Makan Apa di Bukittinggi?

Sebenarnya jawabannya sudah bisa ditebak ya…apalagi kalau bukan Rumah Makan Padang (RMP). Menurut pemandu kami, dari 7 juta penduduk Sumatera Barat, yang 3 jutanya pergi merantau. Tau sendiri dah, RMP ada dimana-mana, dan rata-rata emang digemari oleh seluruh masyarakat Indonesia. Siapa yang ngga kenal rendang, balado, gulai, ayam pop…intinya masakannya sih bersantan, asin dan pedas.

image

Nah di Bukittinggipun begitu, RMP ini sejauh mata memandang, isinya ya Padang tok. Begitu tingginya minat masyarakat Minang terhadap masakan ini, sampai mencari makanan lainpun  susah. Itu kompak semua tuh, dari depot pinggir jalan, jamuan di rumah walikota, warung di pasar, restoran antar kota maupun dalam kota, sampai hotel apapun, isinya ya masakan Padang semua. Padahal yah, di kota kecamatan di Bali yang jauuuh dari turis, masih bisa ditemui soto dan sate madura, atau pecel. Kalau ini blas, jangan harap.

image

Menurut pemandu kami, makin tinggi daerahnya, makin kuning kuahnya. Contoh di Bukittinggi, kuahnya kebanyakan kuning. Ntar kalo ke Padang kuahnya jadi kemerahan, karena lebih rendah datarannya. Soal rasa kalau di Bukittinggi kuahnya lebih kental dan lebih asin. Sambal ijo yang biasa kita makan di Jawa, disini malah kurang nendang. Ya, mungkin sambal ijo di Jawa sudah disesuaikan. Gitu juga waktu saya lihat RM Sederhana di jalanan kota Bukittinggi, langsung nyeletuk dah…’Oh ini Sederhana cabang Surabaya ya…’ hehehe saking terkenalnya RMP tersebut di Surabaya.

image

Iseng dong nanya, dengan makanan berkolestrol tinggi seperti itu, bagaimana orang Minang menjaga kesehatan badannya? Secara ngga ada pilihan makanan yang lebih light. Lalu dengan santai pemandu kami memberitahu, bahwa kami akan melewati Rumah Sakit Stroke Nasional, karena stroke merupakan penyakit yang banyak ditemui di sana, diikuti dengan darah tinggi dan diabetes. Hah? Seolah untuk meyakinkan kami, dia bilang juga itu sudah resiko makan makanan seperti itu. Hadeuuh…saya harus diet benar nih untuk membuang yang jahat-jahat dalam tubuh. Sulit loh menahan diri tidak mencicipi makanan yang memang lezat itu.

Kalau baca bukunya pak Bondan dan Benu Buloe sih emang susah bikinnya. Bayangin aja rempah-rempahnya mesti lengkap. Terus itu semua mesti ditumbuk halus karena kuahnya ngga ada potongan  rempahnya sama sekali. Lalu lauknya dibersihkan, dipotong kecil-kecil supaya siap makan. Kita ngga pernah kesulitan tuh dengan yang namanya duri atau tulang, semua sudah dipersiapkan supaya tinggal lahap. Lalu itu semua…dimasak berjam-jam lamanya…bahkan ada yang seharian!

image

Ini terjadi pada itiak lado mudo (jawa : bebek sambel ijo) yang kami beli dalam kondisi frozen, supaya bisa dibawa ke Surabaya. Bebeknya direbus dalam rempah-rempah seharian penuh..kata teman-teman sih bebeknya jadi empuk dan mantap jaya. Hadeuh..ngeces deh…

Akhirnya saya sampai pada titik jenuh makan santan, terus nyoba di warung tenda, ada yang namanya nasi sop ayam. Ah, ada juga yang light! Pesan dooong..dan muncullah di hadapan saya…semangkuk soto. Oalaaah..ternyata yang mereka maksud dengan sop itu serupa soto banjar yang saya coba di Surabaya. Tak apa, yang inipun enak juga.

Makanan di hotel, karena hotel kami kelas tiga, breakfastnya ngga banyak variasinya. Yang khas ya lontong sayur, lagi-lagi bersantan. Kudapannyapun macam onggol-onggol,  klepon, kue tepung beras, pokonya yang pakai santan, gula merah dan parutan kelapa. Kecenderunganya memang kudapannya manis, termasuk jajanan mirip kue cucur yang kami temukan di pinggir jalan. Bahkan kopi dan tehpun sudah manis dari sononya.

image

Mereka juga suka menggunakan susu kental manis. Pantas saja banyak baliho iklan Carnation, denga huruf gede-gede ‘Lamak Bana!’ alias enak benar di sepanjang perjalanan Padang Bukittinggi. Pesan kopi aceh, kopinya sih enak, tapi manisnyaaa…ampun dah…susunya banyak nih kayanya…pokonya minuman kopi dalam sachet yang biasanya kami minum di Jawa lewat semua dah!

image

Yang gurih-gurih benarnya ada kudapannya. Waktu kami nongkrong di depan toko songket, ada satu warung yang jual opak atau samiler yang kami biasa temui di Jawa. Bedanya, opaknya ni kecil-kecil dan diberi bawang pre. Kita juga mengunjungi toko oleh-oleh, kebanyak kripik-kripik gitu deh. Ada kripik singkong, kentang, jamur, dan aneka rendang, ada rendang telur, jamur, daun singkong. Beli di toko ini enak sih, ada testernya, terus cepat juga pelayanannya, dus bakal dibawain ke kendaraan kita. Tapi hati-hati keliru bawa, trus mereka ngitungnya virtual, jadi ngga ada bukti pembayaran.

image

Jadi, begitulah kuliner Bukittinggi…almost impossible to refuse it 🙂

***
IndriHapsari

Advertisements