Memproduksi Fiksi

This slideshow requires JavaScript.

pinterest.com

pinterest.com

Fiuh.

Usai sudah tugas saya merangkai 12 keping puzzle dalam 12 hari. Meskipun sudah tahu gambar besar apa yang akan terbentuk, mendetailkan gambar di masing-masing keping sungguh seperti waktu saya membintangi sinetron stripping alias kejar tayang *Belum tau? Saya yang di pojokan, jualan ikan*. Ya gitu deh kalau kepingannya baru ketahuan bentuknya, tapi isi di dalamnya masih ada bagian yang menebak-nebak. Karena itu minggu depan semua cermin harus masuk klinik untuk perbaikan.

Sebagai informasi bagi Anda yang belum membacanya, keduabelas cermin ini berisi cinta segiempat antara Ben, Ted, Vinda dan Ve, dengan latar belakang peristiwa peperangan. Maunya seperti War and Peacenya Tolstoy, tapi gagal *mimpi boleh kan :)* Setting tempat di beberapa bagian di Indonesia, setting waktu di tahun 2013 dan 2043, sedangkan latar belakang peran berasal dari dunia kedokteran dan militer.

Pembuatan fiksi kali ini benar-benar membuat saya tidak nafsu untuk menulis yang lainnya. Menyita waktu dan konsentrasi, karena saya memperlakukannya sebagai produksi. Mengubah ide menjadi suatu karya. Ada skema, ada tujuan, ada target. Jadi mau tidak mau, mood tidak mood, harus dipaksa menulis.

Memang menulis karena paksaan itu katanya tidak baik, tetapi saya sedikit terselamatkan dengan, misal, cermin hari ini, yang tayang jam 4 – 5 pagi, biasanya sudah selesai H-1, atau beberapa jam sebelum tayang, sehingga saya punya kesempatan untuk memeriksa lagi, sekalian memperbaiki hal-hal yang semula ‘feelnya ngga dapet’.

Tidak ada halangan yang berarti, kecuali waktu Kompasiana error, sehingga artikel saya menjadi acak-acakan, satu artikel hilang, beberapa dobel, dan counting klik mulai dari nol. Namun kegembiraannya banyak, karena teman-teman Kompasianer berkunjung ke cermin tersebut, untuk bertanya, memberi masukan, berkomentar, atau sekadar mengacaukan saja *grin*. I have such a good time with them, and I hope so do they.

Sebagai penulis, saya coba untuk menjabarkan hal-hal yang telah saya lewati selama pembuatan cermin ini. Tentu ini bukanlah tips, hanya sharing pengalaman saja. Pengalaman dan kebutuhan tiap orang tentu berbeda. Setidaknya dengan saya menjabarkan ini, Anda tidak perlu mengulang kesalahan yang sama. Syukur-syukur ada yang bisa memetik manfaatnya.

Semua itu dimulai dari keinginan saya untuk memperlakukan penulisan fiksi secara lebih serius. Maksudnya, selama ini kalau ada ide, saya langsung tuliskan dan tayang. Lama-lama jenuh juga, dan saya tertantang untuk menuliskan fiksi yang perlu riset, lebih panjang, detail, namun tak kehilangan gregetnya. Tujuan saya adalah membuat fiksi yang bisa dinikmati pembaca.

Pertama, analisis SWOT.

S yaitu strengthness, berarti apa kekuatan saya sebagai penulis pemula. Berarti hal itu yang harus ada di setiap kepingnya. Kemudian W untuk weakness, sebisa mungkin harus dikurangi, misalnya masalah mood tadi. Memang susah sih menghapus kelemahan dalam waktu singkat, namun kalau bisa ditutupi atau dihindari. Kedua faktor kekuatan dan kelemahan berasal dari internal atau diri kita sendiri.

Berikutnya adalah dua faktor dari luar, yaitu O atau opportunity, dan T atau thread. Kesempatan mengacu pada karya fiksi lain yang telah ada, apakah kita bisa mengambil ceruk pembaca yang belum terjamah? Misal dengan topik yang tak biasa, atau konflik yang dibangun sedemikian rupa. Sedangkan ancaman berarti kita tidak boleh sombong, karena banyak sekali penulis fiksi yang bagus, yang akan membuat fiksi kita terkesan biasa. Namun mensabotase fiksi orang lain tentu tak diperbolehkan, apalagi mensabotase Kompasiana *sumprit deh, yang kemarin error bukan sayaaa* .

Kedua, state of the art.

Meskipun di awal saya ingin membuat fiksi yang lebih serius, tetap saja untuk memulai saya membutuhkan ide untuk topik. Dan idenya ini kadang suka stuck, ngga muncul-muncul. Tapi begitu ada, langsung saya buat gambaran besar ide ini bisa dikembangkan jadi apa saja. Setelah OK, baru saya masuk ke tahap perencanaan.

Ketiga, perancangan agregat, disagregat, dan target.

Secara umum sudah saya jelaskan di artikel Meniru Cara Kerja Tuhan. Pada perancangan agregat (keseluruhan), saya sudah mengetahui ujungnya seperti apa, sehingga cerita akan konsisten dari pertama hingga akhir. Kemudian baru disusun perancangan disagregatnya (dipecah), maksudnya kelak akan ada berapa keping puzzle, bentuknya seperti apa, gambarnya seperti apa.

Kalau diterjemahkan, saya sudah tahu di masing-masing cermin sudut pandang orang keberapa yang saya pakai, alur, plot, setting waktu dan lokasi, peran, dan info apa yang saya selipkan, yang nanti bisa nyambung ke cermin yang lain. Saya juga harus tahu, ending setiap cermin, yang akan membuat pembaca menanti cermin berikutnya.

Target dibutuhkan untuk menjaga mood. Karena kalau baru jalan sudah ditinggal, ibaratnya mesin diesel, susah banget untuk on lagi. Jadi mending sekalian, dan untuk itu saya mengharuskan muncul satu cermin per hari. Hal ini disesuaikan juga dengan jadwal di kehidupan nyata, agar tak mengganggu.

Keempat, riset.

Meskipun namanya fiksi, namun data tidak boleh ngawur agar terasa nyatanya oleh pembaca. Penulis-penulis terkenalpun melakukannya, jadi ini bukan hal baru. Data dapat kita gunakan untuk memperkuat peran, menggambarkan setting tempat, waktu dan peristiwa yang melatarbelakangi penulisan fiksi. Meskipun cerita berasal dari kehidupan sehari-hari, tetap perlu adanya eksplorasi terhadap data-data yang berkaitan. Sumber literatur saya dapat murni dari internet. Blusukan ke berbagai web resmi, blog, Wikipedia dan googling, meskipun kelak data yang dipakai mungkin hanya satu kata.

Kelima, editing.

Berbeda dengan fiksi yang saya buat sebelumnya, keduabelas cermin ini mengalami editing berulang kali. Terkait dengan kesalahan penulisan, penggunaan tanda baca *tanda kutip satu tidak termasuk*, kalimat yang tak mengalir, bahkan pernah satu paragraf saya tinggal, buat paragraf yang baru. Sudah begitu hasilnya tetap saja kurang, terutama terkait dengan data yang coba dihadirkan. Disini saya beruntung sekali mendapatkan komentator yang peduli, sehingga saya tahu kesalahannya dimana.

Terima kasih untuk para komentator di Kompasiana yang sudah meramaikan *dan mengacaukan :P* cerminnya. Teruntuk *berdasarkan urutan ‘penampakannya’* sejak cermin pertama:
Cuzzy, Valencya, Nauli, Ito, Mbak Tyas, Masteddy, Ujang, Mbak Na, Mbak Anni, Beh AJ, Pak Flo, Fandi, Mbak Dita, Syla, Pak BS, Nicko, Adit Pe, Mbak Lilih, Nindy, Pak Gangsar, Su He, mbak Dian P, Roy O, Artika, Pak Thamrin, Mbak Dyah, Pak Venus, Pak Usman, Asli Ngapak, Mbak Ervy, Marul, Njames, Pak Rooy S, Mbak Della, Elsa, Pak Gunawan, mbak Leilla, Afriska, Mbak Kei, Mak Ngerot, Mbak Jasmine, Mbak Ima, Deeas, Bidan Tari, Putri Kodok, dan Sede. Juga teruntuk he-who-can-not-be-named, terima kasih atas bimbingannya selama ini.

Keenam, review dan repair.

Saya penggemar tulisan-tulisan saya sendiri *iya doong, kalau ngga, siapa lagi? ^_^* karena itu agak sulit untuk mengulas karya sendiri. Namun dengan ditayangkan di Kompasiana, saya mendapat bantuan dari komentator yang mengkaji fiksi ini dengan teliti. Setelah diskusi, kadang berakhir dengan saya mengganti bagian tersebut, kadang juga tidak saya ganti karena saya punya acuan dan dapat dijadikan patokan. Saya meyakini tak ada karya yang sempurna. Yang membatasi hanya deadline dari penerbit saja *grin*

Karena itu, begitu suatu karya selesai, maka berikutnya adalah kembali ke langkah satu, analisis SWOT. Terus terang, gara-gara menulis rangkaian cermin ini, saya jadi lebih mengenal diri sendiri, apa saja yang menjadi kekuatan dna kelemahan saya. Yang awalnya belum kelihatan, sekarang nampak makin nyata. Yah tinggal dikembangkan ke arah lebih baik saja.

Catatan ini mungkin terkesan lebay ya, bikin fiksi aja kok repot. Tapi ini cara saya untuk menghargai fiksi sebagai karya yang juga harus diperlakukan dengan serius, demi peningkatan kualitas dan kenyamanan pembaca. Nah mengenai tujuannya tercapai atau tidak, semoga ada yang sudi menjawabnya. Tentu segala masukan akan saya pertimbangkan untuk karya selanjutnya *yang entah kapaaan…hehehe*

Oya satu lagi yang saya belum bisa, yaitu memberi judul pada rangkaian cermin kemarin. Judulnya apa yaaa? ^_^

***
Buat yang belum baca :

Cermin 1: Teddy dan Benny (Ve’s view)
Cermin 2: Valentine Abu-abu (Ve’s view)
Cermin 3: Susu Kotak (Ben’s view)
Cermin 4: Lihat Aku, Ben! (Vinda’s view)
Cermin 5: Perang! (1) (3rd’s view)
Cermin 6: Darurat Nasional (3rd’s view)
Cermin 7: Perang! (2) (3rd’s view)
Cermin 8: Terpencar (3rd’s view)
Cermin 9: Unconditional Love (3rd’s view)
Cermin 10: Diamond in The Sky (3rd’s view)
Cermin 11: Teddy, Pulang Yaaa (3rd’s view)
Cermin 12: Alpha dan Omega (3rd’s view)

Advertisements