Mengubah Nasib

20130409-013718.jpg

‘Ada seorang wanita.’

Mmmh….Fanny?

Peramal itu membalik kartu tarotnya. Keadaan tenda yang temaram membuatku tak dapat melihat dengan jelas, gambar kartu yang terbuka di hadapannya. Ada tiga kartu yang kuambil dari tumpukan kartu yang telah kukocok. Tiga kartu itulah yang satu demi satu akan dibukanya, atas pertanyaan ‘jodohku bagaimana.’

‘Dia punya banyak kesamaan denganmu.’

Aku menahan nafas. Bukan, bukan karena bau dupa yang memenuhi tenda ini. Namun ciri-ciri Fanny yang ia sebutkan. Banyak kesamaan. Ah ya, siapa lagi yang kalau diajak ngomong nyambung macam si cerdas itu? Atau si usil yang tahu bagaimana cara mengerjaiku. Bahkan, ia tahu kelemahanku tiap berhadapan dengan kemanjaannya.

‘Adakah?’ tanyanya sambil tersenyum.

Aku mengangguk. Jantungku berdetak lebih keras. Oh..Fanny. Benar kaaan, akhirnya kaulah jodohku! Tuhan, kali ini kau kompak benar denganku!

‘Kartu terakhir.’ katanya sambil memandangku. Kalau saja ini film, mungkin bunyi drum yang dipukul bertalu-talu dapat mewakili perasaanku.

Perlahan ia membalik kartu itu. Tanpa memandangku, ia berkata,
‘Wanita ini tak nampak di masa depanmu.’

***

Aku masih mengingat kata-kata peramal itu. Tak ada masa depan. Tak ada Fanny. Ia yang kini sedang asyik memandang perahu – perahu penuh lampion di sepanjang Clarke Quay.

‘Bagus ya Ndre,’ Fanny menopangkan tangan ke dagunya. Tambah manis saja ia dari samping seperti ini. Nampak lesung pipi malu-malu mengintip saat ia tersenyum.

Fanny…Aku mendesah. Tuhan mengapa kau susun skenario buruk bagi hidupku?

‘Kenapa Ndre?’ mata bulatnya menatapku ingin tahu.

‘Ngga apa.’ kataku sambil tersenyum. ‘Udah mau pesan?’

Fanny mengangguk. Aku segera mengangkat tanganku, memanggil seorang waitress yang dengan sigap mendatangi kami. Restoran seafood di pinggir Clarke Quay ini memang laris manis. Setelah dua puluh menit menunggu karena tidak reservasi, akhirnya kami mendapat meja tepat di pinggir dermaga.

Buku menu telah kami terima. Waitress itu tetap menunggu di samping meja. Dikeluarkannya buku catatan dan pulpen dari saku celemeknya.

‘Pesan apa Fan?’ kataku menawarkan pada Fanny.

‘Ehm..kepiting? Kepiting di sini terkenal besar-besar lo Ndre..’

‘Jangan!’ tak sadar aku berteriak mencegah Fanny. Wah, kalau Fanny salah memakan cangkangnya, dan ia tersedak, lalu sesak nafas gimana?

‘Eh? Ngga boleh?’ Fanny menatapku bingung. Tadi nawariiiin…

‘Iya..ngga usah ya sayang.’ rayuku. ‘Kolestrol tinggi. Lobster juga jangan. Mm…ini aja, udang, sama ikan ya?’ sambil kutelusuri daftar menu yang ada. Kolestrol? Huh, bukannya sama saja antara kepiting dan udang? Semoga Fanny ngga menganggapku pelit sekarang…

Fanny nyengir. ‘OK deh, ikut aja.’ Setelah menambahkan dua nasi putih dan memesan minuman, kami menunggu pesanan datang.

‘Fan,’ kataku sambil menggenggam tangannya. ‘Kebayang ngga, kita bisa gini terus?Selamanya?’ terasa menyakitkan saat kita mengucapkan sesuatu yang kita tahu tidak akan seperti itu.

‘Iya dong..aku ingin ngga cuma malam bisa bareng kamu. Tapi saat pagi, siang, kapanpun, ada kamu di sisiku.’ Fanny memandangku mesra.

‘Kalau ngga..gimana Fan?’ tanyaku lagi.

‘Ah..kalau ngga ya..mmm…dipikir nanti aja deh! Hahaha…’ tawanya berderai. Mulai lagi si Fanny, tiap diajak bicara serius sedikit, ngga enak sedikit, ada saja alasannya untuk mengesampingkan dan menolak untuk membahasnya lebih lanjut.

Masih di hadapannya. Aku masih menikmati kesempatanku bersamanya..

***

Kami berjalan menyusuri Clarke Quay, melewati deretan restoran dan nightclub yang ada. Kupeluk Fanny erat-erat, seakan hanya malam inilah kesempatan kami bersama. Wangi rambutnya menelisik hidungku. Berkali-kali kucium dengan lembut rambut gadis di sebelahku.

‘Eh Ndre, ada es krim! Beli yuk!’ Kami kini berdiri di depan kedai es krim Turki yang ramai dikelilingi pembeli. Sebabnya, penjualnya dengan atraktif menggunakan tongkat panjang memainkan cup es krim, membolak – baliknya, hingga mengisi cup itu penuh, dan memberikannya ke pembeli. Sungguh suatu usaha yang pintar untuk menarik pembeli.

Tapi aku takut Fanny kesodok oleh tongkat itu…

‘Jangan ya Fan. Kita muter aja. Di sebrang sungai ada yang jual es krim ala Jepang. Kita ke sana aja sambil duduk santai ya..’ pintaku supaya ia mengerti.

Fanny agak bingung menatapku. Tapi untunglah dia tipe yang cuek, sehingga sambil mengangkat bahu ia menggandeng tanganku, mengajakku meneruskan perjalanan.

Kali ini rupanya ia tertarik dengan arena uji nyali. Sebuah bola yang cukup dimuati tiga orang, akan ditahan dengan tali dan dilesatkan secara mendadak ke angkasa, berpuluh meter dari permukaan bumi, dan kemudian terjun kembali mengandalkan gaya gravitasi. Persis seperti ketapelnya Angry Bird, namun The Pignya ada di angkasa.

Aku melirik Fanny. Naga-naganya ia akan mengajakku menaiki wahana itu. Matanya berbinar-binar saat melihat bola tersebut terpantul ke atas. Tertawa-tawa mendengar teriakan ngeri dari penumpangnya. Haduh, nanti kalau seatbelt Fanny tak sengaja terlepas gimana? Atau bolanya ngga bisa kembali ke bumi? Atau bolanya JUSTRU terlepas dan jatuh ke bumi. Tak ada lagi Fanny…

‘Ngga usah ya Fan..baik sama aku ataupun kamu aja, ngga perlu ikut yang gitu.’ kataku tegas.

Fanny mulai merengut. ‘Kenapa sih Ndre. Dari tadi ngga boleh ini ngga boleh itu? Kamu ngga asyik ah!’ ucapnya jujur.

Aku terdiam. Aku pacar yang ngga asyik? Haduuuh….

‘Aku takut aja ada apa-apa sama kamu Fan..’ tak mau aku katakan ucapan sang peramal. Bisa habis Fanny menertawaiku.

‘Kalau takut ini takut itu, kapan menikmati hidupnya Ndre? Kapan bisa maju kalau gitu? Kapan bisa menjawab tantangan?’ Fanny memandangku dengan serius. Tangannya ia lepaskan dari genggamanku. Kini ada jarak antara dia dan aku.

‘Takut boleh saja, tapi untuk dihadapi, bukan dihindari. Toh kalau belum mencoba, kita ngga akan pernah tahu hasilnya gimana.’ celetuknya lagi.

‘Fan, gimana kalau ..kita ngga lakukan itu karena kita sudah tahu hasilnya bakal ngga bagus?’ Tak tahan aku untuk memberinya kesadaran, ada nasib yang akan menentukan masa depan seseorang.

‘Wah, kok hebat bener udah tahu hasilnya gimana? Masa depan loh ini Ndre. Bahkan Tuhanpun mengijinkan kita untuk mengubahnya. Dengan meminta kita untuk berusaha dengan sungguh-sungguh. Sertai dengan doa. Karena Tuhan ngga suka pada mereka yang ngga berusaha.’ Fanny tersenyum padaku.

Mengubah nasib…berarti ramalannya…bisa berubah…?

‘Ndreee…’ satu kibasan tangan di depan mata, dan si mata bulat itu menatapku sambil tertawa-tawa. ‘Ngelamun ya…Gimana, jadi ngga…naik bola?’

Ah, mungkin aku terlalu sibuk memikirkan suramnya masa depan, hingga masa kini tak kunikmati.

Aku mengangguk.

***

‘Fan, nih..foto kita.’ Aku memperlihatkan fotoku dan Fanny saat baru turun dari bola jahanam itu. Mukaku yang pucat dan Fanny yang berdiri limbung. Mual berat setelah turun mendadak dari ketinggian puluhan meter.

Fanny tertawa.

‘Kirim ke Jerry ya. Biar dia tahu, oma opanya dulu jagoan!’ katanya sambil tersenyum.

***

20130409-013315.jpg

Gambar: pinterest.com

Advertisements