#KamiTidakTakut Karena Mengandalkan #PolisiGanteng

Alkisah Lucky Luke sang koboi yang menembak lebih cepat dari bayangannya menghadapi kesulitan membasmi gerombolan Jesse James. Bukan karena James bersaudara menembak lebih cepat dari bayangannya Lucky Luke, tapi karena mereka menyelusup dalam kehidupan masyarakat di kota tersebut. Mereka bermain judi dengan jujur (judi kok jujur ya :D), menabung di bank (alih-alih merampoknya), dan aktif dalam kegiatan gereja. Nih lihat contohnya, sampai Pendetanya perlu mengurangi semangat mereka dalam beragama 😀

image

Luke mengawasi James bersaudara

image

Pak pendeta yang bete 😀

Semua itu mereka lakukan demi mendapatkan kepercayaan masyarakat. Kemudian saat waktu merampok tiba, masyarakatnya seolah tak percaya bahwa Jesse James yang melakukannya, merasa bingung pada siapa mereka berpihak, dan malahan tidak mendukung Lucky Luke untuk menjalankan aksinya. Luke yang kecewa kemudian membiarkan masyarakat tersebut membereskan sendiri masalahnya.

Kembali ke masa sekarang, Indonesia menghadapi teroris yang makin nekat. Mengincar pos polisi, artinya mereka menantang pelindung masyarakat. Ibarat kisah komik Lucky Luke, mereka meledakkan kantor Sherrif. Hal ini untuk menunjukkan, aparat yang dipersenjatai lengkap saja mereka kalahkan, apalagi masyarakat sipil yang ngga tau dan ngga punya apa-apa.

Lalu muncullah polisi ganteng, yang tagarnya melebihi simpati kita kepada korban, kepanikan dunia dan usaha pencegahan selanjutnya. Ah buat apa mikir hari depan kalau sekarang kita masih bisa bersenang-senang, mengejek dan meremehkan teroris yang gagal, dan berharap banyak pada polisi ganteng untuk menyelamatkan kita. Polisi ganteng ibarat Lucky Luke yang macho, sekali tembak dua penjahat langsung terbirit-birit.

Dalam dunia superhero, pahlawan memang ada. Namun penjahatnya lebih banyak. Bayangkan dari kejadian pengeboman Thamrin kemarin saja, polisi yang muncul ada berapa. Meski kita bilang teroris tersebut dikepung, harap diingat bahwa itu Jakarta, ring 1 pula. Makanya teroris kemarin sudah tahu bahwa mereka akan mati konyol. Tujuannya memang untuk cari perhatian kok, dan membuktikan bahwa mereka ada. Kita lupa, bahwa mereka adalah gunung es dari masalah yang sebenarnya. Teman mereka banyak, jaringannya rapi, dan mereka tersebar di seantero Indonesia. Senjata kemarin yang dipakai, darimana coba? Berarti ada suppliernya, ada uang yang terlibat, ada pemodal. Semua sistem yang rapi ini, tentu tidak bisa dihadapi polisi ganteng seorang diri. Rasio polisi dan penduduk di Indonesia masih tinggi, jangan harap kalau Anda di Papua lalu dapat perlindungan khusus dari polisi ganteng kalau dapat masalah.

Hal lain yang krusial, masyarakat kita ternyata hampir sama koplaknya dengan teroris. Kalau genap isi otaknya, perbuatan menghilangkan nyawa orang dengan sengaja itu adalah perbuatan yang tercela, dibenci Tuhan dan setan, karena setanpun ngga akan mau disalahkan atas kekoplakan manusia. Herannya dari kejadian kemarin, masih saja ada orang yang membela perbuatan teroris tersebut. Entah dengan mengurangi kadar kebejatan mereka (lihat dulu dong tujuannya), mengalihkan ke masalah lain (itu kan untuk menutupi masalah Freeport dll), membahas hal yang jaka sembung bawa golok alias ngga nyambung bok (kok fotografernya bisa moto-moto jelas begitu), sampe nyuruh minta maaf ke pembunuhnya :/

image

Masih mau ngebelain? :/

See? Ngga perlu jadi teroris kok untuk bisa koplak. Itu tinggal selevel lagi kok, untuk mengubah pikiran-pikiran negatif, menjadi perbuatan tanpa pikir dan merugikan orang lain. Persis seperti penduduk kota di kisah Lucky Luke, yang memihak penjahat daripada yang benar. Sebabnya karena mereka sudah terlena, dengan penampakan yang menyenangkan, dengan janji-janji surga, baik untuk bahagia di dunia maupun di akhirat.

image

Lucky Luke ngambek ke penduduk kota yang GJ

image

Penduduk kota yang mulai sadar diri

Akhirnya, polisi ganteng kita tidak bisa menjaga 270 juta penduduk Indonesia, bukan karena yang ngga ganteng lebih banyak, tapi ni penduduk sudah kebanyakan. Lagian pencegahan makin banyaknya teroris koplak adalah dengan tidak mengkoplakan diri sendiri, mengingatkan teman yang koplak (in a soft and hard way, karena percayalah perlu knock knock on their head and heart biar sadar), melaporkan kalau ada kegiatan yang mencurigakan di lingkungan, dan mengurangi penyebaran koplak dengan tidak mudah menyebar berita hoax dan berbau fitnah.

Hayuk jangan mengandalkan polisi ganteng. Mulailah dengan melindungi pikiran kita, keselamatan orang-orang terdekat dan menciptakan kedamaian di lingkungan. Kalau bener ada polisi gantengnya, anggap aja itu bonus 🙂

***
IndriHapsari

Advertisements