Tambah Umur, Tambah Tipis

Setelah kemarin merenung apa yah yang tambah umur jadi tambah besar, berikutnya adalah apa yah yang tambah umur tambah tipis, atau kecil deh. Hebat yah, orang lain sih mikirin negara, saya malah mikirin diri sendiri šŸ™‚

Kalau diperhatikan, rasanya rambut deh tambah tipis. Dulu berapa, sekarang berapa. Sudah berkurang sekitar 1000 lembar dari sekitar 100.000an dari kepala kita. Ngga percaya? Hitung aja! Gampang kok…satu…dua..tiga…begitu.

Belum mulai muncul uban, yang lama-lama akan mendominasi warna hitam. Sempat panik waktu ketemu yang pertama, namun seperti layaknua cinta, yang pertamalah yang paling kita ingat * cia..cia..cia…*. Yang lainnya, pasrah saja waktu mbak salon bilang ‘Mbak, saya cabut ya?’. Ok, itu pertanda..suatu saat nanti, saya ngga bisa mengijinkannya lagi kalau ngga mau kepala saya pitak saking banyaknya uban.

Makin tua, sepertinya kita *kita? Iya dong, saya kan suka ngajak-ngajak!* menginginkan barang yang tambah tipis, tambah kecil, tambah imutz pake z. Misal nih, ponsel, maunya yang tambah tipis supaya ngga berat waktu ngobrol berjam-jam di ponsel *siapa yaaa…*. Tapi anehnya layar harus tambah lebar, supaya mata ngga capek kalau membacanya. Kalaupun tidak bisa, ukuran hurufnya diperbesar meskipun harus scroll lagi scroll lagi.

Earphone buat dengerin musik juga harus kecil, sehingga heran dengan anak-anak sekarang yang malah berlomba-lomba pakai headphone segede gaban *gaban itu apa juga mereka belum tentu tahu* dengan warna dan gambar yang menarik perhatian.

20130421-044246.jpg

Televisi, yang layarnya tipis dong, sejalan dengan konsep minimalis yang terpaksa harus diterapkan karena keterbatasan ruangan. Bertahun-tahun kami cuek pakai TV tabung 14 inch karena merasa ngga perlu TV dengan layar lebar, sampai petugas pemasang saluran TV kabel heran. Sudah dibilangi bahwa itu TV kami satu-satunya yang akan menayangkan acara yang dilanggan, dia tetap mengira itu TV untuk main game :P. Pelit? Ngga juga. Buktinya, sekarang kami menggunakan TV layar datar, karena dibelikan *teuteup..pelit! Hehehe…*

Sepatu, tambah tipis haknya. Dulu bisa tuh pakai hak 7 senti, berdiri berjam-jam, naik turun 4 lantai pakai kaki eh tangga, meskipun ujungnya adalah kaki kram. Sekarang, maksimal 5 senti saja, itupun yang wedges supaya tumitnya ngga lelah menanggung berat badan yang bertambah, dan lebih sehat. Sebenarnya kalau boleh komplain, mungkin sudah teriak-teriak tu sepatu…

Lainnya, telinga dan bibir ini rasanya lebih tipis deh. Maksudnya sensi banget. Dengar yang ngga mengenakkan hati sedikit, hati langsung meradang. Maunya balas dendam, curigaan, dan kepingin labrak sini hasut sana. Paling klop kalau sudah kerjasama dengan bibir yang juga tambah tipis. Kerjanya jadi gampang ngomelin dan ngatain orang, padahal otak belum say ‘Yes’ lo terhadap ucapan yang kita keluarkan. Jadi yang harus dipelajari adalah berusaha cepat dalam berpikir, tapi lambat dalam berucap.

Mulutmu harimaumu, jangan ganggu burung milikku #eh šŸ˜€

20130421-044353.jpg

***
sumber gambar : profesionalptandtraining.com

Advertisements