Drone, Dari Senjata Pembunuh ke Pengirim Barang

Kagum deh saya, benchmarking lintas industri ini memang terbukti memunculkan ide-ide kreatif, yang ternyata berdaya guna di kemudian hari. Masih ingat mainan anak carousel? Mainan yang terdiri dari kuda-kudaan yang dibuat melingkar, lalu begitu lagi dimainkan jadi berputar beberapa kali ini, diadopsi oleh sistem pergudangan, atau warehouse management system.

Order picker atau pengambil barang tidak perlu berjalan ke rak penyimpanan, tapi cukup berdiri anteng, putar kenop atau tekan tombol, dan raknya akan berputar, hingga barang yang dituju sampai di depan mata. Perputarannya bisa vertikal dan horisontal, biasanya untuk benda-benda yang kecil. Misal obat, mur baut, contoh sederhana yang sudah ada, adalah rak penyimpanan kartu pos atau anting. Tapi makin lama makin besar kapasitasnya, misal bicycle carousel rack berikut ini. Cukup berdiri di satu posisi, dan putar raknya, agar produk yang diinginkan sampai di hadapan.

20131217-073300.jpg

Nah, sekarang dalam hal distribusi barang, ada lagi nih satu inovasi, yang diadopsi dari senjata pembunuh. Namanya Drone, robot pesawat tanpa awak, yang biasa digunakan di pegunungan Pakistan, Afganistan dan Yaman. Kondisi yang sulit dilalui dan berbahaya, menyebabkan sulit untuk melakukan serangan. Maka melayang-layanglah si Drone ini, mencari target, dan menembaknya. Sayangnya dalam pelaksanaannya, banyak masyarakat sipil menjadi korban.

Hiiiy!

Namun Amazon melihat potensi Drone lebih jauh lagi. Drone digunakan untuk mengantarkan barang yang dibeli dari situs belanja ini, dengan janji 30 menit sampai. Yah, sudah seperti pizza saja, dengan jangkauan 16 kilometer, dan bisa membawa beban sekitar 2,3 kilogram. Tanpa awak, lewat udara, berarti tanpa kemacetan. Seingat saya pizza saja hanya melayani radius 5 km, baru dia berani menawarkan voucher jika melewati waktu 30 menit. Itupun sambil menyaksikan aksi heroik pengantarnya, yang berusaha menembus kemacetan agar cepat dan selamat sampai tujuan.

20131217-073344.jpg

Dinamakan Amazon Prime Air, alat ini kan mendeteksi tujuannya dengan Global Positioning System (GPS). Berbeda dengan pesawat atau helikopter mainan yang dikendalikan dengan remote control, Drone ini mempunyai empat kaki untuk mendarat. Launching pertama akan dilakukan pada tahun 2015, meski banyak yang menyangsikannya.

20131217-073431.jpg

Yah, kalau dibayangkan ya, kalau beneran jadi, udara akan dipenuhi dengan Drone dan teman-temannya yang akan bersliweran mengantarkan barang. Pengaturan dan sensor tentu diperlukan, supaya ngga saling bertabrakan, atau nabrak jendela orang. Ijin terbang tentu harus diberlakukan, supaya ngga sembarangan orang atau perusahaan bisa menerbangkannya. Bisa – bisa Drone malah jadi pelampiasan mereka yang kepo terhadap kehidupan orang lain. Paparazzi bisa ngga laku. Atau, bisa saja kan, si Drone ini justru dicegat di jalan. Diketapel, atau ditembak dipikir burung. Begitu jatuh, lenyaplah si pengantar dan paketnya.

20131217-073528.jpg

Tapi, semua pasti bisa diatasi. Jangan resisten terhadap teknologi hanya karena takut ini itu. Pemerintah Australia sudah menggunakannya untuk mengintip imigran gelap yang masuk teritori Australia. Perusahaan minyak dan gas menggunakannya untuk mengawasi jaringan pipanya. Petani di Jepang menggunakannya untuk menyemprot pestisida. Ya aman-aman saja tuh, dan yang pasti berdaya guna.

20131217-074426.jpg
***
IndriHapsari

Referensi :
Majalah Tempo, 16-22 Desember 2013
http://www.tempo.co/read/news/2013/12/10/072536011/eBay-Ragukan-Drone-untuk-Antar-Barang-
http://www.bbc.co.uk/news/technology-25180906
http://www.theverge.com/2013/12/1/5164340/delivery-drones-are-coming-jeff-bezos-previews-half-hour-shipping
http://www.huffingtonpost.com/mark-weinstein/amazon-drones-orwellian-m_b_4415568.html

Gambar :
http://www.techbeat.com
http://www.latimes.com
http://www.robrogers.com
http://www.techradar.com
http://www.designphiladelphia.com

Advertisements