Dilema Wanita yang Melayani Wanita

Jangan berpikiran negatif setelah membaca judul di atas. Saya tidak tertarik untuk membahas area tersebut. Di sini saya akan menceritakan tentang para wanita yang bergerak di bidang jasa, untuk membuat wanita lain merasa nyaman.

20130421-081005.jpg

Yang pertama adalah suster atau nanny atau pengasuh anak. Mereka memberikan jasa mengasuh anak majikan, merawat, bahkan mendidiknya, saat Ibu memiliki kesibukan. Karena mereka ada, Ibu punya kesempatan untuk bekerja, merawat diri, dan bersosialisasi dengan teman tanpa terganggu rengekan anak. Ada juga yang sampai membiarkan anak tidur dengan pengasuhnya, karena Ibu sibuk ‘bersosialisasi’ hingga subuh. Pengasuh hanya punya kesempatan keluar saat mengantar anak sekolah atau les, dan yang dia saksikan adalah majikan yang begitu sibuk dan tidak begitu peduli pada anak sendiri karena kurangnya dekapan sayang yang diberikan sang Ibu. Pengasuh kadang harus menitipkan anaknya di rumah orang tuanya, karena dia sendiri sibuk mengasuh anak orang lain.

Berikutnya adalah pegawai salon. Semua hal yang berhubungan dengan kecantikan dan perawatan, mampu mereka lakukan dengan keramahan yang tetap terjaga meskipun pelanggan adalah orang yang cerewet. Banyak orang bilang pegawai salon adalah their best friend. Karena mereka terlepas dari pergaulan yang pelanggan ikuti, yang berarti pelanggan bisa bebas curhat gosip yang ada dalam pergaulan itu, tanpa takut rahasianya bocor. Dilayani sambil mengungkapkan isi hati, tidak ada yang lebih menyenangkan dari hal tersebut. Pelayanan yang mereka berikan meliputi pelayanan rambut, wajah, tangan dan kaki. Pelayanan rambut seperti creambath bahkan mengharuskan pegawai salon memijat kepala, bahu, punggung dan lengan pelanggan, agar aliran darah mengalir lancar dan rambut makin sehat. Tuntutan yang dibebankan pada mereka adalah secapek apapun, tidak boleh kasar atau cemberut dalam melayani pelanggan. Jangan membiarkan pelanggan menunggu, jadi pada saat sibuk melewatkan makan siang adalah hal yang biasa. Sesibuk apapun harus tampil segar dan menarik, karena mereka akan menghadapi pelanggan yang perlu diperbaiki penampilannya. Tidak jarang mereka harus menghadapi godaan dari pelanggan pria, karena keramahan yang mereka berikan disalahartikan.

Terakhir adalah para wanita yang bekerja di klinik kecantikan atau terapis. Biasanya layanan yang mereka tawarkan meliputi lulur, pemijatan dan pelangsingan. Baik menggunakan alat ataupun tidak, selalu ada proses pemijatan yang dilakukan satu atau lebih wanita untuk mempercepat proses peluruhan lemak. Pelanggan hanya tinggal tiduran sambil merasakan nikmatnya dipijat terapis. Bagi pelanggan yang hanya mengandalkan klinik tanpa melakukan usaha pelangsingan lain (seperti diet dan olahraga) hasilnya adalah tidak ada pengurangan berat badan, dengan terapis yang makin kurus karena tenaganya habis untuk memijat pelanggan.

Buat (sebagian) pelanggan hal ini adalah dilema, karena rasa jengah mendapatkan pelayanan dari sesama wanita, yang sayang sekali nasibnya tidak seberuntung wanita yang dilayaninya. Rasanya seperti bersenang-senang di atas keringat orang lain. Tapi tidak ada alternatif lagi, karena tidak mungkin pria melakukannya, dan pelangganpun malah akan kabur karena hal ini begitu pribadi. Sedangkan wanita karena karakter dan keahliannya membuat pekerjaan ini sangat cocok dilakukan mereka.

Untuk pekerja wanita tersebut, hal ini juga merupakan dilema. Karena mereka harus mengorbankan hal-hal yang harusnya bisa mereka tangani sendiri untuk mencari nafkah yang lebih baik. Mereka juga tidak mau jika harus melayani seumur hidup karena siapa sih yang tidak senang mendapatkan perlakuan seperti yang mereka telah lakukan? Membuat wanita lain menjadi lebih cantik, lebih langsing dan lebih gaul.

Karena itu jika posisi Anda ada di pelanggan, hargai usaha mereka dengan tidak menyulitkan mereka, memuji atas pekerjaan yang mereka lakukan, dan memberikan reward jika perlu. Jika keadaan berbalik…ah tidak, Anda tidak akan ingin keadaan berbalik 🙂

Advertisements