Sang Pujangga Perang

Wilfred Owen adalah tentara Inggris yang ikut berperang, menderita, dan mati di Garis Depan Barat pada Perang Dunia I. Beberapa puisinya telah diterbitkan saat dia hidup, namun bukunya, Poem, baru terbit tahun 1920, dua tahun setelah kematiannya di medan perang. Buku tersebut berisi beberapa puisi yang paling kuat dan emngharukan yang diciptakan selama Perang Dunia, perang yang menghancurkan mitos kemegahan perang untuk selamanya.

20121214-053932.jpg

Owen yang dihancurkan dan dianiaya oleh pengalaman perang, menggambarkan kegetiran pengalamannya dengan menciptakan puisi di atas kepedihan, yang disertai dengan penderitaan, amarah dan kepahitan. Amarah tersebut berkaitan dengan aliran jingoisme di negaranya, atau cinta tanah air yang berlebihan. Saat itu Inggris berupaya mendorong anak muda untuk mendaftar sebagai tentara, dengan menggunakan istilah dari Horatius,

Dulce et decorum est pro patria mori (it is sweet and fitting to die for one’s country).

Owen, yang telah mengalami sendiri bagaimana seharusnya menjadi seorang lelaki, diracun gas, mati perlahan, dan sangat menyakitkan demi negara, tidak mendapatkan apa-apa dari peperangan tersebut. Puisinya yang terkenal merupakan satire dari istilah Horatius, Dulce et Decorum Est.

‘Tertekuk ganda, seperti pengemis tua di bawah karung,
Lutut terantuk, terbatuk seperti perempuan tua,
kami mengumpat melewati lumpur,
Hingga pada kilatan cahaya yang menghantui kami membalikkan badan,
Dan menuju tenpat peristirahatan yang masih jauh,
kami mulai jalan terseok.
Para pria berjalan terkantuk-kantuk.
Sebagian kehilangan sepatunya,
Namun, berjalan terpincang, di atas sepatu berdarah.
Semua lumpuh, semua buta;
Mabuk oleh kelelahan; tuli karena dentuman granat gas
yang jatuh dengan lembut di belakang.

Gas! Gas! Cepat, Nak!-kegembiraan karena meleset tidak terkena.
Mematut helm butut tepatpada waktubya.
Akan tetapi, seseorang masih terus berteriak dan berguling-guling
serta menggelepar seperti orang dalam api atau kapur.
Suram melalui kaca jendela yang berkabut dan sinar hijau yang pekat,
Seperti di dalam lautan hijau, aku melihatnya tenggelam.
Dalam semua mimpiku sebelum pandanganku yang tak memiliki harapan
Dia terjatuh atasku, terjuntai, tersedak, tenggelam.

Jika berada dalam mimpi yang mencekik, engkau pun dapat berlari cepat
Di belakang kereta tempat kita menaruhnya,
dan perhatikan mata putihnya yang menggeliat di wajahnya
Wajahnya yang menggantung, seperti kebencian setan atas dosa,
Jika engkau dapat mendengar, di setiap hentakan, darah
Turun bergolak dari paru-paru yang dipenuhi buih
Menjijikan seperti kanker, pahit seperti mamahan
Yang menjijikan, bercak tak tersembuhkan pada lidah yang tak berdosa,
Temanku, engkau tidak akan menceritakan dengan semangat yang demikian besar
Kepada anak-anak yang bernafsu untuk mendapatkan kemuliaan
Tipuan masa lalu: Dukce et decorum est Pro patria mori’

Selain puisi di atas, terdapat puisi ‘Strange Meeting’ yang memnggambarkan sebuah pertemuan antara tentara lawan yang telah mati, yang menunjukkan kemampuan teknis puisi yang luar biasa. Karya Owen tidak hanya sekedar mengekspresikan kengerian perang, namun juga kemarahan terhadap jingoisme, kesedihan, penyesalan, dan rasa kehilangan, ketika ia merenungkan ada masa depan di luar peperangan.

Referensi : Buku-buku yang Mengubah Dunia
Sumber gambar: angliatours.co.uk

.
IndriHapsari

Komen? Silakan^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s