Teddy dan Benny

pinterest.com

pinterest.com

‘Kenalin Teddy, ini Benny.’ Ben menyalami Ted dengan senyuman yang lebar. Tangannya menggenggam erat.

‘Hai Ted, baru nyampe?’ sapa Ben ramah.

‘Ya’ tak kalah ramah Ted menjawab. ‘Baru landing. Langsung kesini.’ katanya sambil melirikku. Aku tersenyum padanya.

‘Lancar semua kan? Ngga ada yang nyegat di tengah jalan?’ kata Ben sambil tertawa. Aku dan Ted juga tertawa.

‘Becanda mulu, ah Ben!’ kataku sambil tersenyum padanya. Ben memandangku. ‘Mau minum apa? Yang biasa?’ Ia menawariku. Aku mengangguk. Kusenggol lengan Ted. ‘Mau minum apa Ted?’

Ted melirik papan menu. ‘Ehm..Americano aja.’

‘OK.’ Ben bangkit dari sofanya untuk membeli pesanan kami.

‘Benny itu yang kamu sering cerita?’ tanya Ted saat Ben sedang menunggu minuman kami dibuatkan.

‘He-eh.’ aku mengangguk. ‘Dia tuh yang bantuin aku sejak kuliah di sini. Maklum, anak baru, belum tahu apa-apa. Ngurusin ini itu, dia semua yang anterin.’

Ted diam. Buru-buru aku menyambung ‘Coba kalau kita deketan Ted, pasti asyik yah. Kamu yang nemenin aku kemana-mana.’

Pembicaraan kami terhenti ketika Ben datang membawa pesanan kami. Sambil menghirup minuman kami, Ben bertanya dengan semangat tentang kehidupan di asrama taruna. Sesuatu yang baru baginya, bagiku juga. Maka aku dan Ben bergantian menanyai Ted, dan saling menimpali ceritanya. Aku dan Ted memang berpacaran sejak SMA, namun aku memasuki Fakultas Kedokteran sesuai cita-citaku saat kecil, sedangkan Ted masuk ke Akabri, mengikuti jejak ayahnya. Ben adalah seniorku, sebentar lagi PTT ke luar pulau.

Akhirnya Ben melihat ke jam tangannya, dan dengan sopan ia pamit pada Ted karena sudah ada janji pada jam ini. Jabat tangan perpisahan ia berikan pada Ted, padaku ia hanya tersenyum sambil berkata ‘Sampai besok ya.’ Aku mengangguk.

Selepas Ben pergi, Ted lebih banyak diam. Aku berusaha mengajaknya bicara, namun hanya jawaban pendek-pendek yang kudapat. Aku menatapnya dengan cemas.

‘Ted, kamu sakit? Atau capek?’

Ted menggeleng. Kini ia menatapku tajam.’Ada apa denganmu dan Ben?’

Aku terkejut. ‘Ted! Apa sih? Ben itu teman, teman baik.’

‘Teman ngga sampe kaya gitu Ve.’ balas Ted tajam. ‘Soal ia menemanimu kemana-mana, aku tak masalah. Karena memang seharusnya sudah menjadi tugasku untuk melakukan itu. Malah aku berterimakasih ia mau mengantarkanmu. Tapi..’ Ted terdiam sebentar, ‘….caranya memandangmu. Cara kau dan dia berinteraksi. Cara dia menghapal kesukaanmu. Cara dia..’ Ted terdiam lagi, ‘…menyembunyikannya dari aku. Beberapa kali kulihat dia salah tingkah, saat kulihat dia sedang menatapmu dengan mesra. Akhirnya tak tahan juga, sehingga ia pamit duluan.’

Ted memandangku lagi. ‘Ada apa, denganmu dan Ben?’

Aku menggeleng keras. ‘Ngga ada apa-apa Ted. Jangan curigaan gitu dong! Masa kamu dateng jauh-jauh, kita cuma berantem.’

Ted menggeleng dengan sedih. ‘Jangan bohong. Aku juga melihat tatapanmu padanya, bukan tatapan biasa. Itu tatapan yang sama, saat kau jatuh cinta padaku, dulu. Hanya saja kau tak menyadari, sejak tadi aku mengamati kalian berdua. Jangan bohong Ve. Kau mau jujur atau menutupi, semuanya sudah sangat jelas bagiku.’

Mataku mulai berkaca-kaca. ‘Ted…bukan begitu…’

‘Lalu apa lagi Ve? Kau boleh cerita apa saja padaku, Ben ini tidak begini tidak begitu. Tapi mata ngga bisa bohong Ve. Sikapmu padanya juga berbeda. Sikap dia padamu, juga berbeda. Aku rasa, hubungan jarak jauh ini tak berhasil Ve.’ tegas Ted mengatakannya.

‘Ted…’ kini pecah sudah pertahannku. Kusambar tisu yang ada di meja.

‘Aku antar pulang’ Ted berdiri, dan melangkah duluan ke pintu.

~~TO BE CONTINUED~~

Advertisements