Ayo ke Bukittinggi!

Saya beruntung. Pertama kali menginjakkan kaki ke bumi Sumatra, yang dilihat adalah Bukittinggi. Pantesan Pemerintah Belanda menganugrahinya Parisj Van Sumatra, membuatnya jadi tempat peristirahatan opsir-opsir Belanda. Pemerintah Jepang merebutnya dan menyulapnya jadi pusat pengendali militer. Pemerintah Indonesia ngga ketinggalan menggunakannya sebagai ibukota sementara waktu Yogyakarta, ibukota negara saat itu, jatuh ke tangan Belanda. Bayangkan, 3 pemerintahan terpesona dengan kota ini dan ngga mau melewatkannya begitu saja, sehingga perlu-perlunya membuat berbagai agenda di sana. Masa begitu sudah merdeka kamu ngga pingin kesana mblo? #eh 😀

Alam Sumatra emang beda dengan di Jawa (bandingin kalau di Jawa ketemunya kamu lagi kamu lagi :D) Penduduknya lebih jarang, jalannya berkelok-kelok, naik turun gitu. Trus orang-orangnya senang banget ngitung. Ada Kelok Sembilan, kabupaten Lima Puluh Kota, Janjang Ampak Puluh (empat puluh) pokonya kalau ada kesempatan ngasih nama pakai angka, pasti disamber 😀 Kali ini terkait dengan Suku Minang yang emang jago berdagang. Banyak breathtaking moment gara – gara melihat pemandangan yang menakjubkan. Misalnya tau-tau ada air terjun mengalir dari tebing batu, adanya di Lembah Anai, itu antara perjalanan dari Padang ke Bukittinggi. Kirinya air terjun ajaib, kanannya aliran sungai yang jernih. Di depan melintas jembatan kereta api tua yang dulu ngangkut batubara dari Padangpanjang ke Bukittinggi. Air terjun macam begini muncul lagi di Lembah Harau, Payakumbuh. Ini juga bikin takjub. Masa yang semula keadaan datar-datar aja, lihat sawah yang menghampar, tiba-tiba muncul tebing besar-besar, lurus, yang bak terbelah entah oleh apa. Serasa di Grand Canyon dan berharap nanti ada mas Tom Cruise lagi manjat-manjat tebingnya *eaaa*

lembah anai

Lembah Anai, Bukittinggi

Terus kalau ke Sumatra Barat mesti pindah-pindah hotel dong karena lokasi wisatanya beda kota? Kalau saran saya nih ya, mending menginap aja di Bukittinggi. Pertama karena kotanya memang unik dan indah, kedua obyek wisata yang saya cerita itu bisa ditempuh dalam satu hingga dua jam perjalanan. Mobil bisa disewa sejak mendarat di Minangkabau International Airport di Padang, atau sudah telpon-telponan dengan rental yang iklannya banyak di internet. Kalaupun ngga mau jauh-jauh, obyek wisata di dalam kota Bukittingginya sendiri juga banyak…baaanyak *nyamar jadi Isyana*

Contoh nih, tebing-tebing ajaib itu muncul lagi di Ngarai Sianok. Letaknya agak di bawah gitu, isinya sungai bening yang membelah tebing dengan jarak yang lebar. Bisa dijangkau dengan mobil sampai ke tepi sungai, turun sedikit karena sudah dipaving dan ada tangganya, jadilah kita bisa selfie di pemandangan yang bakal ngga nemuin kalau di Jawa. Ada Gua Jepang yang isinya gaya hidup orang Jepang di bawah permukaan bumi. Lalu bangunan bersejarahnya banyak banget, ada Benteng Fort De Kock, Kebun Binatang Bukittinggi, Rumah Bung Hatta, Jembatan Limpapeh, dan Jam Gadang. Jamnya sendiri bentuknya kaya menara gitu, kita bisa naik ke atasnya dan melihat pemandangan kota Bukittinggi. Keunikannya di angka romawi 4 yang seharusnya IV, ditulisanya IIII. Di sekitar jam gadang banyak pedagang jualan makanan khas Bukittinggi, mainan anak-anak, baju dan aksesoris untuk oleh-oleh. Yang bikin salut, meski rame gitu ngga ada yang bikin rusuh, semua tertib, bersih dan jadi bisa menikmati senja sampai malam hanya dengan bersantai di sana. Sesekali badut menghibur kita dengan tingkahnya yang lucu diiringi musik berirama khas Minang. Banyak looo,bisa cek di artikel ini untuk lebih jelasnya.

ngarai sianok

Ngarai Sianok, Bukittinggi

Ngomongin kuliner, pastilah masakan Padang jadi juaranya. Gampang banget nemunya, cuma untuk dalam kota kelasnya ngga gitu gede ya. Antara warung sampai depot, meski di hotel juga dari makan pagi sampai malam isinya bersantan semua 😀 Kalau mau resto gedean bisa pas mau masuk Bukittinggi tuh, ada Restoran Padang Sederhana yang memorable banget di Jawa saking banyaknya cabang, trus ada Restoran Lamun Ombak yang sajiannya lengkap dan makannya sambil lesehan. Yang mau nahan-nahan diri untuk ngga selalu makan masakan Padang dan terpaksa mendaftar jadi pasien Rumah Sakit Stroke Nasional yang ada di Bukittinggi (! :D) bisa mencoba Kedai Mie Aceh, warung-warung PKL yang jadi hip banget di atas jam 5, atau sate Padang yang banyak dijual di gerobak, atau mungkin nyicip sop ayam yang lebih mirip soto di Jawa. Itiak lado mudo, wih ini top banget! Adanya di Ngarai Sianok, ada beberapa depot yang menyajikan ini. Kalau perlu, bawa aja terbang sebagai oleh-oleh karena mereka juga sedia yang beku. Oleh-oleh lainnya ada kripik singkong balado punyanya Mbak Christine Hakim, kripik rendang balado, dan telur balado. Semua kuliner ini bisa didapat hanya dengan jalan kaki saja. Kalau capekpun karena kontur kotanya naik turun, bisa ngikut angkot yang cukup banyak tersedia di kala hari terang. Aneka jenis kulinernya pernah saya bahas disini.

kedai nasi

Kedai Nasi Limpapeh, Bukittinggi

Karena ngga cukup satu hari untuk menjelajah isi kota, plus mungkin mau tambah beberapa hari lagi untuk mengunjungi Lembah Harau, Danau Maninjau, Rumah Gadang, Pandai Sikek (kain tenun khas Minang) dan obyek wisata lain, tempat menginap mesti nyaman dong biar pas pulang dari halan-halan bisa istirahat dengan tenang dan menikmati kenyamanan. Berbagai pilihan hotel tersedia di Bukittinggi, mulai yang harga rendah sampai tinggi, di sekitar keramaian atau agak menyepi, mau yang modern atau lebih ke tradisional. Semuanya bisa dicek di Traveloka, yang bisa jadi panduan kita pas nyari tempat menginap di Bukittinggi. Selain bisa ngepoin fasilitas masing-masing hotel buat kita yang buta sama sekali soal daerah yang akan dikunjungi, eksekusinya juga lancar jaya karena Traveloka ibaratnya jadi mediator kita dengan pihak hotel yang belum kita kenal. Asyiknya lagi, no hidden fee! Males dong kalau awalnya keliatan murah, eh ternyata ada plus-plus di belakangnya. Jadi harga di Traveloka sudah include pajak and no admin fee..yeay! 😀

the hills

Novotel (The Hills) Bukittinggi

Bocoran dari hotel disana sepanjang yang saya tahu, ada Novotel (The Hills) yang…ugh…fenomenal banget. Bentuknya aja udah bikin kita bengong. Kaya istana gitu dengan pilar-pilarnya yang tinggi dan megah. Konon dulu ni hotel bekas kantor pemerintahan Belanda, trus sekarang dikelola sama jaringan Accor. Hotelnya terawat baik, jadi inget hotel Majapahit di Surabaya dan Hotel Phoenix di Yogyakarta. Seleranya bule-bule deh 😀 Ruangannya juga gede-gede, dan lokasinya dong. Pas di atas bukit, trus di belakangnya ada Jam Gadang, trus bisa nyari nasi Kapau di Pasar Atas Pasar Bawah, angkot semua lewat hotel ini, dan penjual makanan bertebaran. Kalau mau yang lebih tenang dan humble, bisa ke Royal Denai yang bintangnya tiga. Ada kolam renangnya, hotelnya agak lama dan terawat, di depan Rumah Sakit Dr. Achmad Moechtar yang penuh sama orang jualan makanan. Sate Padangnya ada disini loh. Mau yang lebih minimalis bisa ke Royal Denai View yang bintangnya dua. Ngga tau ya mereka sodaraan apa ngga dengan yang bintang tiga 😀 Yang pasti gedungnya lebih tinggi, kamarnya lebih kecil, harganya lebih ekonomis. Letaknya di lereng gitu. Jadi kalau Novotel di puncak bukit, Royal Denai di bawah, pas mau ke bawah ini ada Royal Denai View. Di sepanjang perjalanan turun tersebut, banyak hotel besar seperti Grand Rocky, dan hotel-hotel kecil yang bisa jadi alternatif tempat menginap.

Oh did I mention about the temperature? Hawanya kaya Bandung pas belum macet, sejuk, bikin menggigil di atas jam 10 malam sampe subuh, sekaligus cerah pas siang. Jadi pas banget buat jalan-jalan, dan molor dengan cuaca galau kaya gitu sejak senja menjelang 🙂

Selamat merencanakan liburan di Bukittinggi ya…

***

IndriHapsari

Advertisements