Tips Makan di Resto All You Can Eat

Penampakan meja di resto ayce

Resto All You Can Eat (kelak disebut sebagai ayce) adalah restoran yang menawarkan satu harga paket untuk menyicip semua hidangan yang mereka sediakan. Biasanya restonya interaktif sehingga pengunjung dapat mempersiapkan masakannya sendiri kemudian menyantapnya, meski ada yang tinggal ambil dan makan saja. Kalau makan di resto seperti ini, yang perlu diingat itu: ada harga ada rupa. Semakin mahal harganya, berarti makanannya makin beragam, makin berkualitas, suasananyapun makin nyaman. Kalau makin murah, itu antara variasinya sedikit, bahannya ngga terlalu segar, dan suasananya kurang nyaman. Saya coba bahas dari yang membutuhkan budget tinggi ya, sekitar dua ratus ke atas, sementara yang budget rendah di bawah seratus 😊

Resto ayce dengan budget tinggi emang bikin mikir berkali-kali, makan ngga ya disana. Kalau memang pingin banget, mungkin kerja lebih keras dan banyak 😁 dan berhemat selama beberapa waktu sebelumnya. Bagaimanapun makan di resto ayce itu bagian dari pengalaman. Sekali aja cukup yang penting bisa ngerasain, kalau ada duit lebih baru lah boleh mengulang. Atau boleh juga mengharap masa promo yang jarang-jarang. Diskonnya berasa loh. Biasanya pas baru opening, ulang tahun, jadi kalau niat mari mantengin medsos mereka 😊

Tungku tanam dan alat penghisapnya

Resto ayce yang mahal akan memperhatikan benar kenyamanan pengunjung. Biasanya nih pengunjung dilibatkan aktif untuk memasak makanannya sendiri, kalau rasa boleh sama, pengalaman memasak pasti beda. Ngga heran kalau ada kompor di meja, kita bisa memasak daging atau sayuran langsung di depan mata dan kelak menyantapnya pas lagi panas-panas. Kalau ada kompor kecil nangkring di atas meja dan Anda dikenai budget mahal, jangan mau deh kecuali trade offnya bener. Misal makanannya lebih banyak dan lebih bermutu. Sebabnya resto mahal begitu mampu kok invest kompor tanam, tungku tanam, bahkan sampai penyedot asap juga dia mampu pasang. Kan ngga enak juga ya makan sambil mata pedes karena api ataupun asap, atau pulang-pulang baju bau bakar-bakar 😁

Open kitchen

Bukan hanya bisa masak sendiri sebenarnya, resto ayce lain punya open kitchen, dimana kita bisa memesan plus langsung melihat bagaimana chef membuatnya. Itu juga bikin mahal tuh. Pelayan yang bolak balik membereskan piring-piring kosong di meja Anda alih-alih membiarkannya juga ciri khusus, karena ada loh kebijakan resto yang membiarkan piring kotor stay on the guests table. Tujuannya apa lagi supaya pengunjung kesulitan meletakkan piring barunya dan jadi malas mengambil.

Display bahan makanan yang direbus

Bahan makanan juga jadi sebab kenapa harganya mahal. Biasanya bintang utamanya daging nih, kalau yang mahal daging disiapkan setelah ada pemesanan, mengambil bagian-bagian terbaik dari sapi atau babi, diiris tipis-tipis supaya pengunjung dapat memasaknya dengan mudah dan cepat. Jangan lupa tanya dulu yang mereka sajikan daging apa, karena sekilas hampir sama wujud mentahnya. Mereka sudah declare di awal kok. Kalaupun dagingnya gede-gede, nanti ada pelayan yang memotongkannya bahkan sekaligus memasaknya. Resto bermutu itu sampai bisa menyediakan wagyu sebagai salah satu pilihannya loh. Wagyu itu jenis daging sapi yang empuk, juicy dan lumer di mulut karena berasal dari sapi yang bahagia 😁 Gimana ngga bahagia, wong sapinya dipijit, diberi musik, sama disemangatin kali ya 😂 No bumbu yang dioleskan atau dicampurkan ke daging saat dimasak, tapi bumbunya silahkan tambahi sendiri setelah dagingnya matang. Pilihan bumbunya juga beragam dan ngga bikin eneg. Ini juga trik dari resto kenapa kok ada yang suka ngasih bumbu manis-manis, ya karena sifatnya bikin eneg tersebut.

Display bahan makanan yang dibakar

Sayuran mesti segar, keliatan lah itu. Ada pilihan daun aja tanpa ditambahi dressing macam salad karena saus salad juga bikin kenyang tuh. Minuman juga ada pilihan air putih atau teh tawar. Kebanyakan kan manis-manis ya, males kali mau nambah. Tapi kalau ngga nambah ya jadi seret ni tenggorokan, serba salah. Ada juga resto yang nawarin air mineral atau lainnya yang keliatannya lengkap, tapi harganya di luar paket 😅 A bit tricky kalau kata saya nih. Selain itu dessert manis-manis pasti ada dengan tampilan yang menarik. Duh padahal tujuan utama kita kesini bukan karena kue cantiknya yekan 😪

Deretan dessert manis

Makan di resto seperti ini, persiapannya as usual, pakai baju yang ngga ketat. Ingat slogan, diet mulai besok 😁 kita ngga mau menyia-nyiakan barang sepeserpun hak kita hanya karena tampilan. Datang lebih baik siang karena paginya mudah puasanya (duile! 😅) dan abis makan masih ada kegiatan karena ngga langsung bobo. Kalau malam kan masa abis makan mau begadang 🤣Makan disini jangan sama pacar karena mesti jaim, tapi lebih asyik sama teman-teman atau keluarga. Kecuali kalau pacarnya model Yoon Doo Joon bintangnya Let’s Eat ya 😁 Itu sih makan apa aja tetap langsing. Semua resto menerapkan aturan semua yang dipesan atau dibawa ke meja harus habis, tapi tidak semua memberikan punishment. Bener juga sih, berasa mubazir ya buang-buang makanan. Ada beberapa yang menetapkan batas waktu, sekitar 1,5-2 jam. Dalam waktu segitu sempit, sementara yang dibawa banyak, siapa lagi yang bisa menghabiskan selain digruduk rame-rame? 😊

Makan begini mesti rame2

Karena itu pesan semua sekaligus, atau bawa dulu sebanyak yang kita sanggup makan. Hal ini menghemat pergi ke meja display dan membawanya ke meja makan kita. Mau bawa semua juga ngga bisa karena meja terbatas. Meski rame-rame, ngga usah sibuk ngobrol. Mending sibuk masak dan makan. Entar kalau sudah mulai kenyang dan kecepatan makan melambat, bolehlah minum sambil ngobrol-ngobrol, atau sambil menyantap dessertnya. Yang penting yang utama sudah terlaksana.

Sebaiknya no karbo

Kalau bisa sih ngga pakai nasi, mie, roti, apapun yang bikin kenyang. Ntar dagingnya jadi ngga kemakan. Singkirkan keinginan menyantap ramen, french fries, fried rice, white rice, takoyaki, hal itu mengenyangkan semua. Minuman juga gitu, kalau yang tersedia manis semua, pilih satu lalu isi dengan es batu banyak-banyak. Kalau minumannya sudah habis, at least ada es batu yang pelan-pelan mencair dan jadi air putih dah. Kalau mau nekat lagi, ambil es batu aja dan tunggu dia mencair. Ngga pingin dingin dan ngga pingin manis? Minum kuah sop atau shabu-shabu yang tersedia 😁

Kompor yang dinyalakan saat kita selesai memesan juga makin lama makin panas, sehingga kecepatan masak dan makan kita makin ngga seimbang. Belum lagi ribet dengan semua piring di meja. Karena itu mending fokus dengan acara masak kita, taruh dulu di piring untuk membakar yang lainnya. Kalau ngga gitu gosong-gosong loh, sudah keras, pait, ilang dah rasa juicynya. Bisa sih mematikan kompor sejenak untuk kemudian dipasang lagi, tapi jadi setup lagi yah, nunggu panas lagi, dengan kondisi alas panggangan sudah menghitam. Oya untuk mengolesi alas panggangan itu biasanya pakai lemak, makanya tambah enak dan ngga lengket. Semakin lemaknya habis, makin gosonglah si panggangan dan gampang lengket. Yang paling gampang matang itu udang, ikan-ikanan, baru ayam, babi, dan terakhir daging sapi.

Tim daging

Kalau dua-duanya nyala nih, kompor panggangan buat yakiniku dan kompor rebusan buat shabu-shabu misalnya, mending ada pembagian tugas. Soalnya bisa jadi yang satu jadi terlanjur gosong, eh di saat kita sibuk ngurusin dia, panci sop bergolak. Kalau sudah gitu mending diungsikan dulu isinya ke mangkuk-mangkuk kecil yang tersedia, lalu matikan kompornya. Antara panggangan atau rebusan, saya milih tim panggang aja dah. Soalnya yang dipanggang nampak lebih bermutu daripada yang direbus 😁

Kalau diperhatikan, yang saya bahas mostly resto dari Jepang atau Korea ya, karena yang paling banyak di sini ya kedua negara tersebut. China ada, tapi proses memasak setau saya rebus doang. Lainnya adalah ayce dim sum yang patut dicoba. Apalagi kalau terjadi pada happy hour, wah happy beneran dah 😁 Satu paketnya bisa setengah harga, free flow dim sum! Harga lebih murah, dapat kualitas yang sama dengan harga normal. Dim sum yang enak bisa dilihat dari kesegaran bahannya, ketepatan rasanya. Ini juga mending rame-rame biar bisa saling icip, karena makan tiga potong dim sum dalam satu keranjang bambu mengenyangkan juga ya. Gimana sih, katanya niat nge-ayce 😁

Kalau Amerika atau Italia lebih eneg lagi. Pizza, french fries, fried chicken, salad, spaghetti, es krim, wah mengenyangkan semua ujungnya. Belum lagi rasa khawatir kita akan tingginya karbo dan manisnya gula ya, meski kita ngga minum yang manis. Bikin saos kan pakai gula juga. Ayce model begini cocok buat anak muda yang banyak kegiatan sehingga take in take outnya seimbang😊 Alternatif lain adalah buffetdi hotel (bukan di kondangan ya 😁). Nebeng sajian untuk tamu hotel saat breakfast, lunch, maupun dinner juga bisa dilakukan kalau ngebet pengen ayce dengan variasi sajian. Kalau hotel bagus bisa nyampur sajiannya antara Indonesia, Jepang, Thailand, Western, aneka salad, sementara itu dah setahu saya. Bayar satu kali, ngambil sesukanya, dan ngga ada batasan jamnya. Paling ikutin jam mereka ya, sekitar 3 – 5 jam per sesinya.

Sekarang, bagaimana jika budget kita terbatas padahal pingin ayce juga?

Jangan khawatir, ada juga kok pengusaha yang bergerak di segmen yang berbeda. Enaknya di Indonesia, karena penduduknya banyak banget, tiap segmen pasti laris asal enak makanannya dan bagus manajemennya. Buat yang budgetnya di bawah 100 ribu, resto jepang-jepangan memang sedikit pilihannya, tapi bukan berarti ngga ada.

Bukan AYCE karena dihitung per piring, tapi sampai kenyang makan todalnya di bawah 100 rb per org

Cirinya biasanya tempatnya terbuka atau tanpa ac, ruangan sempit misal di ruko gitu, pelayan ngga banyak, kompor di atas meja pakai tabung kecil, dan yang lain soal makanan. Variasinya ngga banyak dan kualitasnya beda. Misal dagingnya dibatasi, bukan dari bagian terbaik, dan sudah dibumbui. Tujuannya untuk menyamarkan rasa sebenarnya. Daging sapi cuma tersedia sedikit, ikan juga sedikit, lebih banyak ayam. Itupun sampai ke bagian jeroan atau usus juga ikut disertakan untuk menambah jumlah variasi. Sayur mutunya sama, dan umum yang ada di Indonesia. Kalau di resto mahal daunnya aneh-aneh, dari yang enak dimakan seperti daun ginseng hingga yang nyegrak seperti daun kenip. Perbedaan lain adalah banyaknya frozen food yang ikut meramaikan sajian. Mulai dari bakso, sosis, siomay, banyak jenisnya. Cuma kalau sudah dapat sajian gitu kadang saya bertanya, lah ngapain yak makan di resto, di rumah juga bisa. Tapi tentu saya mesti berpikir ini yang penting kan nongkrongnya, kebersamaannya, bukan apa yang dimakan 😁

Banyak frozen food utk ayce low budget

Selain itu ada pilihan makan di hotel, yang konsepnya ayce juga. Paling murah biasanya pas breakfast, paling mahal pas dinner. Pilih hotel bintang 3, biasanya dapat tuh under 100k. Cuma yah sarapan di hotel isinya nasgor, mie goreng, aneka roti dan sereal, serta teh kopi ya. Kalau dinner lebih beragam, tapi kalau under 100k isinya memang masakan Indo atau chinese.

Alternatif lain yang murah dan pasti cocok adalah warung. Teringat langganan saya di daerah Gebang Surabaya dulu karena dekat kampus, sajiannya banyaaak banget dan enak semua. Iya sih bukan ayce, tapi kita bebas memilih semua sajian itu di piring kita, sebelum dihitung per piringnya kena berapa. Semua masakan kukus, rebus bening atau dengan santan, goreng, aneka minuman dengan pemanis buatan atau minuman serbuk instan, ada semua. Meja lebar di depan kasir memang bikin ngiler, dan kita bisa lihat kesibukan di belakang. Warung khas mahasiswa juga pernah saya kunjungi di Balubur Bandung, cuma dasar karena lidahnya sudah Jawa Timuran ya, saya merasa lebih cocok yang di Surabaya 😊Hal yang sama saya temui di Sidoarjo dengan konsep depot, makanannya sampai tiga susun saking banyaknya variasi. Di Solo juga sama, enak-enak semua dan khas yah. Selain pas buat pencicip segala, ibu-ibu juga terselamatkan dari kebutuhan menyuguhkan makanan enak dan variatif setiap harinya buat keluarga. Harganya juga ngga bikin kantong bolong, jaminan pas di lidah.

Kalau yang seperti konsep ayce memang saya belum temukan, tapi ada juga yang kebijakan satu harga untuk satu piring, ngga peduli mau diisi apa. Di Tenggilis Surabaya ada warung yang laris manis dikunjungi pembeli berbagai kalangan. Sebabnya satu piring dihargai 15 ribu saja, silakan ambil nasi sendiri, lauk dan sayur sendiri, bonus krupuk, pisang dan teh manis. Lauknya juga variatif, kebanyakan santan yang gurih atau gorengan. Salah satu depot di kawasan Ngagel Surabaya juga kebijakannya satu harga, kalau ngga salah dulu 25 ribu ya, boleh ambil apapun dalam satu piring. Persyaratan kedua tempat ini sama, ngga boleh nambah. Tapi gimana mau nambah wong satu piring bisa diisi full 😅

Kalau mau hemat tapi variatif emang lakukan saja di rumah. Modalnya cuma kompor kecil yang portable, tabung gasnya kali 20 ribuan. Untuk panggangan bisa siapkan wajan anti lengket, rebusan tentu panci yang besar. Siapkan mangkok, sumpit, nasi putih, es teh tawar sebagai sebagai syarat untuk jepang-jepangan 😁 Frozen food bisa pilih yang kita suka, mau daging segar tinggal beli di pasar, dibersihkan, dan dipotong tipis-tipis biar cepat matang. Saya ngga tahu di tempat Anda pisaunya setajam apa dan keahlian Anda memotong gimana, tapi kalau saya mesti gagal di bagian motong tipis 😅 Ikan difillet, demikian juga dengan daging ayam. Yang mungkin agak susah menyamai bumbu atau sausnya. Untuk ini mesti rajin jalan-jalan ke supermarket asing dan membayangkan masing-masing saus bakal memberikan efek rasa seperti apa. Secara umum ada manis-pedas, asin, asin-pedas, asam-manis. Kalau yang pintar masak buat sendiri juga bisa. Kuah rebusan juga bisa dipersiapkan dengan membuat kaldu ayam atau daging biar tambah sedap. Bisa juga dengan mencampurkan bumbu tom yum untuk efek rasa ala Thailand. Jangan lupa bawang-bawang untuk dibakar atau direbus, dan sayurnya dipersiapkan untuk tinggal makan ya, jangan masih iketan apalagi masih ada akarnya 🤣

Happy eating makes happy tummy 😊

***

IndriHapsari

(Semua foto adalah milik pribadi)

Advertisements