Tintin, The Complete Companion

20140318-225101.jpg

Tintin telah menjadi dasar kecintaan saya pada komik.

Stigma buruk cerita bergambar ini dihapuskan dengan kisah-kisah Tintin yang menarik, bahkan hingga puluhan tahun kemudian, ketika saya dewasa. Kisah yang saya nikmati karena kelucuan, seru dan menyenangkannya, kini menjadi kisah yang terus menerus memberi saya manfaat. Bisa keliling dunia tanpa beranjak, dan memberi catatan sejarah.

Goresan tokoh dan latarnya sederhana, dengan pewarnaan yang apa adanya, tidak genit dengan gradasi, atau sibuk dengan perspektif. Setiap kotaknya menawarkan gambar yang berbeda, mengantar kisah ke kotak berikutnya, dan saling mengikat satu dan lainnya. Kalimat dialognya pendek-pendek, apalagi kalimat narator yang bisa dihitung jari pada setiap edisinya.

Namun kesederhanaan itu ternyata berawal dari riset yang mendalam.

Herge hobi mengumpulkan potongan gambar yang membuatnya tertarik, meski ia tak tahu akan menggunakannya untuk apa. Ia akan mengeluarkan koleksinya, di tengah pekerjaan menggambar Tintin untuk petualangan barunya. Kenapa ia lakukan itu? Karena kisah Tintin si petualang adalah keliling dunia, terkait isu yang akan menjadi tonggak sejarah dalam setiap edisinya. Maka mesti Herge tak kemana-mana, ia bisa menggambarkan dengan detail seperti apa kapal yang berangkat ke Kutub Utara, keadaan gua di Bulan, monyet Bekantan, atau pesawat di Arab.

Herge pintar menggambar, itu sudah pasti. Tapi mengaitkan seluruh koleksi gambarnya dalam kisah Tintin, sungguh luar biasa. Herge adalah seorang yang perfeksionis. Ia tidak segan mengganti kotak-kotak gambarnya, dengan gambar yang baru jika ia rasa kurang pas. Hal yang sama terjadi ketika ia mendapat tekanan dari pemerintah yang berkuasa atau publik, ketika mereka memprotes hasil karyanya. Herge melewati masa Perang Dunia pertma dan kedua dengan jaman Nazinya, sehingga meski ia bukan Yahudi, ia harus berhati-hati atas sikap politis yang ia selipkan lewat Tintin.

Tintin adalah perekam sejarah. Herge bisa membuat satu titik waktu menjadi cerita yang seru, tanpa terkesan mengajari. Sejak dari bulan hingga dasar lautan. Dari Kutub Utara hingga China. Gangster di Amerika dan Dalai Lama di Tibet. Herge juga berjuang agar karyanya tetap bisa dinikmati, relevan pada masa kapanpun, meski peristiwa itu telah lama berlalu.

Herge pula yang menceritakan kasus pembajakan pesawat dengan begitu gamblangnya. Dilakukan oleh pilotnya sendiri, pesawat mendarat di pulau dengan gunung api di Laut Sulawesi. Mendarat dengan landasan yang sangat pendek, akhirnya pesawat bisa disembunyikan. Landasan dibongkar, dan dimasukkan ke perahu nelayan, yang sudah dipasangi bom. Tidak ada saksi, tidak ada berita, karena semua lenyap di lautan. Imajinasi yang begitu luar biasa, yang mungkin menjadi inspirasi bagi kisah lainnya.

Tintin adalah sebuah maha karya, dari tangan seorang komikus yang selalu ingin sempurna.

***
IndriHapsari

Advertisements