Tips Menikmati Puisi

‘Kalau disuruh baca puisi, saya nyerah deh!’

Teman saya itu ngomong bukan dalam konteks mendeklamasikan puisi loh. Tapi baca puisi karya orang lain, dalam hati. Itu saja dia sudah menyerah. Ngga ngerti apa yang dimaksudkan pujangganya. Apalagi disuruh menyuarakannya di atas panggung. Bisa nervous dia.

Puisi, yang terdiri dari baris-baris pendek itu memang ajaib. Kata-katanya pendek, terkesan aneh, tapi kaya makna. Entah karena kata itu sendiri memang sudah kuat maknanya, atau karena ia digabung dengan kata lain. Ide yang ditampilkan juga unik, cenderung liar. Kok bisaaaa ya mikir kaya gitu. Bahkan ada yang bermain-main di jumlah baris, di rima, bahkan di tipografi sehingga puisinya selain enak dibaca, juga enak dilihat.

Puisi yang lengkap adalah puisi yang bisa memunculkan karya dalam format lain. Deklamasi atau pembacaan puisi menurut saya adalah karya yang melengkapi. Seorang penyair bisa memberikan kesan dengan mengubah tempo, menaikkan tekanan, mengubah intonasi dan volume suara. Belum kalau dipadukan dengan gerak dan drama. Wah, sip itu. Mau yang lebih sederhana adalah deklamasi yang diiringi musik. Kita dapat dengan mudah mendengarkannya dari Youtube maupun Soundcloud.

Puisi yang baik akan membuat pembacanya berminat untuk berpikir, makna apa yang sebenarnya ada. Bukannya saking ngga ngertinya lalu ditinggal. Namun meski belum dimengerti, pembacanya akan mengulang dan mengulang lagi, seraya menerka ada maksud apa dibaliknya. Selain dari tema yang menarik, diksi yang digunakan menambah wawasan kita. Teknik penyampaiannya juga bisa dipelajari apakah demi keindahan semata, atau memang menunjang isi puisi.

Puisi ada pula yang menggunakan diksi yang sederhana, teknik penyampaian yang tembak langsung, dan sangat mementingkan rima. Itupun tak apa, hanya makna harusnya tak tersampaikan langsung. Atau maknanya ada banyak, dan saat itu pembaca hanya menemukan satu.

Puisi yang mbulet juga ada. Dibaca berkali-kali tetap ngga ngerti. Mau tanya penyairnya, iya kalau yang ditanya mau jawab. Ada juga tuh yang ogah jelasin, sampai saya curiga dia nih sebenarnya tahu apa tidak yang ia tuliskan. Oh memang, puisi juga berpotensi menyebabkan beberapa pihak merasa puisi itu ditujukan untuk dirinya. Entah harus disebut berhasil atau tidak puisi yang seperti ini, karena berhasil mempengaruhi pembaca.

Lalu, puisi yang bagus itu gimana?

Kalau saya sih, berhubung bukan penyair hanya penikmat dan sesekali bereksperimen dengan puisi, saya lebih percaya hati.

Ya, ada puisi-puisi yang sulit dicerna logika. Yah mungkin saya aja yang duduls, levelnya beda dengan para pujangga yang mikirnya sudah ngga di tahapan estetis lagi. Tapi meski ngga ngerti, hati saya mengatakan bahwa puisi ini indah, memerintahkan otak saya untuk membacanya lagi lagi dan lagi, sampai rasa penasaran saya terobati.

Untuk jenis yang sulit dicerna ini, saya lebih memilih puisi-puisi pendek. Karena yang pendek aja bingung, kalau panjang bisa mumet. Puisi karya Sapardi Djoko Damono dan puisi satu baris Sitor Situmorang (Malam Lebaran. Bulan di atas kuburan) jadi renungan saya selama bertahun – tahun.

20130914-222150.jpg

Ada pula puisi yang mudah dicerna, namun arti yang dikandungnya lebih dalam dari kata itu sendiri. Kalau yang ini Wiji Thukul dan Joko Pinurbo bisa mewakilinya. Baca puisi karya mereka, ada rasa yang selalu tersentuh. Entah haru, bahagia, atau marah.

Puisi karya Wiji Thukul

20130914-221825.jpg

Puisi karya Joko Pinurbo

20130914-221555.jpg

Akhirnya, kalau ada yang tanya bagaimana membuat puisi, mungkin saya hanya akan minta yang bersangkutan membaca artikel ini, bagaimana menikamti puisi. Dengan membalik prosesnya, buatlah puisi yang bisa dinikmati, paling tidak oleh penyairnya sendiri. Dan untuk urusan ini, gunakan hati. Karena puisi adalah tentang kejujuran.

***
IndriHapsari

Advertisements