Kangen Pecel

Katanya si chef Prancis itu mau bikin Ratatouille, sup sayur seperti di film kartun dengan judul yang sama, Ratatouille.

Dengan bahasa Inggris aksen Prancisnya dia menumis bawang merah dan bawang putih yg utuh, alih-alih mencacahnya. Kemudian ia membuang isi terong, karena ia hanya perlu kulitnya. Demikian juga dengan zukini (semacam timun), tanpa mengupasnya ia buat bulatan-bulatan kecil, diameter sekitar 1 cm, yang memadukan warna hijau muda dan hijau tua. Kemudian ia membakar bagian luar paprika merah untuk menciptakan aroma terbakar, hingga paprika menghitam. Selanjutnya ia mencuci bersih kulit untuk menghilangkan kerak-kerak hitam tersebut, membuang isinya dan memotong kulit paprika menjadi beberapa bagian.

Sausnya adalah biji tomat (kali ini kulit dan isinya dibuang) yang dicampur dengan minyak zaitun.

Lalu, ‘siksaan’ itu dimulai. Dia mengambil cetakan kotak, seukuran wafer, lalu dengan hati-hati menyusun bahan-bahan yang sudah dipersiapkannya. Pertama, taruh terong dengan menggunakan garpu untuk memenuhi dasar cetakan. Berikutnya adalah bawang utuh, paprika, dan terakhir adalah zukini. Finishingnya, adalah biji tomat yang ditaruh satu persatu, dengan menggunakan sumpit.

Mendadak, saya jadi kangen pecel.

Sama-sama sayur, tapi sanggup memenangkan hati saya (eaaa…). Ragam sayuran hijau yang dikukus terlebih dahulu, tersedia melimpah menunggu untuk dipadukan. Saus kacang disiram di atasnya, lengkapi dengan rempeyek dan nasi hangat, sungguh menu sarapan yang menggoda. Mau lebih tergoda lagi, lengkapi dengan pilihan telur dadar atau ceplok atau rebus, daging empal, ayam goreng, rempela ati, paru, bakwan goreng, tahu dan tempe goreng, sate usus…tinggal pilih, yang pasti, perut kenyang, hati senang.

Entah ya, mungkin karena perut Indonesia saya merasa tersiksa jika disuruh makan porsi seuprit, lama dan belum tentu enak itu kalau dilihat dari bahan-bahannya. Dalam konsep dining, sup masuk urutan pertama sebagai appetizer atau pembuka, jadi semoga saja main course dan dessertnya lebih bisa mengisi kapasitas perut saya. Kalau tidak, paling habis diundang dinner chef Prancis itu (misaaal *sebelum ada yang protes*), berikutnya saya bisa kedapatan sedang menunggu dengan khidmat di samping gerobak nasi goreng.

Mengenai lamanya waktu yang dihabiskan untuk membuat dan menyajikan makanan tersebut, saya bayangkan untuk seporsi saja dia menghabiskan waktu setengah jam sendiri, termasuk iklan. Lah, kalau seratus porsi? Apa ngga lumutan tuh yang nungguin?

Makanan Indonesia sebenarnya sama saja ribetnya. Kalau baca bukunya Bondan Winarno, tentang 100 Makanan Tradisional Indonesia Mak Nyus, disana Pak Bondan tidak hanya memberikan rekomendasi tempat makan mana yang makanan tradisionalnya enak, namun juga menyertakan resep yang ia dapatkan dari narasumber, maupun direka ulang karena tak semua mau membuka rahasia resepnya. Makanan Indonesia kaya rempah, proses persiapannya lama, ada yang diolah kemarin untuk disajikan hari ini, dan pemilihan bahanpun ngga main-main untuk mendapatkan rasa yang juara.

20131029-220446.jpg

Namun, begitu masuk penyajian, semua dilakukan dengan cepat. Contoh pecel tadi, bikin saus kacangnya ya ribet. Tapi nantinya tinggal tuang atau diulek sebentar dengan sayuran. Lalu sayur, ibu penjual pecel dengan sigap menjumput sedikit-sedikit, dan menyusunnya dengan rapi di atas nasi yang hangat. Bikin rempeyekpun ngga mudah (pengalaman dari seseorang yang merasa mendingan beli daripada bikin *siapa yaaa*), tapi semua bisa disajikan dengan cepat pada pelanggan. Mau rempeyek teri atau kacang, hayo ajah!

Kalau soal rasa, lidah ngga bisa bohong. Mungkin karena sejak kecil kita akrab dengan makanan tradisional yang dimasak oleh Ibu tercinta, maka bahan-bahan asing jadi menyurutkan selera kita untuk menyantapnya. Awalnya saya kira ini masalah porsi, memandang lapisan sayuran dalam bentuk kotak kecil, terpajang dengan indah di tengah-tengah piring putih ngga bisa menggugah selera saya. Penampilannya sih OK, colourful dan nyeni. Tapi meskipun gratis mungkin saya akan pikir-pikir untuk menancapkan garpu saya pada makanan itu, apalagi kalau bayar!

Membayangkan saya mesti mengejar-ngejar zukini yang menggelinding di piring, lalu membayangkan paprika yang baunya kaya cabe tapi ngga pedas (terus apa gunanya dong jadi paprika #eh) kulit terong dan bawang utuh (pendapat dari seseorang yang meyakini irisan bawang merah hanya cocok berada di ujung tusukan sate kambing *ngga ngaku* )…sedikit saja sudah membuat saya enggan menyantapnya, apalagi kalau banyak! Jadi, ini bukan urusan porsi. Tapi rasa. Jiwa. Cinta.

Waduh, urusan makanan sampe segitunya ya…

Dan memang harus ‘sampai segitunya’. William Wongso, pakar kuliner Indonesia, sudah kenyang keliling Indonesia mencari resep otentik dan bisa dijadikan standar, ini loh makanan khas Indonesia. Beliau mereka resep di dapurnya, agar ada standar takaran dan proses pembuatan, sehingga misal, rendang yang dibuat di Sumatra dan Swedia, akan sama rasanya.

Melihat acara kuliner di saluran televisi dunia, saya jadi menyadari, makanan kita ngga kalah kok. Kepiawaian chef atau koki atau juru masak Indonesia juga ngga perlu diragukan lagi, banyak yang bekerja di restoran luar negeri maupun di kapal pesiar. Dua tante saya, bukan chef, tapi memberanikan diri menjual makanan khas Indonesia, laris menerima pesanan di negara mereka berada. Pesanan datang bukan hanya dari orang Indonesia, tapi juga penduduk lokal.

Yang kurang dari kita adalah promosi dan networking atau jaringan. Maka yang muncul selalu makanan negara tetangga, yang kalau nyobain langsung disana, pasti deh, tiba-tiba kangen pecel itu. Lalu jaringan juga diperlukan, agar dipercaya dan dipermudah ketika hendak meng-global. Dulu masih saya lihat acaranya Pak Bondan dan anaknya, Gwen, yang keliling nusantara dan mengomentari berbagai makanan tradisional yang mereka cicipi, dalam bahasa Inggris. Sayang acara ini hanya berlangsung sebentar, dan sebagai gantinya ya menu seperti chef Prancis itu yang muncul.

Memang sih, kita berada pada dunia yang berbeda. Perbandingannya ngga bisa apple to apple, tapi Apple to Samsung (#eh).

‘Masa mau bandingin Ferrari sama bajaj?’

Ah, masa tega sih membajaj-bajajkan kuliner sendiri?

***
IndriHapsari
Foto : pribadi

Advertisements