Museum Puri Lukisan Ubud, Koleksi Lukisan Bersejarah

Ubud memang daerah wisata asing, artinya penduduknya lebih banyak orang asing šŸ˜€ Sepanjang mata memandang, di antara deretan kafe-kafe dan toko seni cantik, menjelajahlah para bule tersebut, blusukan ke tempat-tempat yang direkomendasikan Lonely Planet Indonesia. Tapi memang daerah ini adalah daerah seni. Karya dari local peoplenya adalah kreasi dan teknik yang tinggi, yang dibuat tuh absurd, realis, sekaligus halus.

Kalau dulu kita sudah ke museum boneka di Ubud, maka sebenarnya ada dua pilihan lain, museum Antonio Blanco dan Museum Puri Lukisan. Letaknya berdekatan. Kami pilih yang terakhir karena dari baca-baca info, katanya ada gambar telanjangnya. Padahal berikutnya baru kami ketahui, hal itu ngga bisa dihindari karena Bali tahun 1950an aja masih ada wanita Bali yang telanjang dada. Dan semua itu terekam dalam lukisan para seniman jaman itu.

image

Tiket masuk.dan brosur Museum Puri Lukisan

Bangunan museumnya megah, parkirnya luas. Baru masuk ada loket yang lebih mirip resepsionis, dan kami membayar ongkos masuk museum termahal di Indonesia, 85 ribu per orang. Tapi sudah sampai disana, lagian masih lebih murah dari Madame Tussaud, ya sudah diniatin masuk šŸ˜€

image

Sebagian koleksi Museum Puri Lukisan

Ternyata dalamnya luaaaas banget. Tidak seperti Museum Nasional Bali yang terdiri dari beberapa bangunan yang saling berdekatan, gedung tempat memamerkan lukisan ini jauh-jauh letaknya. Dipisahkan kolam, taman yang luas, pohon rindang, terawat banget tempatnya. Kesan sendu dan ngga bersemangat yang biasanya ada di museum di Indonesia langsung lenyap. Karena museum ini tidak menyediakan guide, jadi harus berpuas hati membaca keterangan judul lukisan, media, seniman dan keterangan dari lukisan tersebut. Tapi dipikir-pikir benar juga ya, kan kalau lihat lukisan mesti tenang, kalau guidenya ribut cerita gimana coba šŸ˜€

Empat bangunan tersebut menyimpan koleksi pada jaman yang berbeda. Cerita Ramayana, Bharatayudha, Hindu Bali, dan kehidupan masyarakat mewarnai setiap lukisan yang dipajang dengan penataan yang baik sehingga ngga saling berhimpitan. Hebat deh seniman jaman dulu, ada tuh lukisan tahun 1932, tekniknya sudah seperti 3 dimensi. Selain gayanya beda-beda, kerennya para pelukis itu bisa mengisi penuh kanvasnya dengan cerita dan maksud. Ada lukisan menarik dan sederhana, cuma hitam putih, menggambarkan wanita telanjang yang diharuskan naik jembatan uglak uglik. Gimana ngga serem wong itu jembatan cuma menggantung di batang yang panjang, diinjak pasti langsung ngga imbang dan si wanita langsung terjun ke neraka. Ternyata itu kisah untuk para wanita yang menggugurkan kandungannya, dosanya akan terbawa terus, dan kelak di akhirat hukumannya seperti itu.

Ada petugas yang menjaga di setiap gedung, biasanya mereka nunggu ditanya untuk menjelaskan. Di gedung Selatan sebagian lukisan dijual dalam dollar. Ada restoran yang menyajikan minuman gratis bagi kami para pengunjung. Toiletnya juga bersih dan modern, seperti di hotel. Tempat ini juga bisa menjadi tempat pertemuan, latihan gamelan, melukis dan membatik.

Hayuk kesana! šŸ™‚

***
IndriHapsari

Advertisements