Cowok Dilarang Galau!

20130222-061651.jpg

Eits! Sebelum saya dikepruk pejuang emansipasi pria, tiada maksud dari saya untuk membedakan galau berdasarkan gendernya. Galau, bisa dirasakan oleh siapa saja, dan itu bukanlah hak prerogatif wanita.

Namun, khusus untuk para pria, saya rasa Anda mesti menahan diri untuk tidak terlalu mengumbar kemana-mana rasa galau tersebut. Terutama, kalau Anda masih jomblo. Karena akan mengancam keberlangsungan lestarinya keturunan Anda dalam persaingan yang digagas Darwin *ciyus ini ciyus*. Berikut pandangan saya sebagai wanita terhadap cowok galau.

Pertama, para wanita menganggap pria adalah sosok yang tegar, yang sanggup mengendalikan emosi jiwanya lebih baik dari kami, dan tentu saja pantas menjadi tempat berlindung dan bergantung. Ngga seru kalau kami lagi curhat,

‘Eh, tau ngga, kemaren..aku liat cowokku jalan sama cewek lain…’

‘Hah? Bener cyyyn?? Aduuuh…lo gimana? Sedih banget pasti ya cyyyn…’

Nah, apa ngga ilfil, yang dicurhatin lebih galauers daripada yang duluan curhat. Lalu, kalau ngedengerin yang ‘anteng’ aja ngga bisa, gimana dia kami harapkan untuk nasehatin, nyabarin, apalagi bertindak untuk menolong?

Kedua, galau itu berbanding terbalik dengan cool. Kalau cool itu dikejar-kejar cewek, kalau galau dikejar hansip. Dengan memperlihatkan galau yang tidak pada tempatnya, derajat ke-cool-annya jadi berkurang.

Lagian, cara cowok mengungkapkan galau itu beda. Yah, memang ngga ada sih ‘Buku Panduan Galau untuk Cowok’. Tapi, sebenarnya dengan kegalauan itu, Anda malah bisa menjaring wanita *eaaa..emang ikan?*.

Let’s see.

Wilfred Owen, seorang tentara Inggris pada Perang Dunia I, merasa pedih dengan perang yang harus dilaluinya. Bukan karena ketakutan, tapi melihat begitu sia-sianya nyawa manusia harus dikorbankan, karena jingoisme atau cinta tanah air yang berlebihan. Ia menuliskan puisi-puisi yang kelak akan menjadi terkenal, dua tahun setelah kematiannya di medan perang.

Jika menilik puisinya, kita dapat membayangkan betapa gagahnya Owen waktu ia menghadapi kematian, namun juga ada kesedihan, penyesalan dan rasa kehilangan yang luar biasa.

Galaunya menghasilkan karya, tanpa meninggalkan kelaki-lakiannya. Karyapun tak harus berbentuk puisi atau seni. Ada yang berbentuk penemuan maupun konsep pemikiran yang brilian, terkait dengan rasa galaunya terhadap suatu keadaan. Contoh-contohnya bisa dilihat di sini.

Walah, lagi galau kok disuruh berkarya?

Kalaupun tak bisa berkarya, hati-hati jangan terjatuh pada penyaluran yang negatif. James Bond di film Skyfall, saat galau karena merasa dikhianati oleh bossnya, menyalurkan galaunya dengan cara merokok, mabuk dan main cewek. Wah, kalau Anda bukan Bond mending jangan ditiru deh. Bond bisa tampil lagi sebagai pahlawan, kalau Anda bisa-bisa jadi pahlawan kesiangan.

Saran saya sih, kalau bahkan untuk beraktivitas biasa saja Anda ngga bisa, atau hang out sama teman-temanpun tak bisa menghapus galau Anda, daripada menuliskannya di dinding-dinding layar digital dan menyebarkannya pada dunia, gimana kalau duduk manis saja. Diam sejenak, memikirkan sebaiknya gimana.

Ngga bisa juga? Solusi lain, tidur. Meskipun saat bangun nanti, masalahnya ya tetap sama, tapi rasa galaunya bisa sedikit berkurang. Lagian, Anda jadi bisa berpikir lebih tenang.

Yang pasti sih, alih-alih bingung bagaimana cara menyalurkan galau, mending memikirkan bagaimana cara menghentikan galau. Galau masih OK kalau sewaktu-waktu saja muncul dan untuk waktu yang singkat. Karena, galau itu kalau diterus-teruskan, hanya akan merapuhkan jiwa, mengaburkan logika, dan membuat seorang lelaki kelihatan penuh keraguan, tidak pantas untuk diperjuangkan (oh yeah, kami para wanita juga berani bersaing lho untuk mendapatkan pria yang menarik). Kalau cewek galau membuat lelaki muncul sifat penyayangnya, kalau cowok galau malah membuat cewek muncul sifat alerginya.

So, move on. Buktikan bahwa Anda sebagai lelaki berani untuk menghadapi persoalan. Kalau diibaratkan sebuah sperma, maka Anda tahu sperma mana yang berhasil menarik perhatian ovum kami ^_^

i love fucking science

i love fucking science

***

Short Version : Man and The ‘Galau’ Thing

Advertisements