Catatan Penghujung 2016

capture

Menjelang tutup tahun 2016 ini, rasanya capek dan lelah ya dengan semua pemberitaan terkait politis yang menyeret-nyeret agama, ekonomi, sosial budaya. Itu kaya jaman sebelum Galileo, mengira matahari yang mengitari bumi. Atau semua sendi permasalahan adalah tentang kita dengan semua kekoplakannya.  Padahal ada banyak hal baik terjadi di negeri yang seperti raksasa lagi dikitik-kitik supaya bangun ini. Makanya to ya, jangan terus bermimpi. Kalau ngga kerja ya ngga bakal ada yang dicapai.

Kebiasaan saya setiap akhir tahun adalah meringkas apa yang sudah dilakukan dunia selama kita sibuk berjibaku di negara sendiri (2015 – world’s economics, 2014 – edisi amal, 2013 – penemuan terkeren, 2012 – penemuan terkeren). Sumbernya media luar, karena media sini sepertinya emang tukang bakar-bakar. Tapi sekarang dengan berbekal buku Cendekiawan Berdedikasi 2008 – 2016 terbitan Kompas Gramedia, akhirnya ada juga sesuatu yang baik yang bisa dituliskan karya anak bangsa.

Jadi buku ini berisi kakek-kakek dan nenek-nenek yang prestasinya segambreng, tapi minim pemberitaan apalagi penghargaan. Saya tekankan ke usia lanjut mereka, karena itulah yang namanya dedikasi. Bukan tukang bikin berita singkat dan nyolot untuk meraih popularitas. Ini adalah orang – orang yang puluhan tahun ‘bekerja dalam jalan sunyi’ itu istilahnya, mengaplikasikan ilmunya untuk kemaslahatan umat. Kompas secara rutin memberikan penghargaan kepada para cendekiawan ini setiap tahun, karena…please deh, kalau bukan kita, siapa lagi yang menghargai mereka. Ini orang-orang yang ngga peduli apa mereka bisa menghasilkan materi dari kegiatannya, sesuatu yang langka di Indonesia dimana tiap orang sibuk sama hidupnya sendiri.

Saya ngga kebanyakan opini deh, yang saya tuliskan adalah kata-kata yang akan saya kutip apa adanya karena sudah bagus kok. Dari pengantar editor, kalimat yang saya tandai adalah :

  • Kompas mengembangkan kultur dan infrastruktur demokratisasi sesuai dengan komitmen sejarah pergerakan bangsa Indonesia
  • Facts are sacred, opinion is free (editor Manchester Guardian)
  • Intelektual publik adalah mereka yang mengangkat persoalan publik dan ditujukan ke publik, para intelektual berhati nurani yang merefleksikan persoalan masyarakatnya dalam bentuk tulisan, didasarkan atas mata hati kemanusiaannya (Roberto Mitchels, Intellectual, 1949)
  • Kriteria diperluas dengan mereka yang tekun – metekut, bekerja dalam sepi tidak terpengaruh oleh hingarnya publikasi, melakukan pekerjaan askese intelektual (istilah Prof. Sartono Kartodirjo) selain demi kedalaman ilmu yang diemban sekaligus demi kemajuan masyarakat.

Terus terang di bagian ini saya terdiam lama. Metekut. Sesuatu yang langka dan ngga semua orang punya atau bisa melakukannya. Mereka yang tidak berdiam diri meskipun gelar tertinggi sudah diraih, mereka yang selalu peduli untuk berbuat bagi yang lain. Satu lagi yang mungkin mereka punya, ngga peduli sama kata orang yang mungkin pernah melecehkan mereka atas pendapatnya, pilihannya, sikapnya…karena yang mereka lakukan adalah sesuai prinsip kuat yang mereka anut, bukan disetir oleh arus orang banyak.

  • Tugas utama cendekiawan (versi Antonio Gramsci) adalah mencari kebenaran yang semakin tercampur aduk dengan tujuan politis pragmatis merebut kekuasaan dewasa ini. Pencerahan yang mereka lakukan, lewat tulisan, ketekuanan dalam melakukan penelitian, dan pernyataaan, tidak boleh tidak bersinggungan dengan kekuasaan, modal dan kebudayaan. Sikap kritis yang mereka sampaikan secara tidak langsung menjadikan mereka guru-guru masyarakat bahkan para pengambil keputusan publik.
  • Dan dalam kondisi karut marut, keprihatinan moral dan kecemasan masa depan, menghadapi perubahan serba cepat, merekalah pendamping masyarakat. Mereka keluar dari tembok (penyekat) dan sikap arogansi ilmiah, menyampaikan hasil refleksi, mengajak berpikir waras, dan secara tidak langsung menyebarkan virus menyehatkan sesuai anjuran penyair Horatius, sapare aude (beranilah tahu).
  • …mereka menjadi mercu suar untuk berani tahu, berani berbicara dan terus belajar berdemokrasi tanpa meninggalkan tata karma keilmuan dan sopan santun masyarakat. Merekalah para cendekiawan yang mengembangkan tugas pokoknya mencari dan menemukan kebenaran (search for the truth), berbeda dan kadang tercampur dengan tujuan politisi memburu kekuasaan (search for power), berbeda pula dengan tujuan utama pengusaha, yaitu mencari keuntungan.

Fiuh baru baca tulisan editor, St. Sularso saja sudah bikin kagum, orang-orang seperti apa sih yang dibahas disini, sampai mengabaikan power dan profit? Mereka pasti orang-orang yang pintar dan berkarakter, berani memutuskan dan bersuara. Pintar aja ngga cukup. Pintar kalau suka manipulasi data (apalagi video:P), menyembunyikan kebenaran, diem aja karena takut dibungkam, ngga akan membuat bangsa ini jadi lebih baik. Ah senang rasanya kita masih punya orang-orang  berdedikasi tinggi semacam ini.

Rasa terima kasih tak terhingga pada Pemimpin Umum Harian Kompas, Jakob Otama yang mencetuskan ide ini sejak tahun 2008. Membawa angin segar pada kondisi bangsa yang…haaah…rasanya kok skeptis terus versi situs abal-abal dan orang-orang yang lebih kepingin negaranya hancur demi kepentingan ego semata.  Kata Beliau :

  • … kita bisa menyontoh sikap hidup sederhana, sikap total 100 persen dalam melakukan pekerjaan dan kewajiban sebagai cendekiawan.
  • Bekerja tidak boleh setengah-setengah. Ukurannya norma, menghargai waktu, pandai memegang uang, percaya satu sama lain yang makin besar.
  • Asketisme intelektual merupakan komitmen yang menjadi kebajikan dan sikap hidup.

Atau mungkin bisa disimak kata Sambutan dari Pemimpin Redaksi Kompas, Budiman Tanuredjo.

  • Bagi Jakob, jurnalisme bukan soal berani dan tidak berani, bukan sekadar menggebrak meja, melainkan menyajikan fakta dengan argumen yang meyakinkan.
  • Jurnalisme Kompas sampai kapan pun tidak akan meledak-ledak.
  • Menghibur yang papa, mengingatkan yang mapan.
  • …jurnalisme Kompas selalu mengedepankan critic with understanding karena there is no angel in the world.
  • Jakob Oetama menekankan prinsip Kompas fortiter in re sed suaviter in modo (teguh dalam perkara tetapi lentur dalam cara)
  • Wartawan Kompas selain harus turun ke lapangan dituntut untuk aktif mewawancarai para narasumber untuk memperkaya laporan jurnalistik mereka.

Baca 18 halaman awal saja sudah menambah wawasan saya soal kosakata, prinsip pekerjaan yang keren, dan pentingnya untuk adu otak daripada otot (termasuk otot mulut dan jempol).  Ngga sabar rasanya untuk kenalan dengan oma opa yang luar biasa ini. Seandainya ada yang saya tulis banyak quotenya, ada yang dikit, semata-mata karena keterbatasan saya dalam mencerna isi. Semua tokoh yang namanya tercantum disini keren-keren dan ahli di bidangnya. Makanya…beli dong bukunya 😀 (gayane…padahal saya ya dikirimi Hamba Allah :D) Yuk kita lanjuut…

Penghargaan tahun 2008

  1. Mudaham Taufik Zen (77)
  • Geolog, pengajar di ITB, pendiri jurusan teknik Geofisika ITB, bekerja di perusahaan asuransi memperkirakan dampak gempa terhadap infrastruktur suatu kota.
  • Menulis berbagai masalah sosial dan sastra, menyukai sastra filsafat musik klasik bahasa dan olahraga. Aktif naik gunung, beda diri aikido, menyelam, dan renang tujuh kilometer seminggu dua kali. Menguasai bahasa Inggris, Belanda, Jerman, Prancis dan Jepang.
  • Menulis enam buku dan ratusan karya ilmiah di jurnal-jurnal ilmiah.
  • “Menulis itu menjadi kebutuhan.”
  • “Indonesia bisa menjadi negara yang gagal jika tidak bisa survive di tengah kultur baru abad ke 21.” Segala sesuatu akan bersifat maya, misalnya modal maya dan industri maya.
  • Masalah internal : kesalahan dalam pengelolaan lingkungan alam dan kegagalan sumber daya insani. Misalnya sistem pendidikan Indonesia gagal menciptakan manusian berkarakter, yaitu yang punya harga diri, kebanggaan diri, berani bertanggung jawab dan punya etika. Kondisi ini diperparah dengan merebaknya korupsi dengan cara yang tidak konvensional serta dalam jumah yang besar. “Karena itu pemberantasannya pun harus dengan cara yang tidak konvensional. Jika perlu, dengan potong lehernya sebagai shock therapy.”
  • Indonesia harus dipimpin oleh orang yang berkarakter, punya keberanian mengambil tindakan, punya inisiatif daam pembangunan serta memiliki visi jauh ke depan.
  1. Satjipto Rahardjo (79, meninggal tahun 2010)
  • Dengan menulis di surat kabar, akademisi bisa membagi pengetahuannya ke publik yang luas, tidak terbatas seperti pada jurnal ilmiah. Sudah 367 artikel yang ditulisnya, beserta sejumlah buku karya sendiri.
  1. Sajogyo (85, meninggal 2012)
  • Profesor, Bapak Ilmuwan Indonesia.
  • Dasar pemikiran pembangunan pertanian dan pedesaan serta membina kader peneliti untuk memperkuat pembangunan di awal pemerintahan Orde Baru serta sikap hidupnya. Konsep penentuan batas garis kemiskinan dengan menghitung pendapatan setara beras, usaha perbaikan gizi keluarga, serta program inpres desa tertinggal merupakan kebijakan pemerintah yang mengadopsi gagasan Sajogyo.
  • Sajogyo adalah pelopor pengembangan aktivitas penelitian sosial ekonomi pertanian dan pedesaan di Indonesia.
  • Sajogyo tidak setuju dengan pemberikan BLT yang dinilai tidak memandirikan. Seharusnya pemerintah melakukan program seperti inpres desa tertinggal yaitu memberikan modal kerja agar penduduk miskin mampu meningkatkan pendapatan dari pencarian nafkah. Sajogyo menganjurkan adanya badan perencanaan pembangunan di tingkat kabupaten. Ia membuat proyek percontohan di Sukabumi.
  • Ia berjuang memberantas kemiskinan dan tidak menggunakan kemiskinan untuk mencari kekayaan atau kedudukan.
  • Sajogyo Institute adalah lembaga yang melakukan penelitian dan pendampingan penduduk miskin di Indonesia dalam peningkatan keterampilan serta permodalan melalui kredit mikro.
  1. Soetandyo Wignjosoebroto (82, meninggal 2013)
  • Semangatnya yang energik serta gagasannya tentang demokrasi, keadilan dan hukum terus bergulir. Misalnya menyadarkan pengungsi akan hak mereka dan cara memperjuangkannya. Konsisten menggenjot sepeda, baik ke kampus, ke bank atau belanja ke mall.
  • Karut marut di negeri ini akibat terlalu banyak yang mengurusi hal besar saja. Mereka melupakan memperbaiki hal kecil. Demokrasi misalnya, harus dimulai dari family, democracy on the heart of family.
  • Syair Kahlil Gibran : Tuhan menciptakan malam, tapi saya bisa menyalakan lilin. Dunia boleh gelap, tapi lingkungan sekitar saya tetap terang. Dunia saya yang kecil tetap terselamatkan.
  1. Thee Kian Wie (79, meninggal 2014)
  • Peneliti dan pengajar bidang sejarah ekonomi dan perkembangan industri. Pensiun dari LIPI tahun 2000, tetap sibuk menulis dan mengedit beragam buku dan jurnal ilmiah. Mendapatkan doctor honoris causa dari Australian National University.
  • “Bergaul dengan orang-orang tua itu membosankan, yang dibicarakan hanya penyakit, sedangkan orang muda masih bicara tentang masa depan.”
  • “Kita mempelajari sumber-sumber pertumbuhan ekonomi pada suatu masyarakat di masa lalu, sekaligus memahami apa yang terjadi pada kelompok-kelompok penduduk di dalamnya melalui sejarah ekonomi.
  • Kini justru terdapat kegamangan dalam menarik dan mengelola modal asing di Indonesia.

Penghargaan tahun 2009

  1. Maria S.W. Sumardjono (73)
  • Orang yang suka bekerja keras, menjunjung tinggi tenggat dan disiplin. Membaca buku karya sastra, berkebun dan menonton film, menerbitkan hasil penelitiannya menjadi buku yang bisa berguna bagi masyarakat luas. Kerja keras artinya setelah memilih itu harus all out. Menyampaikan pendapat harus obyektif – rasional , tetapi juga harus mempunyai empati. Antara yang di hati dan kepala itu nyambung, cara penyampaian menjauhkan subyektivitas sejauh mungkin.
  • Agenda permasalahan mendesak adalah harmonisasi atau sinkronisasi peraturan perundang-undangan terkait sumber daya alam, yaitu tanah, air, hutan, tambang dan lain-lain. Terdapat ketimpangan dalam akses untuk perolehan dan pemanfaatan SDA dan terdesaknya hak-hak masyarakat adat serta masyarakat lokal terhadap SDA yang merupakan ruang hidupnya. DIperlukan kebijakan yang dapat memperkecil perbedaan posisi tawar antara investor (domestik maupun asing) dan masyarakat pada umumnya. Hak-hak rakyat atas tanah dan pemanfaatan SDA yang lainnya itu dapat dilakukan melalui program Pembaruan Agraria. Intinya adalah restrukturisasi penguasaan dan kepemilikan SDA (asset) disertai dengan pemberian peluang (akses) terhadap permodalan, peningkatan pengetahuan dan keterampilan sumber daya manusia.
  1. Kartono Mohamad (77)
  • Tulisannya kritis dan tajam. Mungkin ada pihak yang tersinggung. Namun, contoh-contoh di lapangan serta data-data yang dipaparkan dalam tulisan itu sulit dibantah. Persoalan yang rumit bisa dipaparkan secara sederhana sehingga mudah dimengerti pembaca. Cita-citanya sejak awal memang ingin meningkatkan derajat kesehatan masyarakat secara menyeluruh.  Ia ingin pemerintah memberi perlindungan kepada warga negara sejak dalam kandungan hingga orang tua (healthy people in every stage of life) serta memberikan perlindungan kesehatan kepada masyarakat dimanapun ia berada (healthy people in healthy places).
  • Kunci persoalannya adalah tidak jelasnya arah pembangunan kesehatan Indonesia. Pembangunan bidang kesehatan tidak pernah dianggap sebagai investasi untuk membangun kualitas sumber daya manusia. Pembangunan kesehatan yang memprioritaskan upaya preventif atau pencegahan penyakit, bukan malah memfokuskan diri pada upaya kuratif dengan memperbanyak pendirian rumah sakit. Kartono juga mengkritik tidak adanya lembaga pengawas yang mengoreksi kalau ada kesalahan dalam pelayanan kesehatan.  Kartono menilai pemerintah dengan sengaja menyerahkan kepada pasar.
  1. Liek Wilardjo (77)
  • Guru besar Universtias Kristen Satya Wacana Salatiga lewat sosok cendekiawan yang utuh dan interdisipliner.
  • “Saya berkecimpung dalam dua kategori, yakni spesialisasi (fisika dan matematika) dan beberapa bidang lain di luar spesialilsasi, yaitu filsafat ilmu, bahasa keilmuan, etika, sedikit telaah lintas agama, dan pendidikan sains.” Ia dihargai karena menstandardisasi istilah-istilah fisika dan pandangan-pandangannya tentang ilmu yang normatif.
  • “Saya tidak berniat menulis otobiografi karena tidak ada capaian yang perlu dibanggakan dalam hidup saya.”
  • Bangsa ini potensinya besar tapi nasionalismenya masih kurang. Lalu, kesadaran tentang tanggung jawab pada masyarakat (civic duty) itu tipis sekali, soal moral amburadul. Lalu juga Iptek kita sangat tertinggal.
  • Perlu dlakukan swasembada pangan dan pakan. Energi yang memberat ke energy yang terbarukan. Harus ada pergeseran dari sisi pasok ke sisi penggunaan akhir. Peningkatan efisiensi dan penghematan serta konservasi. Perlu digarap MRT.
  • Nasionalisme yang didorong dengan kebanggaan nasional.
  • Yanng menciptakan harus orang yang punya karisma, yang punya wibawa, dan punya kekuasaan.
  1. Saparinah Sadli (89)
  • Perjalanannya yang panjang dan penuh, teguh, dan kukuh, adalah perpaduan antara “kebetulan-kebetulan yang bermakna”, dorongan teman, sahabat serta suami, dan kehendak untuk terus belajar dan bekerja.
  • Setiap orang akan terus berubah sebelum meninggal. Selama dia mau belajar, tak ada kata berhenti.
  • Bu Sadli adalah pembawa pelita. Kadang berjalan di belakang untuk menerangi. Kadang di depan untuk membuka jalan, kadang di tengah untuk mengingatkan.
  • Banyak yang sudah dilakukan, tetapi masih banyak pula yang harus dilakukan. Yang harus dicermati adalah politisasi identitas, termasuk penggunaan simbol-simbol agama untuk memecah belah perempuan.
  1. Sjamsoe’oed Sadjad (85)
  • Profesor Emeritus di Institut Pertanian Bogor, ahli benih, pikirannya menyentuh berbagai aspek pertanian: sosial, ekonomi dan politik. “sebagai ilmuwan, saya teknolog, tetapi pikran saya yang divergen tidak dibatasi tembok laboratorium.”
  • Petani perlu memiliki mental sebagai industriawan agar dapat meningkatkan sendiri kesejahteraannya dengan memproses hasil pertanian untuk mendapat nilai tambah.

Penghargaan tahun 2010

  1. Adnan Buyung Nasution (81, meninggal 2015)
  • Kepeduliannya kepada mereka yang tersisih.
  • Jabatan itu kesempatan berbuat kebaikan, sesuai dengan kebenaran yang abang yakini, baik secara rasional, ilmu maupun keyakinan.
  • Pertama dedikasi yang menyangkut pengabdian pada tujuan hidup. Mereka dididik bersama untuk memiliki filosofi yang sama, mempunyai landasan, etika dan moral yang kuat.
  • Ayah hanya akan meninggalkan tiga hal, satu, otak, dalam arti ilmu yang harus dikejar sekuat-kuatnya. Kedua, karakter, moral dan etika. Ketiga, keimanan. Otak itu…semuanya bisa diasah dan bisa tajam. Namun, otak dan ilmu tak bermata. Yang bermata itu hati nurani. Dari hati nurani itulah karaktermu. Mau jadi orang baik atau orang jahat, tergantung nuranimu.
  • Kalau semua orang sudah menyerah, siapa lagi yang mau peduli dengan negara ini? Harus ada satu atau dua orang yang terus bersuara.
  1. Bambang Hidayat (82)
  • Kepala observatorium Bosscha ITB selama 31 tahun
  • Etiknya melarang dilakukannya : fabrikasi (mengarang cerita), falsifikasi (pemalsuan data), dan plagiat (menjiplak karya orang lain).
  • “Mahasiswa mestinya bisa mengajukan argumen ilmiah untuk menguatkan pendapatnya agar orang lain paham. Bukan memaksakan kehendak dengan menggunakan otot.”
  1. Mely G. Tan (86)
  • Ia dianugrahi Nabil Award 2009 atas jasanya mengembangkan proses pembangunan bangsa Indonesia melalui penelitian, penerbitan karya-karya ilmiah, dan memberikan aktivitas lain yang memberikan pencerahan kepada publik.
  • “Orangtua harus membuat anak perempuannya mandiri, tidak tergantung sama laki-laki kalau menikah, bukan karena kekhawatirannya ditinggal suami. Kemandirian memberikan kekuatan dan kepercayaan diri kepada perempuan untuk menghadapi apa pun yang mungkin terjadi.”
  • Punya otoritas mengambil keputusan, tetapi tidak digunakan karena dipenjarakan kepentingan.
  1. P. Soejono (85, meninggal 2011)
  • Justru pada hari tuanya dia tetap sibuk, seperti menulis artikel dan memeriksa disertasi mahasiswa dari dan dalam luat negeri.
  • Tentara Belanda yang menangkapnya bingung karena Soejono pandai berbahasa Belanda. Tentara tersebut akhirnya membebaskan dia. “Tentara Belanda itu menganggap saya mungkin orang penting sehingga tidak berani membunuh saya. Saya pun selamat. That was the best year of your life.”
  • Soejono menilai bagi mahasiswa ingin melanjutkan studi mengenai Indonesia sebaiknya mengambil kuliah di dalam negeri, bukan di luar negeri. “Akarnya ada di sini. Mengapa tidak mempelajari dari akarnya langsung disini.” Justru penelitian tentang obyek tersebut harus terus dikembangkan. Banyak kepurbakalaan di Nusantara yang perlu penelitian lebih lanjut. “Negeri ini membutuhkan banyak arkeolog.” Tidak banyak bangsa yang memiliki sejarah begitu kaya dan lengkap. Indonesia sangat beruntung karena memilikinya. Indonesia memiliki manusia purba. Kepurbakalaan klasik Hindu-Budha begitu banyak
  1. Sediono M. P. Tjondronegoro (88)
  • Terjadi perpindahan cepat dari masyaarakat desa yang berpegang pada adat, ke organisasi masyarakat modern. Situasi diperburuk modernisasi ekonomi yang terlalu cepat ketika masyarakat didorong ke dunia konsumtif. Masyarakat saat ini kehilangan pegangan moral dan hukum. Seharusnya rakyat diberi aset, yaitu tanah dan laut yang merupakan modal pokok kita.
  • Di sisi lain, masih banyak hambatan pembangunan yang sekarang tidak lagi berencana seperti zaman Order Baru. Yang dibutuhkan rencana jangka panjang.

Penghargaan tahun 2011

  1. Jakob Sumardjo (77)
  • Pengamat sastra yang begitu sabar dan telaten memberikan berbagai catatan pada sejumlah karya novel maupun cerpen.
  1. Sitti Leila Chairani Budiman (74)
  1. Arsjad Anwar (80)
  • Ia mengkritik dengan sangat halus, tak meledak-ledak. Ia hanya mempertanyakan data itu. Ia dijuluki “Statistik Berjalan”
  1. Mochtar Naim (83)
  • Tutur sapanya lembut dan santun. Sangat bersahaja. Kontras dengan kalimat-kalimat dalam tulisannya yang tajam menukik, atau kisah para sahabat tentang dirinya yang dikenal lugas saat membahas fenomena sosial budaya di berbagai forum diskusi.
  • Bahwa hidup adalah untuk bekerja, bukan bekerja untuk hidup!
  1. Sayidiman Suryohadiprojo (89)
  • Salah satu penyebab kekacauan ini adalah kurang dirasakannya adanya kepemimpinan yang teguh, yang dapat dijadikan teladan. Saat ini, kejujuran dan korupsi sudah kehilangan nilai.
  • Sayangnya, alam yang bersahabat menjadikan orang Indonesia cenderung manja, segala seuatu maunya cepat, gampang dan selalu mencari jalan pintas.
  • Mendiang Jenderal Soemitro mengatakan, di Indonesia orang pintar itu banyak, tetapi mencari orang pintar yang berkarakter itu sangat susah.

Penghargaan tahun 2012

  1. Daoed Joesoef (90)
  • Pembangunan nasional itu meningkatkan kehidupan manusia (to enrich man) dan itu tidak hanya dalam artian materi.
  1. Mochtar Pabotinggi (71)
  • Semua negara tidak bisa tegak terhormat tanpa penegakan hukum.
  1. Mona Lohanda (68)
  • Penyebabnya elite penguasalah yang membuat Indonesia bisa dikuasai pihak asing.
  • Sekarang ini banyak orang di dunia arsip hanya sekadar pegawai kantor arsip. Sayang sekali, padahal mereka bisa menghasilkan banyak tulisan hingga buku dari arsip yang setiap hari mereka geluti. Arsip pula yang membuka pintu pengetahuan mengapa negeri ini bisa lemah karena kesalahan kebijakan pemimpinnya!
  1. Surono (61)
  • Cita-citanya ketika itu adalah menerapkan teknik fisika untuk memantau perilaku gunung berapi.
  • “Kita punya gunung api terbanyak di dunia, tetapi alat pemantauan dan tenaga ahlinya sangat minim.”
  • “Saya sedih jika sampai ada korban jiwa pasca-peringatan yang dikeluarkan. Berarti saya gagal meyakinkan warga pada kondisi bahaya yang ada dan meminta mereka untuk mengungsi.”
  1. Julie Sutardjana (94)
  • Bekerja dan berkarya adalah ibadah. Kenikmatan yang datang dari kerja keras menjadi konsekuensi, bukan tujuan.
  • Kerja keras, jujur, setia, selalu positif, dan memberi yang terbaik adalah kualitas yang membuat Julie Sutardjana menjadi dirinya saat ini.
  • Saya terus baca supaya tidak pikun dan kalau ada orang bicara saya ikut mengerti, tidak bengong.

Penghargaan tahun 2013

  1. Ahmad Syafii Maarif (81)
  • Dalam kehidupan bersama sebagai bangsa, tak boleh ada satu pihak pun yang merasa paling benar. Suara terbanyak dalam demokrasi bukan berarti membolehkan tindakan sewenang-wenang atas nama mayoritas. Inti demokrasi adalah perlindungan, kesetaraan, dan keadilan bagi yang paling lemah, yang lambat dan yang tak mampu lagi menapak.
  • ‘liyan’, bersaudara dalam perbedaan dan berbeda dalam persaudaraan dengan ketulusan.
  1. Benyamin Mangkoedilaga (79, meninggal 2015)
  • Hakim itu harus tabu terhadap suap.
  1. Budi Darma (79)
  • Tulisan (dokumen) adalah sumber pembelajaran generasi berikutnya. Tanpa tulisan, kebudayaan tidak akan maju. Kita bisa belajar karena ada tulisan. Menulis membiasakan seseorang dengan literasi (kemampuan membaca). Literasi akan mengajarkan kita membuat rencana dengan baik. “Menulis mendorong kita merencakan segala sesuatu. Bagaimana tulisan dibuat dengan ekonomisasi kata, bagaimana tulisan disusun dalam ruang yang ada, dan bagaimana tulisan itu akan diarahkan.
  1. Karlina Supelli (58)
  1. Salahuddin Wahid (74)
  • Jika ada hal mengusikmu, bertanyalah. Sebab dari pertanyaan akan lahir pengetahuan. Namun, terus bertanya tanpa berbuat apa-apa, itu sia-sia. Jadi lebih baik setelah bertanya, berbuatlah. Itu jauh lebih berguna untuk semua.
  • Bersikap jujur, anti kekerasan, dan bersih. Membiasakan mereka menerima, mengenal, dan toleran dengan perbedaan. Sehingga saat ada bisikan radikalisme dan anti-perbedaan, mereka tidak mudah dihasut.
  • Persoalan utama bangsa adalah lemahnya penegakan hukum, hukum hanya garang pada orang miskin dan tumpul bagi orang berada; birokrasi berbelit yang hanya tunduk pada uang; pendidikan yang tidak memintarkan; serta ekonomi yang tidak menyejahterakan.

Penghargaan tahun 2014

  1. Franz Magnis-Suseno, SJ (80)
  • Meski negara cukup toleran dan kebebasan beragama masih ada, sikap negara yang membiarkan kekerasan memperlemah fungsi negara hukum. “Ini membuat kelompok-kelompok yang penghayatannya kepada Tuhan dianggap sesat menjadi rentan, padahal seharusnya mereka dilindungi oleh negara.” Implikasinya adalah tidak boleh ada yang diskriminasi berdasarkan keyakinan religius.
  • Mencari pemimpin yang dengan tangan keras berjanji akan membereskan. Tanpa peduli lagi latar belakang pemimpin itu.
  • Budaya kekerasan masih luas dalam semua dimensi.
  • Budaya yang selalu menekankan keselarasan, tahu diri, dan sepi ing pamrih sebenarnya tidak membantu memecahkan konflik. “Bagi masyarakat yang dinamis, sikap-sikap itu tidak memberi solusi.” Masyarakat dalam situasi dinamis perlu mekanisme sosial untuk memecahkan persoalan. Dulu pluralitas berjalan karena orang Indonesia paham keberagaman. Sikap tahu diri mungin membantu, tapi persaingan yang keras mudah menyulut kecurigaan. Muncul intoleransi, muncul kekerasan. “Kita masih harus belajar konflik manajemen dengan zero tolerance pada kekerasan.”
  1. Eko Budihardjo (70, meninggal 2014)
  • Community planning tidak diperhatikan. Padahal dalam membangun kota semestinya manusia manusia yang didahulukan. Bukan hanya perencanaan di bidang fisik, melainkan memikirkan pula perencanaan masyarakatnya (community planning) serta perencanaan ekonomi, sosial, dan budaya kota.
  • Beban Jakarta harus dikurangi. Perkembangannya ke arah polycentric development. Pusat pertumbuhan dan pusat kegiatan masyarakat disebarkan.
  • “Ilmu dan professional, itulah kaki kiri dan kaki kanan.”
  • Salah satu kunci bica terus mengembangkan diri adalah tidak kikir kepada mahasiswa. Tidak kikir membagikan ilmu dan juga tidak kikir memberikan nilai. “Dengan demikian mahasiswa yang sudah luuls akan mengingat dan membantu kita mengembangakn diri dan mengembangkan ilmu.” Tidak kikir memberikan nilai, bukan berarti menurunkan standar dan kualitas pengajaran. Mahasiswa yang mendapatkan limpahan cinta, perhatian dari dosennya pasti dapat belajar dengan baik. Dapat menyerap setiap ajaran yang disampaikan di kampus.
  • Learning to kow, learning to do, learning to be, dan learning to live together. “Learning to love each other.”
  1. Radhar Panca Dahana (51)
  • Kebudayaan harus dijaga demi masih tegaknya marwah manusia dan realitas sebagai socius atau bangsa.
  • “Manusia maritim, itulah jati diri sesuangguhnya bangsa ini.”
  1. Sulastomo (76)
  1. Sulistyowati Irianto (56)
  • “Universitas berada di garis depan pengembangan tradisi memuliakan kemanusiaan.” Universitas harus selalu terbuka terhadap dialog, sebagai tempat ideal bagi komunikasi ilmu pengetahuan dan pengembangannya, melalui riset dan inovasi. Produksi dan reporduksi ilmu pengetahuan secara signifikan ditentukan arahnya oleh sumber daya pendidik berkualitas dan perpustakaan digital tanpa batas ruang.

Penghargaan tahun 2015

  1. Ayzumardi Azra (61)
  • “Dunia kampus adalah dunia yang sepi, soliter, bukan dunia riuh-rendah. Di kampus saya bisa mengkritik secara obyektif. Kalau saya di struktur partai atau lainnya, mungkin saya tak obyektif dan ada konflik kepentingan.”
  • Azra menjelaskan Islam Indonesia bukan lahan subur bagi radikalisme. Sebab aliran-aliran itu terlalu literal, kering, dan keras bagi banyak muslim Indonesia yang senang mempraktikkan Islam yang berbunga-bunga (flowery).
  • Aktualisasi Islam yang inklusif jarang ditemukan di dunia, kecuali di Indonesia. Islam Indonesia tidak memiliki peristiwa sejarah yang membebani. Dalam konteks masyarakat plural, seharusnya ditemukan berbagai kesamaan yang mesti ditonjolkan, bukan malah mencari perbedaan-perbedaannya. Apalagi konflik berbasis agama memiliki implikasi yang amat dahsyat dan daya destruktifnya sangat kuat.

37. Prasetyantoko

  • Semakin jelek tata kelola kelembagaannya, kemungkinan krisisnya juga semakin tinggi.
  • Saat ini, masalah yang dihadapi Indonesia adalah dinamika nilai tukar yang sangat memengaruhi perekonomian, baik dari sisi korporasi maupun riil.
  • “Saya ada dalam lingkungan yang secara sederhana mengajarkan agar heterodoks, tidak ortodoks.”
  1. Sri Moertiningsih Adioetomo (73)
  • Cost of no action akan membuat ledakan penduduk usia kerja tak mengarah pada jendela peluang. Oleh sebab itu mereka harus diberdayakan dengan pekerjaan layak, bisa menabung dan diinvestasikan. Dari satu sisi pemerintah harus menyediakan lapangan kerja, dibarengi pengendalian jumlah penduduk melalui revitalisasi Program Keluarga Berencana (KB), program-program kesehatan dan pendidikan berperspektif jangka panjang, menyeluruh, dengan pendekatan siklus kehidupan (life cycle approach). ” Sementara dari sisi permintaan, tenaga kerja kita harus dilengkapi academic skill, termasuk bahasa Inggris, technical skill dan terutama soft skill.”
  • Kesenjangan itu mencakup terutama kemampuan berbahasa Inggris, kepemimpinan, solusi masalah, kreativitas, penghitungan yang tepat, dan technical skill lainnya.
  • Praktik budaya yang berpotensi menghambat selurut syarat kemajuan : perkawinan usia anak, yang menyebabkan tinggianya angka kematian bayi dan anak balita dan angkat kematian ibu terkait kehamilan. “Ini kan menyangkut public cost dan beban pemerintah.”
  • Pendidikan yang mendorong orang berpikir jangka panjang dan untuk kepentingan luas menjadi penting.
  1. Yonky Karman
  • Siapapun yang mengupayakan kesejahteraan kota atau negeri tempat dia tinggal secara tidak langsung ia mengupayakan kesejahteraan dirinya.
  • Seandainya Pancasila dibaca dengan urutan terbalik, wajah Indonesia kita akan lain.
  1. Yudi Latif (52)
  • Dia mencoba mengilmiahkan Pancasila dari sisi system berpikir, menjawab tantangan dari sisi keyakinan, pengetahuan dan tindakan.

Penghargaan tahun 2016

  1. Faisal Basri (57)
  • Kerangka teori merupakan bentuk normatif suatu pendapat atau pernyataan. Oleh karena itu, harus diperkuat dengan data sebagai bentuk empiris. “Data tidak punya partai, data tidak punya kepentingan, data tidak akan menggapai sesuatu.”
  • Negara yang berhasil keluar dari perangkap kelas menengah naik menjadi negara berpendapatan tinggi.
  • Dua titik krusial perjalanan negara-negara yang sudah diobservasi : pendidikan dasar dan menengah, setidaknya hingga tingkat sekolah menengah atas, dan peranan barang yang dibuat menggunakan teknologi terhadap total ekspor.
  1. Ignas Kleden (68)
  • “Pendidikan kita tidak mengajarkan orang untuk berpikir, tetapi untuk tunduk pada kekuasaan.”
  • “Pendidikan kita masih mendidik seseorang untuk taat pada kekuasaan, bukan untuk taat pada akal sehatnya.”
  1. Mayling Oey-Gardiner
  • Pemerintahan Orde Baru di Indonesia berupaya menekan laju pertumbuhan penduduknya untuk mengejar pertumbuhan ekonomi. Di masa itu, peningkatan kesejahteraan memungkinkan dilakukan dengan menghambat kelahiran. Angka fertilisasi menurun dan pengurangan kemiskinan relatif lebih mudah dilakukan.
  • Akan tetapi, setelah desentralisasi, semua wewenang ada di daerah. Masalahnya, tidak semua kepala daerah menganggap isu pengendalian jumlah penduduk penting. Alih-alih bonus demografi, yang terjadi justru regenerasi kemiskinan.
  • Mayling juga melihat usaha untuk mencegah pernikahan usia muda dan kehamilan tidak diinginkan sangat kurang.
  • Satu hal yang perlu dilakukan pemerintah ialah memeratakan pembangunan dengan investasi di luar Jawa untuk memicu pertumbuhan ekonomi, serta investasi dalam ilmu pengetahuan dan anak muda.

***

Advertisements