Jangan Mati di Bali : Sebuah Renungan

Jangan Mati di Bali

Seakan belum cukup punya suami berdarah Bali, saya perlu menambah wawasan tentang perBalian ini dari buku yang ditulis oleh Gde Aryantha Soethama. Berada bukan di komunitas Bali, ke Bali untuk liburan doang, yang didengar hanya satu sisi saja, maka cara mendapatkan info paling mudah dan semoga akurat, ya melalui tulisan Pak Gde yang mantan jurnalis, penulis dan pengusaha percetakan ini. Bukunya diterbitkan oleh Kompas, jaminan mutu isi tulisan.

Secara umum buku ini berisi tulisan-tulisan Pak Gde tentang semua fenomena di Bali. Saya rasa bukunya sudah cukup komprehensif, mulai urusan adat (poligami, ngaben, upacara, sesaji), gejolak eksosbudhankam dan seni (subak, lukisan gamelan, bahasa, turisme, kaum pendatang), kuliner, pelesir/turis, sejarah (Ken Arok, Soekarno). Semua isu sensitif ditulis dengan segar dan lugas, mau marah setelah baca tulisannya emang susah. Selain yang ditulis meyakinkan untuk diamini kebenarannya, yang nulis orang Bali asli loh, suka blusukan pula. Mengenai gaya bahasa agak tersendat ya, kurang mengalir. Tapi itu ngga mengurangi nilai buku ini kok, tetap asyik untuk dibaca.

Paling asyik memang ngomongin orang lain, dan setengah buku ini ngomongin soal turis dan pendatang. Turis bule dipuja-puja sebagai pembawa keberuntungan, bukan hanya soal pariwisata, tapi merembet ke masalah pemberdayaan seni, penyewaan lahan untuk property, dan bisnis kelas rumahan yang bisa melanglang buana. Semua karena turis bule. Ada sih side effectnya seperti mereka juga menularkan AIDS, dan cenderung hidup seenaknya di Bali menggunakan uang tunjangan di negaranya, tapi kedatangan turis asing pastilah dinanti-nantikan dan disambut ramah. Meskiii…ketika ditanyakan kepada seorang turis Inggris yang bolak balik ke Ubud, maukah ia tinggal di Bali selamanya, ia menjawab tidak. Ia ngga bisa hidup di ‘masyarakat yang terbelakang’, sanitasi buruk dan upacara yang ribet. Nah lo, manisnya di permukaan doang ternyata, dan jarang orang yang berniat melebur di dalamnya. Mengenai AIDS juga gitu, selain enggan melayani turis bule yang badannya lebih gede, para gigolo di Bali memilih turis dari Jepang yang secara bodi mungil-mungil dan bebas AIDS, ditambah mereka lebih romantis, persis kaya orang pacaran.

Turis domestik dianggap lebih pelit dan lebih susah daripada turis bule. Padahal lo ya, turis domestik ini penyelamat saat Bom Bali 1 dan 2 beraksi. Orang Indonesia sekarang sukanya piknik dan selfie, Bali pastilah destinasi favorit semua orang. Turis domestik juga royal urusan makan dan hotel, mereka juga menginginkan kenyamanan. Yang pasti sih siapa yang bisa mendiferensiasi posisinya, pasti bisa melayani orang lokal dan asing secara bersamaan, wong acaranya kebanyakan sama kok, tinggal seleranya yang berbeda. TUris domestic ngga cerewet, dan cenderung lebih sopan daripada yang luar. Dua hari di Bali, sudah cukup bagi saya mengetahui, turis dari Cina itu ngerokokan, ngga peduli laki perempuan, setiap habis makan. Puh bal bul bal bul aja di luar/dalam resto.

Pendatangpun jadi sorotan juga, terkait kehadirannya yang membantu industri di sana, tapi sekaligus jadi lapisan nomor dua. Malah ada cerita kalau plat nomor DK dan belakangnya ada J-nya, atau berasal dari Jawa, maka nilainya akan turun. What’s wrong with Jawa? 🙂 Tapi soal orang Bali senang membeda-bedakan, juga diulas di buku ini. Apalagi asalnya kalau bukan dari sistem kasta yang bukan hanya memisahkan secara sosial, tapi juga secara ekonomi.

Lainnya Pak Gde juga gelisah dengan beralihnya tanah-tanah warisan demi pembangunan proyek kapitalis. Subak diganti dengan bangunan, pantai sudah dikapling pihak hotel, hingga orang Balinya sendiri sulit mengaksesnya. Pak Gde juga gelisah tentang wanita Bali yang tampil seksi justru saat upacara, tapi sebaliknya enggan berbikini saat di pantai. Pun yang menjadi judul buku ini, tentang betapa mahalnya biaya Upacara Ngaben, atau peristiwa ditolaknya mayat dikubur di Bali, karena almarhum dulu perantauan di luar Bali. Serba salah jadinya, dan itu dituliskan Pak Gde.

Membaca buku ini aslinya cukup cepat kok, kalau mau dinikmati per kalimatnya juga OK. Pendek-pendek saja, 3 hingga 5 halaman per cerita. Enaknya ceritanya sudah dikelompokkan, jadi lebih mudah mencarinya.

***

IndriHapsari

Advertisements