(11) ARTIFICIO

‘Permainan apa ini, Adit? Sebentar. Namamu dulu. Siapa kau, berani-beraninya menyaru jadi suamiku??’ teriakku padanya. Kami telah sampai di rumah. Satu jam lagi kami harus menjemput anak-anak pulang sekolah. Aku harus selesaikan masalah ini, sebelum makin runyam.

Ia menghela nafas. Kepala ia tundukkan dengan kedua telapak tangannya menutupi wajah. Nampak lelah dan tertekan.

‘Namaku Baskara, adik Aditya,’ katanya perlahan.

Aku membelalakkan mata padanya.

‘Dan mahluk macam apa kau, yang tak muncul di pernikahan kakakmu, tak pernah menengok keponakanmu, dan tiba-tiba muncul disini sok menjadi pahlawan??’ Tanpa sadar aku berteriak kepadanya.

Ia terdiam. Kemudian ditegakkan tubuhnya, memandangku dengan wajah yang sedih.

‘Kami memang tak pernah akur, aku dan Adit. Ia hanya selisih satu tahun di atasku, dan nama kami sama-sama matahari. Mungkin karena itulah kami selalu bersaing untuk menjadi yang terbaik, sampai akhirnya kami saling memisahkan diri.’

Ia terdiam lagi. Lalu berusaha melanjutkan ceritanya.

‘Adit selalu mendapatkan semua. Anak baik-baik, begitu mereka menyebutnya. Sementara aku, sibuk mencari perhatian dengan tingkahku yang tak bisa diatur. Adit si anak sempurna, dan Baskara si pembangkang.

Itulah sebabnya, meski diterima di universitas yang sama, aku memilih tidak satu jurusan dengannya. Aku ingin tunjukkan apa yang aku bisa, tanpa berada di bawah bayang-bayangnya. Berkat usahaku, aku bisa diterima di perusahaan minyak internasional, dan bertugas berpindah-pindah tempat, tergantung lokasi pengeboran.

Adit kutinggalkan. Demikian juga semua kenangan menjadi nomor dua. Aku bisa menjadi diriku sendiri. Memiliki kehidupanku sendiri. Pun ketika mendengar kabar ia akan menikah, aku berusaha peduli. Sebenarnya ada rasa iri mengapa ia yang mendahuluiku bertemu dengan tambatan hati. Kusampaikan selamatku lewat Bapak Ibu, sudah cukup. Dan aku memang sengaja tak menanyakan lagi bagaimana kabarnya.

Sampai…Bapak meneleponku. Menangis. Tak pernah aku mendengar Bapak menangis selama ini. Saat itulah aku merasa…ada sesuatu yang terjadi. Dan ketika mendengar hilangnya Adit…serasa ada setengah jiwaku yang hilang.

pinterest.com/pin/339388521889851161/

pinterest.com/pin/339388521889851161/

Bagaimanapun, kami bersaudara. Kami pernah bermain bersama. Kami pernah bersembunyi di bawah meja, saat melakukan kenakalan kala masih anak-anak. Adit ternyata pernah pulang dengan babak belur, karena membelaku saat SMA dengan para pengacau itu. Bapak yang akhirnya menceritakannya, karena Adit menyuruh Bapak merahasiakannya.

Ia…pernah menjadi kakakku.’ Kini suara Baskara mulai bergetar. Cepat ia hapus air matanya dengan punggung tangannya.

‘Lalu aku mulai merasa bersalah. Selama ini aku tak mau tahu tentang kehidupannya. Tak pernah menanyakan bagaimana kabarnya. Lalu Bapak bercerita tentang Andrew dan Angela, dua keponakan yang tak pernah kutengok. Anak-anak yang kehilangan bapaknya, pada usia yang masih sangat muda.

Maka ketika Bapak bercerita Andrew masuk rumah sakit, aku memutuskan untuk pulang. Menengok keadaannya, sekaligus memperlihatkan mereka masih punya Om yang mungkin bisa mencurahkan sayang pada mereka. Sesuatu yang harusnya kulakukan saat Adit masih hidup.’

Aku tertegun memandangnya.

‘Dan… kenapa tiba-tiba kau menjadi Papa mereka?’ tanyaku ingin tahu.

‘Angela,’ kata Baskara sambil memandangku. ‘Waktu itu aku, Ibu dan Bapak menjemput Angela, untuk dibawa ke rumah sakit menemuimu dan Andrew. Saat pertama melihatku, ia langsung berteriak ‘Papa!’ dan langsung memelukku. Ia menangis sambil tertawa. Saat itulah kami menyadari, kemiripan aku dan Adit selama ini.

Bapak mengusulkan, mungkin jika aku berpura-pura menjadi papa mereka, mereka akan lebih ceria. Aku sendiri…terus terang jatuh cinta saat melihat mereka untuk pertama kali. Mereka bagai malaikat-malaikat kecil, yang mengingatkanku indahnya untuk saling mencintai.

Satu-satunya masalah adalah pekerjaanku. Saat ini aku sedang off dan mengambil cuti. Tapi kelak aku harus kembali untuk bekerja lagi. Kemudian kami, aku dan orang tuaku, sepakat untuk menjalankan suatu rencana. Menjadi papa bagi Andrew dan Angela, yang sewaktu-waktu pergi karena harus dinas ke luar negeri.

Rencana yang sempurna…sebelum kau membongkarnya.’ Ia memandangku dengan lembut. Sesuatu yang salah kuduga. Kupikir ia akan marah karena kutekan sedemikian rupa, namun ia menanggapi dengan berbeda.

Aku memejamkan mata. Meski ia yang didepanku bisa mempertanggungjawabkan peranannya, tapi ada kesedihan yang semakin mendalam. Berarti selama ini bukan Adit? Berarti benar Adit sudah tiada? Berarti selama ini keyakinanku semu?

Sebuah genggaman di tangan kurasakan. Baskara sedang memegangku erat.

‘Sekar, aku minta maaf. Minta maaf atas semua yang telah kulakukan. Bukan maksudku untuk mengambil keuntungan dari situasi ini. Aku hanya ingin kau, Andrew dan Angela bisa bahagia kembali. Maaf karena kadang kuterlupa, aku bukan pria bebas saat menjadi Adit. Aku turuti kata-katamu untuk mengurangi rokok, karena khawatir dengan kesehatanmu sekeluarga. Dan Sekar, aku berusaha untuk menjaga kesucian hubungan kita.’

Aku memandangnya tak mengerti.

‘Sekar, itu sebabnya aku selalu menghindari terlalu dekat denganmu. Kasihan kau bila sesuatu terjadi antara kita. Hanya saja, makin lama terasa makin sulit seiring dengan makin dekatnya hubungan kita. Aku … mengagumimu. Lalu kemarin, saat aku tak tahan untuk memelukmu hingga terlelap, kau tak tahu betapa berat bagiku untuk tak melakukan hal yang lebih jauh lagi.

Karena itu aku menghindarimu. Secara fisik maupun pikiran. Itu…lebih baik bagi kita berdua.’

Aku terdiam, berusaha mencerna penjelasannya.

‘Sekar…’ katanya lagi.

‘Pergi,’ kataku lemah.

‘Sekar…’ pintanya.

‘Pergi!!’ bentakku padanya. ‘Sudah cukup, Baskara! Sudah cukup kau mengacaukan hidupku dan anak-anakku. Kami tak butuh penipu! Pergi. Jangan mencoba untuk kembali!’ Aku bangkit dan membuka pintu ruang tamu.

‘Tapi Sekar…anak-anak…’ pintanya lagi.

‘Aku yang akan mengurus mereka!’ tegasku.

Dengan lunglai ia melewati pintu. Kali ini tanpa menunggu ia keluar dari gerbang, segera kubanting dan kukunci pintu.

Aku menangis terduduk di balik pintu.

Adit…kalau saja kau tahu apa yang kulakukan selama ini…sesalku.
*
(BERSAMBUNG)

Advertisements