Takut Mati

Deru angin menggetarkan tenda. Kami sudah masuk dalam kantung tidur masing-masing. Terasa sesak, karena kami tetap memakai jaket tebal berlapis, sarung tangan, masker dan penutup kepala. Alas dari karet, menyembunyikan lapisan salju yang kami tiduri.

James dan aku dalam perjalanan menuju kutub magnet di Kutub Utara. Empat ratus kilometer perjalanan dari Resolute, kota paling utara di muka bumi ini. Tiga hari telah terlewati, dan karena tak pernah ada malam di daerah ini, kami memaksakan diri sehari sekali untuk beristirahat, setelah menempuh perjalanan penuh goncangan dengan kendaraan dua kabin kami.

‘Kematian seperti apa yang kau inginkan?’ James bertanya dari sebelah meja. Tenda kami memang hanya satu, yang selalu dengan susah payah harus kami dirikan di tengah hembusan angin yang kencang. Selesai makan malam, meja kecil itu menjadi pembatas antara aku dan James saat tidur. Sempit dan konyol, kalau ada yang berpikir kami tergoda untuk saling menghangatkan. Karena siapa pula mau mengeluarkan kemaluannya di suhu minus 42 derajat celcius.

‘Bagus ya James! Saat yang tepat untuk membahas hal itu!’ gerutuku sambil melempar maskerku ke wajahnya. James tertawa. Dilempar baliklah maskerku ke kepala.

‘Mumpung di sini. Saat kematian begitu dekat. Kau tahu, beruang kutub bisa tiba-tiba menyergap kita dari belakang. Atau saat mobil terperosok ke air dengan suhu minus lima puluh. Atau, mungkin tanki bensin kita kena bongkahan es hingga bocor, hingga tak mungkin kita kemana-mana kecuali menunggu bantuan, yaaang, entah kapan datang.’

‘Bahasan yang asyik ya James!’ kataku menyindirnya. Namun tak urung juga aku menjawabnya. ‘Yang cepat saja James. Aku tak mau berlama-lama menderita. Disergap beruang, bagaimana rasanya ya..’

‘Kau tanyalah pada beruangnya.’ James terkekeh dengan leluconnya sendiri. ‘Dicabik dengan cakarnya, sepertinya itu bukan hal yang cepat.’ Aku bergidik mendengarnya.

‘Tahu ngga James, Sir Nicholas pernah tanpa sengaja mencelupkan jarinya di air bersuhu maha dingin itu. Hanya tiga menit! Pendarahan muncul dari jarinya, semua syarafnya mati. Akhirnya jari-jari itu harus diamputasi. Kini ia bertahan dengan satu jempol utuh, dan empat jari yang setengah utuh.’

Aku berusaha tenang saat mengatakannya, meski terus terang ngeri saat membayangkannya. Bisa terjadi, saat mobil kami mungkin secara tak sengaja melintasi lapisan es tipis di atas laut, terperosok, dan mobil tenggelam pelan-pelan. Tak ada yang bisa kami lakukan selain berusaha keluar dan berenang ke permukaan, dengan suhu yang bisa membuat tubuh kami mengalami frostbite.

‘Kau sendiri bagaimana?’ tanyaku padanya. Pembahasan yang menyebalkan, tapi lumayan untuk mengakrabkan diri padanya. Karena James yang kukenal selama ku mendampinginya dalam ekspedisi ini, adalah ia yang serius, yang sedikit sekali bercanda apalagi mengobrol dari hati ke hati seperti ini. Ah, hati ke hati, malah bicara soal mati!

‘Kematian yang pelan saja. Aku berharap, dengan menunda kematian, potensiku terselamatkan lebih banyak. Aku masih ingin hidup.’ katanya pelan.

Terpaksa kurenungkan kata-katanya. Itulah bedanya aku dan James. Aku menganggap kematian adalah takdir, sehingga saat hal tersebut datang, aku akan pasrahkan diri dan berharap penderitaan itu cepat berlalu. Tapi James, si optimis, justru masih berusaha di detik-detik terakhirnya. Masih berusaha melawan suratan nasib, dan berharap ada kesempatan kedua.

‘Kenapa sih, kau kepingin cepat mati?’ tanyanya lagi.

‘Ugh..’ aku memikirkan jawabannya. ‘Entah ya, apalagi yang kucari dalam hidup ini? Tak ada yang menungguku, ataupun kutunggu.’ Ah ya, dulu ada kamu, yang bersedia selalu kutunggu. Namun sejak aku tahu, kau tak pernah menungguku, aku memutuskan untuk berhenti menunggu. Bayanganmu tetap ada, namun tidak akan aku menganulir keputusanku.

‘Yaaah, meskipun tidak ada, selalu ada yang manis dalam hidup ini. Jangan hanya karena satu kejadian, atau satu orang, kau menganggap hidupmu sial adanya.’ James mulai menguap. Hm, tapi kata-kata yang keluar dari mulutnya, tetap bijak adanya.

‘Night James.’ kataku memutus pembicaraannya. Aku tak ingin membahas kamu, meski nampaknya James lama-lama tahu, aku masih saja lari dari hidupku, dan menganggap kematian adalah jalan keluarku.

***
Kami melanjutkan perjalanan kembali. Daerah yang kami lalui sudah tidak berat lagi medannya, berupa padang es luas dengan kaki langit sebagai pembatasnya. Mobil hanya mengalami sedikit guncangan. Kemarin, kami melalui daerah penuh bongkahan es yang membuat mobil seperti melalui medan offroad. Untung saja kami sudah mengganti ban mobil ini dari 28 inch menjadi 39 inch, sehingga mampu saja ia melewatinya dan tak mengenai tanki bensin yang ada.

Bruk!

Aku memandang James yang sedang mengemudi.

‘James, stop! Ada yang jatuh!’ James segera menghentikan mobilnya.

‘Apalagi nih?’ tanyanya. Aku membuka kaca jendela, dan melihat ke belakang area yang kami lalui. Nampak benda coklat itu terkapar tak berdaya di tengah padang es.

‘Meja.’ kataku. ‘Terjatuh dari bak mobil ini. Kurang kuat mungkin mengikatnya. Kuambil ya.’ Aku membuka pintu mobil.

James mencegahku. ‘Ngapain jalan? Aku putar balik saja.’

‘Ngga apa.’ jawabku ngotot. ‘Lagian aku sudah capek duduk terus.’ Ya, lima belas jam duduk di mobil, melelahkan juga. Pantatku seakan rata.

‘OK.’ James mengalah. Ia kini sibuk mengutak atik peralatan GPS yang terpasang di dashboard.

Uah, lega juga bisa berdiri meluruskan badan. Aku segera melangkah menuju meja itu berada. Angin dingin berhembus, namun tak kencang. Dengan merapatkan jaket aku mendekati tempat meja itu berada. Kucoba angkat, huft, tidak begitu berat. Bergegas aku balikkan badan hendak menuju mobil kami kembali.

Dan disanalah kulihat ia, sudah bersiap menyerangku.

Beruang kutub.

Tubuhnya yang tinggi besar kini sudah berdiri di atas kedua kakinya. Kedua kaki yang lain terangkat ke udara. Cakarnya yang runcing berkilauan ditimpa sinar mentari. Giginya yang tajam seakan menyeringai. Oh Tuhan…ampuni aku!

Aku hanya bisa terdiam. Tetap memegang meja tersebut, mataku terbelalak menatapnya. Tak ada yang bisa kulakukan. Mahluk yang meskipun beratnya hampir satu ton ini, kemampuan mengejarnya bisa secepat laju mobil.

Dor!

Kesadaranku pulih kembali. Satu tembakan ke udara, dan beruang itu lari dengan cepat, menggunakan keempat kakinya.

Meja kujatuhkan. Terduduk aku dengan lemas. Jantungku berdetak dengan kencangnya. James berlari ke arahku sambil membawa senapan.

‘Hei, kamu ngga apa?’ tanyanya prihatin. Dipeluknya aku sambil tetap ia memegang senapannya.

‘James…’ aku mulai menangis dalam pelukannya. Takut. Dan baru kali ini bisa kutumpahkan sejak keterkejutanku tadi.

‘Sudah…sudah lewat.’ James menepuk-nepuk punggungku. ‘Kau sudah aman sekarang. Mari, kita cepat kembali ke mobil, sebelum kawanannya mencium keberadaan kita.’

Di dalam mobil, aku lebih banyak diam meski James banyak bertanya apakah aku baik-baik saja. Aku baik, tapi aku sadar apa yang salah.

Ternyata, aku takut mati. Aku takut saat hidup itu akan direnggut oleh malaikat kematian. Aku..masih mencintai hidupku. Dan kesulitan-kesulitan yang harus aku lalui, itu semua harus dihadapi, bukan lari sejauh mungkin.

Terutama, mungkin aku harus menghadapimu. Mengatakan bahwa aku cinta padamu, dan setelah kamu tahu, barulah aku bisa meninggalkanmu dengan ikhlas. Ikhlas karena kamu telah menjadi milik seseorang. Tak ada yang disembunyikan lagi. Tak ada yang harus aku hindari.

Mungkin dengan cara begitu, aku bisa merelakanmu.

***
‘James, kau tak apa pergi sendirian?’ kataku pada James sebelum kami berpisah di Resolute Bay Airport.

James nyengir. ‘Kau pikir, sebelum kau menemaniku, aku diam saja di rumah?’

Aku tertawa. ‘Hahaha..OK James..apa rencanamu setelah ini?’ Kami akhirnya berhasil menemukan posisi kutub magnet tersebut, satu tantangan telah selesai. Aku memutuskan untuk kembali ke Indonesia, sementara James melanjutkan ekspedisinya.

‘Mungkin aku akan ke Jordania, melihat Petra.’ jawabnya.

Aku hanya bisa berkata ‘Wow!’ pada rencananya.

James tersenyum. ‘Kapanpun kau mau ikut, aku akan tunda keberangkatanku untuk menunggumu.’

Aku membalas senyumannya. ‘Ya James. Aku pulang dulu, selesaikan urusanku. Aku akan memberi kabar untukmu. Dan kau, jangan lupa, kirim kabarmu. Dari berbagai belahan dunia yang kau jelajahi. Kau tahu dimana harus menghubungiku.’

James mengangguk. ‘Safe landing ya. Sampai ketemu lagi.’ Tangannya menjabat tanganku dengan erat.

‘Bye James!’ aku mulai memasuki pintu pemeriksaan bagasi.

***
James mengendarai mobilnya kembali. Kali ini sendiri. Tak ada lagi si pemurung yang harus ia ceriakan setiap hari. Tak ada lagi si polos yang selalu apa adanya, dengan segala ekspresi dan kejujurannya. Tak ada lagi si sok kuat, yang ternyata bisa menangis tersedu-sedu di pelukannya.

Virus cinta itu ternyata mudah menular ya…

***
Kisah sebelumnya : Bahkan Kau Ada di Afrika
Gambar : bbc.co.uk
Terinspirasi dari Top Gear Polar Special

Advertisements