Ready Player One, Karya Jenius Steven Spielberg

Nama Steven Spielberg memang jaminan mutu. Bikin film mesti ngga setengah-setengah dan beyond the imagination. Gini, dengan nulis kita bisa berimajinasi seliar apapun. Tapi untuk mewujudkannya jadi sesuatu yang bisa dilihat, mudah dicerna, tanpa mengurangi kualitasnya itu butuh sutradara yang handal.

Dan Spielberg berhasil melakukannya lagi, dan lagi.

Masih ingat film Jaws kan? Saya ngga, karena ngga pernah nonton 😁 Tapi pas kemaren main di Universal Studio di Osaka, ikut turnya Jaws, asli bikin keinget sampe sekarang. Jadi turnya itu naik kapal dengan seorang pemandu sekaligus sopirnya. Kita berangkat dari dermaga yang penuh dengan musik dan foto, asyik buat nongkrong. Melewati danau yang tenang, sebelum tiba-tiba…huaaa…ada hiu menganga! Ini beneran loh, mulut hiu segede-gedenya ada di samping perahu kita 😅 Trus dimulailah drama dikejar-kejar hiu dan mengebom hiu, dramatis dah pokoknya.

Nah film-film Spielberg seperti itu. Ada Jurassic Park yang sudah tau dong pasti heboh. Atau ET yang alien. Idenya ajaib dan dia mampu mengeksekusinya dengan baik. Ready Player One sendiri berasal dari novel milik Ernest Cline, makanya plotnya bisa rapi. Tapi dengan kepiawaian Spielberg, kayanya jadi ngga penting siapa aktornya, karena keliatannya kalau sama dia everything will be alright.

Ready Player One dibuka dengan keadaan dunia tahun 2045. Kemiskinan tetap ada, sementara orang-orangnya mabok VR (Virtual Reality). Mereka mrmbeli mimpi untuk jadi apa saja dan bertemu di Oasis, permainan yang diciptakan Halliday. Halliday juga membuat teka teki berisi tiga kunci yang akan menuntun para peserta ke harta karun berupa telur paskah. Si Wade dan jutaan orang lain menganggap itu petualangn dan hiburan buat mereka, sedangkan Nolan si pengusaha rakus menginginkan telur yang sama untuk menguasai dunia VR.

Keseruannya berasal dari prosesnya Wade dapat tu telur. Yang berantem Avatar-avatar yang bisa dengan mudahnya bikin robot, ngebut pake motor, ngeberondong peluru dan banyak hal lain yang ngga bisa dikerjakan dengan real actor dan real life. Perasaan sepanjang film isinya seru melulu, dengan tata suara yang berdentum-dentum.

Film ini juga penuh misteri karena Wade harus memecahkan petunjuk-petunjuk yang dia dapat dengan kepintarannya, pengenalannya terhadap pribadi sang pencipta, dan ingatannya yang luar biasa. Meskipun Wade dibantu oleh petugas perpusnya, adalah ide dari Wade yang menyebabkan dia bisa memecahkan misteri, satu demi satu. Kepintarannya juga yang menyebabkan dia cukup pintar untuk menolak rayuan Nolan yang rakus.

Etapi dia pernah khilaf juga sih waktu lagi jatuh cinta. Nama aslinya diberikan disini. Dia senang sama Art3mys yang di virtual kayanya cantik, pas di real ya cantik juga 😁 Yah namanya bikin senang penonton ya, jangan harap orang yang avatarnya cantik ternyata laki 😂

Horornya ada juga, pas salah satu clue mengarah ke film horor lama, The Shining. Tenang, saya juga belum nonton. Tapi isinya adegan itu banjir darah, zombie, dan orang yang bawa kapak. Duh, untung ngga pernah liat 😅

Lucunya banyak dan ngga receh. Kebanyakan dari percakapan bukan adegan yang dilucu-lucukan. Plotnya bisa mengalir lancar dan rapi, trus ituloh plot ceritanya bisa sangat terjaga. Kita tahu dia melakukan itu karena apa, sebaliknya menebak kejadian selanjutnya bukan perkara mudah.

Pesan yang saya tangkap habis ngepoin film ini adalah kelak dunia akan terhubung secara maya, identitas bakal lebih terbuka, dan yang menguasai data itu adalah pemenangnya. Makanya begitu jatuh di tangan yang ngga benar, bisa bubar dunia. Contohnya mereka bisa dengan seenaknya menciduk orang yang ngga bayar hutang ke ruang loyalitas dan dikerjain dengan VR. Hal lainnya lagi, sahabat diperlukan dimana-mana, bisa di maya atau nyata. Keduanya mesti tetap dijaga, karena kalau ngga berjuang sendirian itu cape jendral! 😄

***

IndriHapsari

Advertisements