Ada Apa Dengan Cinta 2: Sekuel Yang Ngga Sia-sia

Di tengah usia yang rasanya ngga pantes lagi nontonin kisah dua anak manusia yang mbulet dewe ini (saling cinta, tapi ngga jadi-jadi), dan di tengah kepungan film Civil War yang memborbardir dengan semua kecanggihan dan keseruannya (di Grand City 5 studio isinya Civil War semua, lawan AADC 2 yang 2 studio. Bonus dapat kursi muinggir dan baris keempat dari depan, gara-gara beli tiket sejam sebelumnya. AADC? Sama-sama sejam sebelumnya, masih dapat kursi enak di tengah di studio yang mungkin hanya sepertiga terisi). Cuma…yang saya review kok AADC, bukan Civil Warnya?

Eng ing eng…

image

Semata-mata sebabnya bukan karena nasionalisme, karena soal rasa mata nih ngga bisa bohong. Iya, mata. Kalau perasaan filmnya jelek, biarpun film barat ya jelek aja. Demikian juga kalau film bagus dan ternyata itu adalah film Indonesia, ya katakan aja, ngga usah gengsi. Dan alasan saya kenapa yang diulas AADC ya karena emang ni film bagus.

Awalnya sempat ada kekhawatiran ni film bakal garing. Yah, sekuel gitu loh, Indonesia lagi. Kebayang kan sinetron kita yang ngga selesai-selesai, atau film kita yang sudah lemah dari pertama tayang. Percaya ngga, selain masa kecil saya yang full sama film Warkop itu (eh dan film-film yang ‘disuruh’ sekolah), dari remaja yang saya niat tonton cuma AADC sama Laskar Pelangi. Lainnya…ya kebeneran diajak, kebeneran diputar di pesawat, kebeneran lagi nonton tivi pas nunggu dan kebeneran-kebeneran lainnya.

Film ini punya banyak kekuatan, na ini yang beneran!

Kekuatan pertama, nostalgia antara penonton dengan para pemainnya. Akhir AADC pertama yang seru-seru nggantung itu bikin penasaran para eks penontonnya, Cinta sama Rangga jadian ngga sih? Kepengen tau juga, setelah menua bersama (cieee…!) antara penonton dan pemain, adakah yang berubah dari pemainnya? Buat penontonnya jelas, dulu nonton pas pacaran, sekarang buntutnya sudah dua. Wajah ngga seimut dulu, dandanan ala emak-emak, perut ‘bawa tas pinggang’ pula (yaelah…ini curcol apa yak? :D). Nah, Cinta…Rangga…berubahkah mereka? Dan penonton patut lega karena kebanyakan pemainnya kaya diformalin, awet cakepnya! 😀

image

Pelipur lara buat para penggemar 😀

Kedua, akting pemainnya emang natural…terasanya kita ikut disana, ikut ngintilin mereka pas di Yogya, ikut kasebelan juga sama tarik ulurnya. Ekspresinya dapet banget, meski mbak Dian cuma senyum, rasanya serrr gitu. Apalagi waktu mas Nico menatap, aww…sakiiit! *ketatap tembok* Ganknya Cinta juga kompak, punya karakter sendiri-sendiri.

Ketiga, skenarionya emang kuat. Dengan mudah bisa diterima logika, kenapa kok Rangga mutusin dan ngilang sembilan tahun. Don’t make it too hard, kalau mau ditilik lebih dalam sih bisa dipertanyakan kok ngga begini dan ngga begitu. Tapi simple aja kok alasannya dan ngga dibuat-buat juga. Trus adegan berlama-lama kelilingan Cinta Rangga di Yogya (padahal awalnya cuma ‘Aku mau cerita sama kamu, tapi sambil jalan ya’) terasa mengalir aja, plus adegan-adegan di dalamnya yang bikin mringis gemes.

Itu, yang membuat film AADC 2 ini beda dengan film Indonesia lainnya. Adegannya cepat, ngga berlama-lama di satu scene atau penjelasan yang panjang. Bagusnya lagi, pas ngejelasin itu feelnya dapet banget, seperti adegan Rangga dan Cinta yang akhirnya ketemu untuk pertama kali di satu kafe, trus jadi legendaris dengan berbagai memenya ini. Ternyata emang kuat banget jadi pintu masuk untuk memahami ceritanya.

image

Anyway, ngga ada gading yang tak retak. Adegan di New York emang lebih bagus dan natural dari film lain yang juga menggambarkan orang Indo di New York, tapi yang onoh kerasa kelebayannya. Ada adik tiri Rangga yang datang, kirain karena dia sekolah di sana. Ternyata dia belain dari Yogya datang untuk nyari kakaknya ini, katanya ibunya nyariin. Hellooo…dapat duit darimana ya kalau liat dari kesederhanaan keluarga mereka. Trus adegan Cinta cemburu waktu Rangga dipeluk pegawai ceweknya, lah emang masih se-childish itu yah si Cinta? Adegan minum air putih banyak-banyak biar fokus juga lama-lama ganggu. Segitu pentingnyakah sampe harus masuk scene berkali-kali?

Akhirnya, yang belum sempet nonton karena ngebelain Civil War, film ini layak tonton juga kok. Yang mau nunggu downloadannya juga boleh, tapi tega nih nonton bajakan karya bangsa sendiri? (haish, emangnya piracy mengenal nasionalisme? 😛 )

***
IndriHapsari

Advertisements