The Geography of Bliss : Negara Bahagia

IMG_4096.JPG

Membaca buku traveling rasanya emang bikin nagih. Awalnya suka buku panduan perjalanan, jadi secara teknik saya sudah jalan-jalan keliling dunia, meski tanpa beranjak kemanapun. Lama-lama jadi pingin tahu ada apa sih di negara tersebut? Karena yang kita tahu saat berkunjung singkat itu hanya tempat wisatanya, kulinernya, tapi kita jarang berinteraksi dengan orang, apalagi tahu seluk beluknya.

Maka buku traveling yang bisa menyentuh sisi penduduknya menjadi incaran saya berikutnya. Menarik mengetahui ada apa di dalam suatu negara, memuaskan hasrat kepo saya. Dan Eric Weiner sebagi penulis buku The Geography of Bliss saya rasa menjadi orang yang tepat untuk membagi pengalamannya mengelili dunia sebagai jurnalis. Weiner juga kaya wawasan yang tak segan-segan ia pamerkan dalam bukunya. Membaca buku ini memancing rasa ingin tahu sekaligus mendapat pesan filosofis yang ia berusaha berikan.

IMG_4095.JPG

Weiner memulainya dari Belanda, tempat profesor kebahagiaan berada. Ia ingin mengetahui kenapa penduduk Belanda memiliki kebahagiaan yang tinggi. Di sana ia menemui mariyuana dan prostitusi adalah sesuatu yang legal. Ketika di Swiss Weiner mengeluhkan keteraturan dan kekakuan orang Swiss, tapi ternyata kebosanan itu kunci kebahagiaan mereka. Negara Eropa lainnya seperti Islandia dan Inggris juga ia kunjungi. Weiner terheran-heran Islandia yang dianugrahi siang hanya 5 jam, kenapa tingkat kebahagiannya justru nomor satu di dunia meskipun mereka lebih sering berada dalam gelap. Inggris sendiri penduduknya ingin dianggap kuat dan mandiri, berbeda dengan tempat Weiner berasal, Amerika, yang dianggap terlalu santai dan permisif.

Ketika berada di benua Asia, Weiner mengunjungi negara Bhutan yang tingkat kebahagiaannya tinggi, meski mereka dilingkupi kemiskinan. Weiner curiga rakyat Bhutan bahagia karena mereka tidak tahu ada yang lebih baik. Seandainya mereka dibawa ke Amerika, negara asal Weiner, mungkin mereka akan melihat apa yang hilang dari mereka.

Negara sangat kaya seperti Qatar juga ia kunjungi, dengan kesan negara tersebut meski mewah tidak punya budaya. Budaya juga yang berusaha diteguhkan oleh orang Moldova, yang tercatat sebagai negra paling tidak bahagia. Ternyata dalam kunjungan Weiner ke negara tersebut memang benar adanya, negara pecahan Uni Soviet ini sibuk mencari identitas diri dan satu dengan lainnya saling tidak peduli. Mereka berperilaku kasar sehingga Weiner baru menyadari, kesopanan orang Jepang yang menurutnya keterlaluan, ternyata menjadi pelumas dalam kerasnya kehidupan.

Sebaliknya Thailand penuh dengan kebudayaan, dan penduduknya relatif bahagia karena sikap pasrah yang penduduknya miliki. Penduduk India juga memegang teguh kebudayaannya, sehingga McDonald’s yang ada di Indiapun harus menyesuaikan menunya. McDonald’s tidak mengubah India, namun Indialah yang mengubah McDonald’s. Penduduknya berusaha bersikap tenang dengan mengikuti ajaran para guru spiritual, di tengah keriuhan kondisi sehari-hari.

Namun akhirnya Weiner menuliskan, bahwa kebahagiaan itu adalah kebahagiaan relasional, artinya masih terhubung orang lain, bukan kebahagiaan pribadi. Kebahagiaan tidak perlu dicari berada di negara mana, karena kebahagiaan sesungguhnya ada di dalam hati.

***
IndriHapsari

Advertisements