MIRA DAN JIN

chat

Mira berdiri menghadap mahluk tinggi besar itu. Diberanikannya dirinya mengucap permintaan, yang sejak dari dulu ia simpan.

“Aku ingin…mengetahui isi hati,” suaranya bergetar.

Sang jin, mahluk tinggi besar itu, menatapnya dengan ragu.

“Kau…sudah tahu…apa resikonya?”

*

Hidup tidaklah sesempurna ini sebelum Mira bertemu dengan Sean. Tubuh dan wajah Sean biasa saja, tapi kalau ia tersenyum, matanya juga tersenyum. Itu mungkin yang membuat Mira berkali-kali melirik pria yang tanpa malu-malu memandanginya dari sudut kafe. Lalu ketika entah sudah keberapa kali pandangan mereka bertemu, Mira membiarkan pria itu duduk di depannya, setelah ia meminta ijin dengan sopan.

Kopinya hitam. Mira melirik cangkir yang dibawa sang pria. Pria itu mengulurkan tangannya, dan menyebut nama Sean dengan jelas. Mira membalasnya dengan menyebut namanya. Kemudian membiarkan Sean, si pemilik mata yang tersenyum itu, menanyai sekaligus menanggapi jawaban Mira dengan antusias. Dengan segera Mira tahu, bahwa pria ini menyenangkan, tertarik padanya, dan secara gentle telah menunjukkannya.

Hanya perlu sekian detik setelah perkenalan itu bagi mereka untuk bertukar nomor telepon, Sean berjanji akan menelepon lagi, lalu pamit pergi sembari membayar di kasir. Belakangan Mira baru tahu, tagihannya sudah dibayar Sean.

Tapi sama seperti dengan para pria lain yang berjanji ini itu dan tak menepati, Seanpun sama. Sudah seminggu tidak ada telepon masuk dengan nomor Sean, dan Mira mencurigai semua nomor asing yang masuk ke HPnya, sebagai nomor Sean yang baru. Yah, siapa tahu Sean ganti nomor. Siapa tahu Sean pinjam HP temannya. Dan siapa-tahu-siapa-tahu lainnya. Begitu terus hingga hari berganti hari, genap seminggu, dan…

“Halo, Mira?” tanya sebuah suara, yang Mira sudah menanamkannya dalam ingatan.

“Sean!” jawabnya hampir berteriak. Lalu ia segera merendahkan suaranya, karena dilihat oleh teman-temannya yang sedang sibuk praktikum.

“Halo Mira, ganggu ngga nih?” tawa Sean terdengar di ujung sana. Mira bisa membayangkan senyumnya…dan matanya.

“Ngga…ngga…kenapa?” ujar Mira buru-buru. Tak ingin melepaskan momen itu.

“Maaf baru menghubungimu lagi. Sibuk sama kerjaan. Gimana kalau kita… ngopi lagi?” tanya Sean bersemangat.

Betapa anehnya rindu. Awalnya ia begitu menyiksa. Namun ketika akan bertemu, hanya ada bahagia yang terasa.

“Boleh,” jawab Mira, lupa pada resahnya. “Hari ini?” katanya berharap. Bukankah lebih cepat lebih baik?

“OK, jam 7 ya. Sampai nanti.”

Begitu singkat pertemuan pertamanya dengan Sean. Mungkin dia sebenarnya sedang sibuk, pikir Mira menghibur diri. Meski sangat sedikit yang ia ketahui tentang Sean, tapi pakaian Sean, kemeja yang lengannya ditekuk hingga siku, menunjukkan jenis pekerjaannya.

Mira berlama – lama di laboratorium, karena pertemuannya masih nanti malam. Setelah teman-temannya pulang, ia membantu membereskan alat praktikum, lalu menunggu laboran mengunci ruangan lab, dan menuju parkir sepeda motor. Tetap saja, ia tiba lebih awal. Tak apa, ia bisa menunggu sambil memesan latte kesukaannya.

Sean datang tepat waktu. Bermuka bingung, setengah tertawa ia memperhatikan jamnya.

“Saya kira saya yang terlambat,” katanya sambil tersenyum.

Mira membalas senyumnya. Sean lebih ganteng dari pertemuan mereka sebelumnya. Lebih terbuka dan ramah, hingga ia yakin hubungan ini layak diteruskan. Sean sendiri berusaha untuk menarik hati Mira, menjadi pria terbaik yang pernah Mira temui.

Lalu lagi-lagi, Sean lupa akan janjinya. Satu minggu, dua minggu, tak ada pesan ataupun panggilan dari Sean. Mira juga telah berusaha menghubunginya, tapi teleponnya tidak aktif.

Jangan-jangan, nomor itu dipakai khusus untuk Mira, sedangkan Sean punya nomor lainnya. Nomor lain yang selalu aktif…

…untuk wanita lain?

Mira berusaha menghapus kecurigaan itu, meski makin ia berusaha, makin ia merasa Sean memang menyembunyikan sesuatu.

Dan rindu berubah menjadi cemburu. Lalu cemburu membakar, sehingga dengan marah Mira membuka pesan yang akhirnya sampai dari Sean. Ia ingin mereka bertemu kembali.

Mira merasa, ia sedang dipermainkan. Sean seenaknya saja datang dan pergi, memporakporandakan hatinya, untuk kemudian menatanya lagi. Lalu dibongkar lagi. Begitu seterusnya.

Mira ingin, kali ini, ia yang pegang kendalinya.

*

Eric membuka laptopnya.

“Lo bisa lakukan ini, Mir.”
 Ia menunjukkan video seorang pria yang lengannya dililit suatu alat, dihubungkan ke komputer, dan grafik naik turun keluar seiring dengan ucapannya.

“Jadi, kalau dia bohong, grafiknya akan meningkat dengan tiba-tiba, tak beraturan. Alat ini mendeteksi denyut nadi. Dugaannya kalau orang berbohong kan lebih deg-degan tuh, denyutnya makin meningkat,” jelas Eric.

Mereka sedang berdua saja di lab elektro. Eric menjadi asisten lab disana, sehingga ia punya sudut tersendiri, tempat Mira menyampaikan tujuannya. Ia membutuhkan cara mengetahui maksud Sean selama ini.

Eric pintar, dan selalu punya cara untuk membantunya. Selalu, sejak SMA. Pun ketika mereka kuliah di satu universitas, meski beda jurusan.

“Dan gimana caranya gue melilitkan benda itu ke lengannya, Ric,” keluh Mira putus asa. “Belum juga diselidiki, orangnya sudah tersinggung duluan, trus kabur,” sambungnya.

“Loh, kan malah bagus,” goda Eric. “Lo jadi tahu, dia ngga patut dipertahankan.” Eric membetulkan letak kacamatanya yang merosot.

“Ya…ngga gitu juga sih,” jawab Mira bingung. Apa sebenarnya yang ia inginkan. Membuktikan Sean sayang beneran ke dia, atau malah membuktikan Sean adalah seorang pecundang?

“Trus gimana dong Eric, ada ngga yang lebih mungkin dilakukan?” keluhnya putus asa. Alat yang Eric tunjukkan sepertinya tidak mungkin deh.

Eric mendesah. Wanita, selalu repot dengan perasaannya.

“Ada cara yang gampang banget, Mir,” katanya menghibur. “Cowok itu, kalau ditatap matanya, biasanya jadi salting. Eh, itu kalau dia bohong ya. Kalau dia jujur, dia akan berani memandang lo.” Sejenak kemudian Eric menyesali ucapannya.

Setengah melamun, Mira menjawab, “Yang ada malah gue yang salting, Ric. Mana pernah gue mampu memandang dia langsung. Matanya mampu memerangkap gue, sehingga apapun yang dikatakannya membuat gue bahagia.”

Eric tercenung. Sahabatnya sedang…jatuh cinta? Dan kali ini tidak biasa. Tidak secuek yang sudah-sudah, ketika pria yang dekat dengan Mira, hanya diceritakan sambil lalu, dan secepat datangnya, cepat juga hilangnya.

“Elo..bahagia, kalau bisa tahu perasaan Sean?” tanya Eric hati-hati. Mira mengangguk ragu. Ia akan bahagia…kalau hasilnya sesuai dengan yang ia harapkan…

“Gue cerita satu rahasia ya, Mir,” bisik Eric pelan.

“Gue punya jin.”

Mira menjauhkan tubuhnya dari Eric. Ini anak diajak serius malah bercanda. Hampir Mira memarahinya, ketika dilihatnya wajah Eric menegang.

“Heh! Beneran lo?” katanya setengah tak percaya.

Eric mengangguk pelan. “Gue ngga sengaja waktu itu dapet pas abis nolong seorang kakek di terminal. Yah biasa aja sih padahal, ada kakek pingsan, trus gue bawa ke poli dan gue tungguin disana sampe tu kakek-kakek siuman. Gue takut ada apa-apa sama dia.” Mira menatap Eric dengan kagum. Sahabatnya ini memang berhati mulia.

“Sebagai wujud terima kasihnya, gue dikasih botol, yang dia bilang kalau ada perlu, gue bisa gosok botol itu, dan mengucapkan permintaan gue. Gue kira ni kakek-kakek lagi mimpi kali ye…tapi gue bawa juga botol itu.

Lamaaa…gue sampe lupa punya tu botol. Sampai suatu hari, pas kiriman nyokap ngga nyampe-nyampe padahal udah berkali-kali gue ditagih sama ibu kos, akhirnya gue inget lagi sama tu botol. Siapa tau…permintaan gue dikabulkan. Eh taunya, ada asap keluar dari botol…dan keluar…jin!” kata Eric mengagetkan. Mira terlonjak dari tempat duduknya.

“Serem ngga?” tanyanya polos.

Eric mencoba membayangkan mahluk yang keluar dari botol itu. 
”Mmm…tinggi, besar, item gitu deh. Wajahnya sih tajam, trus suaranya keras. Tapi jangan khawatir…dia baik kok,” jelas Eric.

“Kok tau?” tanya Mira penasaran.

“Soalnya waktu gue minta dia lunasin kos gue sampe gue lulus, sampe sekarang gue ngga pernah ditagih ibu kos tuh! Sudah 5 bulan loh!” kata Eric bangga.

“Oya? Asyik dong,” seru Mira gembira. “Elo bisa minta nilai semua dapat A, gaji asisten dosen meningkat, dapat hadiah mobil, sama cepat lulus dong!” ucap Mira bertubi-tubi.

Eric tersenyum. Lagi-lagi ia membetulkan letak kacamatanya yang melorot.

“Masalahnya, jin ini limited edition, Mira,” katanya tenang.

“Maksud lo?” tanya Mira heran.

“Dia batasin hanya boleh 3 permintaan. Dan gue telah memakainya dua kali,” Eric menunduk.

“Oya? Kedua lo pake buat apa, Ric?” tanya Mira ingin tahu.

“Buat nyembuhin bokap, Mir,” jawab Eric pelan.

Mira terdiam. “Trus..ngga dikabulkan ya sama tu jin?” tanyanya hati-hati.

“Dikabulkan kok,” jawab Eric sambil mengangguk. “Tapi namanya takdir ya Mir..meski bokap sempat pulang ke rumah karena membaik, tetap aja Beliau meninggal pas lagi tidur,” Eric memegang gagang kacamatanya dengan gelisah.

“So sorry, Eric…” kata Mira tulus.

“Iya, ga pa pa kok,” kata Eric berusaha ceria. “Yang penting urusan kita. Lo perlu ketemu tu jin Mir, biar bisa ucapkan permintaan ketiga.”

“Eh, apa itu?” Mira sudah benar-benar lupa dengan tujuannya tadi.

“Jiah, dia amnesia,” seru Eric sambil tertawa. “Katanya pengen tau perasaan Sean. Coba aja minta ke jin, siapa tahu berhasil,” jelas Eric.

“Loh, elo ngga pake, Ric? Siapa tahu nanti butuh,” jawab Mira sungkan. Sepertinya Eric lebih memerlukannya daripada ia.

“Ngga apa, pake aja,“ kata Eric. “Gue udah janji sama diri sendiri, mulai sekarang mesti berusaha sendiri, dan pasrah aja sama takdir. Lagian…” Eric menambahkan, “dengan cara ini gue bisa liat senyum di wajah sahabat gue lagi,” katanya sambil tersenyum.

Mira tertawa. Eric yang selalu baik. Eric yang selalu siap membantu.

*

Dan begitulah yang terjadi. Jin mengabulkan permintaan terakhir untuk Eric, yang menjelaskan bahwa haknya dipindahkan ke Mira. Prosesnya tidak rumit, dan kini Mira bisa merasakan isi hati setiap orang yang berdekatan dengannya.

‘Mbak ini manis juga.’

Suara yang pelan, serupa bisikan. Itu suara yang ia dengar dari pelayan yang sedang mencatat pesanannya. Mira tersenyum padanya. Lalu ia juga mendengar keluhan dari salah seorang pelayan yang bergegas melewatinya. Omelan tersembunyi juga datang dari seorang pria yang mengeluh soal shift kerja yang tidak adil. Seorang wanita dengan lipstiknya yang tebal sedang menantikan kekasihnya, di sebelah meja Mira berada.

Persis seperti Mira yang sedang menunggu Sean.

Lalu Sean datang. Tersenyum sejak melewati pintu, karena ia sudah melihat Mira duduk di sana. Disapanya Mira dengan mesra, lalu memesan secangkir kopi kesukaannya. Kemudian mata yang membuat gelisah itu menatap Mira.

“Tumben Mira, lagi sakitkah?” tanya Sean ingin tahu. Dirabanya punggung tangan Mira yang ada di dekatnya. Dengan segera Mira menarik tangannya.

“Wow..wow…kenapa Mira?” tanya Sean heran.

Mira memberanikan diri menatap mata Sean. Kini mata itu sedang menatapnya dengan cemas. Aduh…sebenarnya Mira tidak tega.

“Telepon…” jawab Mira lemah.

Sean mengernyitkan dahinya. Lalu senyuman muncul dari wajahnya.

“Oooh…yang kemarin saya tidak menghubungi dan ngga bisa dihubungi ya? Maaf Mira, saya lagi dinas di remote area. Jadi saya pikir ngga usahlah bawa handphone kemana-mana. Itu sebabnya, semua pesan dan misscall dari kamu baru masuk belakangan. Tadinya mau saya balas, tapi buat apa, toh saya akan bertemu kamu. Lebih enak ketemu sepertinya…” jelas Sean sambil tersenyum.

Mira menatap pria di depannya. Mencoba mendengar apa kata hatinya. Tapi tak terdengar apapun dari hatinya. Berarti…ia mengutarakan apa yang ada di hati dengan jujur.

Melihat Mira terdiam lama, tangan Sean menggenggam tangan Mira.

“Saya salah ya? Maaf ya, lain kali saya bilang deh mau kemana, biar kamu ngga cemas,” katanya sambil tersenyum.

Kali ini Mira membiarkannya.

*

“Kamu pernah punya pacar Sean?” tanya Mira sambil bersandar di bahu Sean. Lengan Sean melingkupi bahu Mira. Mereka sedang mengamati pejalan kaki yang lalu lalang, dengan duduk di bagian luar kafe.

“Eh, kenapa Mira?” tanya Sean balik bertanya.

‘Kenapa dia tanya soal Widya’, terdengar sebuah bisikan. Awalnya Mira bingung, darimana suara itu berasal. Kemudian ia tahu. Suara hati Sean rupanya.

“Ngga…cuma pengen tahu…kamu ngapain saja masih jomblo sampai sekarang,” kata Mira, tersenyum sambil memandang Sean.

“Pernah sih, duluuu sekali,” kata Sean balas tersenyum. Pandangannya ke depan, lurus, seolah ada yang menarik di jauh sana.

“Trus…kok ngga lanjut?” tanya Mira hati-hati.

“Yah…ngga cocok aja…” jawab Sean lagi, kali ini dengan pelan.

Mira sebenarnya ingin menanyakan lebih lanjut, namun Sean telah bangkit dan menggandeng tangannya, mengajak masuk ke dalam.

Mira masih terdiam di kursinya. Tangannya masih digenggam Sean.

“Sean…kamu masih mencintainya ya?” tanya Mira, hendak menegaskan keraguannya.

Sean tersenyum. Ia membungkukkan diri hingga wajah mereka berhadapan dekat sekali. Wajah Mira bersemu merah. “Sekarang, saya fokusnya ke kamu,” nafas Sean terasa hangat.

Sean menegakkan badannya, menunggu Mira bangkit juga. Sean berjalan dulu ke pintu, dan membukakannya untuk Mira. Hati Mira berbunga-bunga, sampai ia mendengar suara itu lagi,

‘Widya, kamu dimana…’

*

Mira menelungkupkan wajahnya ke kedua telapak tangannya. Ia bingung harus bagaimana. Ia kini berada di lab Eric, hendak mengembalikan botol yang kini kosong, karena jin telah selesai melakukan tugasnya. Eric belum datang, hingga Mira menunggu di sudut lab.

Sean, ternyata masih menyimpan rasa ke pacarnya yang dahulu. Ia terpaksa tidak berhubungan lagi, karena Widya meninggalkannya.

Lalu, saat Widya kembali, maka Sean…cinta lagi?

Mira tidak tahu seperti apa Widya, tapi ia merasa sudah kalah satu set dengan cinta pertama Sean. Orang bilang, bagi seorang laki-laki, cinta pertama tidak akan mati. Sean saja masih bingung hingga saat ini, dan seolah menggunakan Mira sebagai pelarian.

Pelarian.

Sungguh ngga enak menjadi yang kedua. Mira tahu, Sean gentle luar biasa. Namun di balik tingkah lakunya yang mempesona, ternyata ia menyimpan luka. Luka yang hanya akan sembuh kalau didatangi cinta pertama.

Mira merasa kalah bersaing. Widya belum datang, tapi ia sudah menang. Ia telah memenangkan hati Sean.

Kini Mira mengerti, kenapa jin telah memperingatkannya. Mengetahui perasaan seseorang adalah berbahaya, karena ia akan tahu hal yang sebenarnya, dan hal ini akan mengacaukan harinya. Seandainya…seandainya Mira tidak pernah tahu perasaan Sean, mungkin Mira akan berasumsi Sean benar mencintainya, dan sungguh-sungguh berusaha untuk itu.

Kini Mira hanya menganggap Sean sedang memanfaatkannya sebagai pelarian. Sungguh menyakitkan. Meski Mira berusaha menyemangati dirinya sendiri, bahwa lupakan saja semua kata hati Sean, ia tak dapat mengindahkan, rasa cemburu itu masih ada.

Mira tak tahu apa yang harus dilakukan, pun ketika Eric muncul di depannya.

“Eh elo Mir, sudah lama? “ tanya Eric sambil tersenyum. Ia mengambil jas lab yang tergantung, dan mulai mengenakannya.

“Barusan kok, “ kata Mira menenangkan. “Mau ngembaliin ini,“ ia menyodorkan botol ke Eric. Eric menerima dan meletakkannya di meja.

“Gimana, si jin melakukan pekerjaannya dengan baik?” tanya Eric.

“Ya,” jawab Mira singkat. Ia tak ingin membahas lebih lanjut. Eric memandangnya.

“Is…everything okay, Mir?” tanya Eric hati-hati. Ia memandang wajah sendu Mira.

            “Yah…gue uda bisa kok tahu perasaan orang lain,” kata Mira berusaha tersenyum.

“Ehm….OK…” kata Eric lagi. Mira sedang tak ingin cerita, Eric tahu itu, sehingga ia membiarkan Mira yang mulai bangkit dan berpamitan untuk masuk kelas.

Eric mengantar Mira hingga ke pintu lab, dan membukakannya. Mira tersenyum sebagai tanda terima kasih, bertekad untuk menjalani hidup seolah ia tak pernah punya kemampuan itu, hingga biarlah hubungan ia dan Sean bisa dipertahankan.

Kemudian ia mendengar suara pelan, hampir menyerupai bisikan,

‘Gue sayang elo, Mir…’

Eric terpaku ketika Mira tiba-tiba menoleh padanya dengan muka bingung.

***

IndriHapsari

Sumber gambar : gallerynucleus.com

 

 

 

 

 

 

 

 

Advertisements