Tergoda Ingin Membunuhnya

20130629-144224.jpg

Kematian, sering menjadi solusi paling jitu dan logis dalam penulisan fiksi. Misal nih, kita menciptakan tokoh antagonis, dan berhubung misi kita adalah menyelipkan pesan ‘Kebenaran pasti menang’ maka sebagai ending kita buat si tokoh jahat mati. Intinya, Tuhan aja sampai sebal dengan dia, sehingga diijinkanlah kematiannya.

Ada juga yang ingin membuat cerita menjadi melankolis, sehingga si tokoh baik tersebut dibuat meninggal juga, agar makin mudah menjalin konflik dan mengurai emosi yang akan muncul. Tentu logis juga, karena Tuhan menyayanginya, sehingga ingin agar dia segera lepas dengan carut marut dunia.

Padahal sesungguhnya, tidaklah seperti itu.

Kita melihat banyak orang jahat yang dibiarkan hidup, merajalela malah. Sehingga toh penjara tetap penuh, masih ada orang yang menderita karena kejahatan mereka, dan orang-orang seperti ini panjang umur! Bahkan sempat beranak pinak, memamah biak, dan jadilah mereka yang disebut orang-orang baik, mesti head on dengan orang-orang brengsek ini.

Pun kita juga saksikan, banyak orang baik yang nasibnya apes. Jadi bagiannya sengsaraaa mulu. Apalagai kalau menyaksikannya dari layar televisi, wah setiap hari ngga akan habis stok orang susah di negeri ini. Padahal rajin iya, tawakal iya, punya agama, iya. Tapi kok tetap susah?

Saat ingin Meniru Cara Kerja Tuhan, sebagai pengarang saya juga merasakan kerumitan ini. Saya merenung, kalau saja Tuhan senangnya shortcut seperti saya ini, yang kalau bingung endingnya gimana tinggal matiin tokohnya, mungkin kotak pengaduan ke Tuhan bakal penuh ya. Seenaknya saja membunuh karakter, padahal kalau diberikan kesempatan mungkin dia akan menjadi lebih baik. Atau Tuhan menghilangkan si baik, tentulah ada protes juga, karena si baik belum merasakan hikmah dari perbuatannya.

Dulu, saya melakukannya. Dalam membuat serial War and Love yang merupakan gabungan 12 cermin, ada tokoh yang meninggal, dan bereslah urusan. Oh ya, saya buat ia meninggal dengan cara yang ‘elegan’, sehingga logis saja itu terjadi. Namun terus terang, saya berat melakukannya. Mungkin, karena tak ada tokoh yang benar-benar baik atau buruk di serial tersebut. Mungkin, akan ada cerita yang baru dengan saya membiarkannya hidup. Tapi, itulah yang terjadi.

Kini, saya dihadapkan pada hal yang sama lagi, ketika membuat serial yang baru. Ingin rasanya mematikan salah satu tokohnya, untuk mengurai keruwetan yang ditimbulkannya. Tapi, adilkah saya? Kalau soal tega sih, saya pernah melakukannya, dan bisa. Namun kembali lagi ke nurani *oh lama-lama saya merasa lebay dengan urusan seperti ini*it doesn’t seem right. Terasa seperti menggampangkan persoalan dengan memotong hidup seseorang.

Jadi?

Mati, ngga, mati, ngga…

20130629-144718.jpg

***
IndriHapsari
Gambar : science fiction by Yuko Shimizu dan pinterest.com

Advertisements