Sopirku, Kamu Kok Gitu?

20130325-195755.jpg

‘Mi, minggu ini Mami aja yang kesini ya. Bawa anak-anak. Papi kirim mobilnya.’

Aku baca lagi pesan singkat dari Papi. Biasanya memang dia yang pulang seminggu sekali. Namun karena bos besar akan menikahkan anaknya, maka kali ini kami yang harus mengunjungi.

Kata Papi kami akan dijemput jam tiga. Sekarang jam dua lewat lima lima. Kami sudah bersiap di teras depan, dengan bawaan yang luar biasa banyaknya. Maklum, punya balita. Pergi seminggu atau sehari sama saja banyaknya.

Adik sedang kupangku dan kakak bermain dengan suster adik, Mirna namanya, ketika mobil Innova warna abu-abu datang. Sopirnya sekilas membuka kaca jendela, mengangguk hormat, sebelum memutar balik kendaraannya karena ada portal di ujung jalan.

‘Sore, Bu’ sapanya ramah. Kakak yang baru melihatnya, langsung berteriak ‘Smash!’. Ia selalu mengatakannya, jika dilihatnya ada pria tampan dengan penampilan menawan. Dan, sopir kami, yang baru turun dari mobilnya, memang masuk kategori keren.

Bertubuh tinggi kurus, kulit bersih, rambut model spike dan kacamata hitam, dia lebih mirip artis sinetron daripada bagian dekor. Masih muda, mungkin tigapuluhan. Saat ia membuka kacamatanya, kami bisa melihat matanya yang tajam, hidungnya yang mancung, dan bibirnya yang kehitaman. Banyak merokok rupanya.

‘Ini semua yang dimasukkan Bu?’ katanya mengacaukan pandanganku. Aku mengangguk. Sambil menggendong adik, aku melirik Mirna yang nampaknya masih terpana ‘Mirna, bantuin ya.’ Tergesa ia membawakan tas baby.

***

Sepanjang perjalanan, aku membiarkan adik tertidur di pangkuan sambil selonjoran. Kakak sudah tertidur di bangku belakang. Sementara Mirna di depan, di sebelah Pak Agus, sopir kami. Sepanjang perjalanan mereka hanya diam, mungkin malu karena ada aku. Kadang Mirna kusuruh membuatkan susu, mengambil tisu atau selimut lembut untuk adik. Aku sendiri sempat tertidur ketika anak-anak tertidur, terbangun ketika kakak ingin pipis, dan ikut bangun ketika adik bangun. Kupangku dia sambil melihat pemandangan yang terlihat di jendela. Pohon – pohon seperti berkejar – kejaran. Samar – samar terlihat gunung dari kejauhan.

Sampai di rumah dinas Papi menyambut kami. Sementara kami memasuki rumah, Pak Agus dan Mirna mengangkut barang – barang ke dalam.

‘Mi, akadnya pagi, resepsinya siang. Tapi Mami dandannya pagi -pagi, nerima tamu siangnya. Semua dandan di rumah bos.’ Aku mengangguk.

‘Pak Agus, besok saya berangkat pagi ya.’ kataku padanya ketika melewati kami di ruang tamu.

‘Baik, Bu’ angguknya hormat.

***

Aku mengamatinya dari kaca spion tengah. Posisi aku tepat di belakang kursi pengemudi. Aman, karena ia sendiri lebih banyak berkonsentrasi ke depan. Mata tajamnya terbuka lebar mengawasi jalan. Hari masih gelap, dan kami sudah berangkat.

‘Pak Agus sudah lama jadi driver?’ kataku mulai basa basi.

‘Sudah Bu, hampir lima tahun.’ katanya sambil terus menatap ke jalan.

‘Sering ikut orang?’ tanyaku lagi.

‘Dulu, Bu. Sekarang ikut PT saja. Lebih pasti kerjaannya.’

‘Sudah berkeluarga?’ tanyaku ngga nyambung.

‘Sudah Bu. Anak saya malah sudah SMP.’

‘Hah?’ seruku kaget. Anak-anakku saja masih balita. ‘Nikah muda?’

‘Iya Bu’ katanya sambil tersenyum kecil. ‘Lulus SMA, menikah.’

‘Wah, pantes anaknya sudah gede gitu ya..’ kataku setengah kagum.

‘Iya Bu. Saya kalau jemput anak saya, dikira abangnya.’ Kini ia tertawa, memamerkan giginya yang kekuningan terkena nikotin.

‘Ooh..gitu ya Pak’ kataku sambil manggut-manggut. Meskipun entah ia melihatnya atau tidak.

‘Disini ya Bu?’ Tak terasa kami telah mencapai tujuan. Melihat tenda besar warna biru, aku tak ragu ketika menuruni mobil dan masuk ke rumah itu.

***

Acara berlangsung meriah. Aku dan Papi menyambut tamu sepanjang resepsi. Cukup lelah karena harus terus berdiri, tapi setidaknya ibu bos tahu kami teman sejati. Anak-anak kami ajak ke resepsi, tapi harus dekat-dekat Mirna, tak boleh kemana-mana.

Masih ada satu malam sebelum esok kami harus kembali. Papi, meskipun capek berkeinginan membawa aku dan anak – anak melihat suasana kota di malam hari. Papi yang menyetir, sehingga Pak Agus bisa beristirahat di belakang. Demikian juga dengan Mirna, pasti ia telah seharian lelah menjaga anak – anak. Maka kuminta dia menyiapkan keperluan adik untuk dibawa, dan meminta dia tidur cepat karena esok pagi kami akan melakukan perjalanan jauh.

***

Lewat sebulan, aku sedang bermain dengan anak – anak, ketika Mirna menghadapku.

‘Ibu, saya mau ngomong sesuatu.’

Aku menoleh padanya, yang kini sedang duduk bersimpuh di sebelahku. Waduh, kalau omongan sudah dimulai dengan kalimat seperti ini, naga – naganya…

‘Saya mau keluar, Bu.’ Nah! Bener kan! Kali ini mari kita dengarkan alasannya.

‘Nenek saya sedang sakit Bu. Harus saya yang merawatnya.’

Aku mengernyit. Bukannya neneknya baru 40 harian bulan lalu?

‘Nenek…tiri saya Bu.’ Hah? Kakeknya beristri beberapa? Namun sesuai pelajaran pertama yang aku pelajari selama punya suster, kalau dia sudah ijin akan pamit, jangan kepo nanyain alasan daripada mbulet bin sakit hati.

‘Hum..baiklah.’ Bibir dan otak sedang tidak kompak. Di bibir bilang ‘iya’, tapi otak langsung pusing memikirkan yayasan mana lagi yang harus dikunjungi untuk mendapatkan suster yang baru.

Nampaknya Mirna sudah mempersiapkan semuanya, karena cepat sekali ia berganti baju dan membawa satu tas besar. Setelah memberi gajinya plus pesangon, aku melepasnya pergi. Untung adik sedang tidur, karena bisa saja dia menangis melihat pengasuhnya pergi.

Penasaran, aku bertanya pada Susi, asisten rumah tanggaku yang bertugas memasak dan bersih – bersih.

‘Kenapa to Sus, Mirna pergi?’

‘Ndak tau Bu’ kata Susi sambil mengangkat bahu. ‘Akhir – akhir ini dia sering ditelepon malam – malam, waktu Ibu dan anak – anak sudah tidur. Kadang ketawa – ketawa, tapi akhir – akhir ini sering marah – marah Bu.’

‘Ditelepon siapa sih Sus?’ tanyaku penasaran.

‘Manggilnya Gus Gus gitu Bu..Bang Agus!’ kata Susi setengah mengingat – ingat.

‘Hah? Agus yang sopir kemaren?’ kataku kaget.

‘Kayanya iya Bu. Wong kapan itu Mirna janjian mau dijemput pakai mobil yang tempo hari, tapi ndak jadi. Terus sejak Mirna sering muntah itu, mereka jadi sering berantem.’

‘Hah?? Muntah??’ jantungku seperti sedang di-treadmill.

‘Iya Bu, akhir – akhir ini kalau pagi sering mual, makanya sering telat bangun to Bu.’ jawab Susi yakin.

Ya ampuuuun…si Agus!! Udah punya anak ABG masih juga tepe-tepe!

Setrum! Mana setrum!

***

Advertisements