampu setiap maghrib.”

Semua manggut-manggut, kecuali…ah tentu saja, Kandas dan rekan-rekan tanpa kepalanya. Meneer yang telah kembali dari seluruh ruangan mengatakan, semua lantai kini telah menyala terang. Nonik mulai migren.

“Bagaimana ini, Gendiii…” serunya manja. Gendi yang sedari tadi diam, hanya bisa mengangkat bahu. Dia sih memang gede badan doang, terpilihnya juga karena paling kekar. Tapi soal ambil keputusan, bahkan Kandas yang kepalanya terpisahpun lebih jago.

“Masih ada…ruangan bawah tanah,” usul Meneer. “Setahuku, mereka tidak memasang lampu disana. Bisa kita manfaatkan. Yang tingginya satu meter bisa dijadikan ruang tidur, sedangkan yang dua meter bisa menjadi ruang komunal.”

Nonik mendesah manja. “Bosen dooong…” katanya sambil mengibaskan rambut blondenya.

“Siang hari, kita masih bisa jalan-jalan kok. Misal saat mendung, atau saat matahari belum muncul. Lampu ini pasti ada temponya dia menyala. Saat mereka tidak menyala, kita bisa menjelajahi dunia kita yang makin sempit ini,” kata Meneer dengan agak sedih.

“Lalu, Gendi gimana?” tanya Nonik lagi. Ruang bawah tanah hanya satu dan dua meter tingginya. Gendi ada kali tiga meter.

“Ngga apa Nik, aku bisa jongkok kok,” suara Gendi pelan dan berat, terharu atas perhatian Nonik. Tak peduli bila namanya kelak menjadi GJ alias Genderuwo Jongkok.

***

IndriHapsari

Advertisements