Api Unggun Kecil

‘Ngga tidur?’

Aku menggeleng. Keriuhan memang telah lama berlalu. Sementara yang lain menyelinap ke kantung tidurnya masing-masing, aku lebih memilih bertahan di tepi api unggun yang mulai mengecil. Beda dengan tadi saat semua berkumpul mengelilinginya, apinya begitu besar menyala dan timbul suara keretak kayu dibakar. Menjilat tinggi, seakan menarik semua untuk berkumpul mendekat, merapat, dan bersuka ria.

Ketika semua keriuhan selesai, tidak ada lagi yang menambah kayunya. Satu demi satu meninggalkan arena, tertidur nyenyak, untuk melanjutkan kegiatan di esok pagi. Melihat matahari terbit katanya. Ah, aku tak peduli. Aku hanya ingin di sini, menemani api unggun. Jika kurasa apinya hampir padam, kuletakkan kayu lain ke atasnya. Hanya untuk mempertahankan ia tetap hidup, meski nyalanya tak menghangatkanku. Tetap saja aku menggunakan jaket tebalku. Tapi menyaksikan kilatan apinya di mataku, membuatku merasa nyaman dengan kehadirannya.

‘Kamu suka menyaksikannya?’ kini Fahri duduk di sampingku. Aku mengangguk. Kumainkan sebatang kayu di tanganku untuk mendorong potongan kayu-kayu yang hampir keluar dari api unggun.

‘Tak keberatan kutemani?’ Fahri menoleh padaku. Tanpa menoleh kepadanya, dengan senyum kuanggukkan kepalaku. Kamu sudah disini Fahri, dan aku tidak mengusirmu, bukankah itu cukup untuk menjawab pertanyaanmu?

‘Tak takut telat esok pagi? Ikut kami melihat matahari?’ tanyanya lagi. Kini ia mendekap kedua lututnya, dengan kepala tertopang di lutut dan mengikuti tindakanku mengawasi api.

‘Ngga’ kataku singkat. Seandainyapun aku dibangunkan, aku akan menolak ikut. Matahari kini tak berarti lagi bagiku, yang penting nyala api kecil ini.

Kami sama-sama terdiam. Fahri entah memikirkan apa. Dan tak tahu juga kenapa ia masih enggan tidur larut malam ini. Kenapa ia duduk menemaniku di sini. Tenda cowok dan cewek memang dipisahkan api unggun ini, tapi ia memilih duduk di sampingku, di depan tenda cewek. Tapi aku tak tanyakan. Sedang tak ingin banyak bicara.

‘Kulihat kau diam saja saat kita bernyanyi bersama’ akhirnya Fahri tak tahan juga untuk memulai pembicaraan lagi. ‘Kenapa?’ kini kepalanya dimiringkan menghadap ke arahku, namun tetap bertumpu pada lututnya.

Aku menggeleng dengan gelisah. Jangan tanya itu, Fahri! Aku tak suka!

‘Aku ngga maksa kamu cerita’ katanya pelan. ‘Tapi please, jangan sedih gitu dong. Ngga suka lihat kamu begini’ kini Fahri menegakkan punggungnya. Matanya tajam memandangku.

‘Kalau kamu mau cerita, aku dengerin. Siapa tahu bebanmu jadi berkurang. Tapi jika tidak, jangan jadi lemah begini. Kamu harus kuat. Kamu yang tadi di samping api unggun, bukanlah kamu yang sebenarnya. Yang ceria, yang menatap hari esok dengan begitu bersemangatnya. Kamu sungguh bukan api kecil yang harus dijaga nyalanya. Kamu api besar. Menarik orang untuk datang mengelilingimu. Merasakan hangatmu. Bersenang-senang di dekatmu. Mana, kamu yang dulu?’

Kini aku terpaksa menoleh padanya. Mataku mulai berkaca-kaca. ‘Aku ngga bisa cerita…’ Fahri menatapku dengan iba. Dengan satu gerakan halus, dibelainya rambutku.

‘Kalau gitu, ngga usah. Tapi, biar aku yang jaga api ini untukmu ya?’. Tangan lainnya menggenggam lembut tanganku. Dilepaskannya kayu yang sedari tadi aku pegang. Tersenyum, ia menatapku lembut ‘Kayunya sudah di aku. Jangan dipikir lagi ya…’ Kini gantian ia yang mulai memasukkan potongan kayu-kayu yang keluar tadi.

Aku menatapnya dari samping. Tak pernah tahu, bahwa selama ini ia perhatikan aku. Tak pernah merasa, ada yang mengawasiku. Tak pernah paham, kenapa ia berniat menjagaku.

Kudekatkan diriku padanya. Kusandarkan kepalaku di bahunya.

Terima kasih telah mengambil alih bebanku.

20130206-001123.jpg
Glenlaurel.com
***

Aku mengerjapkan mata. Sinar matahari menerobos masuk tenda. Kantung tidur di kanan kiri telah kosong. Jam berapa ini? Tadi malam, kutertidur jam berapa?

Hanya ingat kami berdua duduk di tepi api unggun. Aku dan Fahri. Fahri menjaga api itu agar terus menyala. Sementara aku bersandar di bahunya. Itu saja. Tidak ada yang kami perbincangkan. Hanya diam. Yang aku tahu, untuk pertama kalinya, aku merasa kelelahan. Mungkin selama ini berusaha tidak kurasakan di tengah hiruk pikuk persoalan. Aku harus kuat. Aku harus bertahan. Baru kali ini ku merasa lelah. Mungkin karena, ada Fahri yang bersedia menampung gundah.

Sesekali ia menolehkan kepalanya padaku, hingga untuk sejenak pipinya menyentuh keningku. Sekedar mengecek, akankah pipiku masih basah, atau mataku mulai layu. Akan halnya aku sampai di tendaku, sudah mengenakan kantung tidur, samar-samar kuingat Fahri membangunkanku dengan lembut, memapahku ke tenda, dan dengan terkantuk-kantuk aku memasuki kantung tidurku begitu saja. Buktinya sepatu masih melekat di kakiku. Kulihat siluetnya mengawasiku dari pintu tenda. Setelah memastikan ku telah nyaman berbaring, ia meninggalkan tenda dengan hati-hati agar ku tak terbangun lagi.

Kucoba mendengarkan suara-suara dari luar. Tenang. Mungkin mereka telah berhasil melihat matahari terbit. Merekamnya dalam gambar. Mereka yang masih bersemangat menyambut hari baru. Sementara buatku, hari – hari yang datang seakan hendak mengejekku. ‘Hei, kami berlari bersama waktu!’. Dan aku tertinggal, makin tertinggal, dalam pusaran masa lalu.

Tapi kemarin, sedikit berubah. Setidaknya aku tahu, ada yang memperhatikanku. Meski ku tak tahu bagaimana cara dia akan menolongku, dengan ketenangan sikapnya, entahlah, aku hanya merasa yakin saja.

Yakin, dan Percaya.

Itu mungkin yang kupertaruhkan padanya. Rasa yang sudah lama kubuang karena sakitnya pengkhianatan. Ternyata, membuang percaya berakibat fatal. Kuterpuruk makin dalam. Mungkin hanya masalah waktu saja tiba saatnya ku mengiris nadiku sendiri. Untunglah Fahri, dengan caranya, menumbuhkan percayaku kembali.

Heran.

Betapa lucu Tuhan menyusun jalan. Fahri yang kukenal dalam satu dua pertemuan, malah menjadi penyelamat. Baru tadi malam kami berdekatan, meski tetap tak ada yang diperbincangkan. Entahlah, rasanya ia sudah tahu, atau berusaha nampak tahu, agar aku merasa tenang dan dapat mengandalkannya.

Aku keluar dari kantung tidur. Merangkak menuju pintu tenda. Kusibakkan, dan terlihat api unggun kecil masih menyala. Serangkaian kayu yang dijalin berusaha bertahan menjadi tempat bergantung panci kecil yang berisi air. Sepi, tak ada orang. Mungkin mereka masih menikmati mentari.

Termasuk Fahri.

Entah ku harus merasa sedih, atau lega. Sedih karena ku berharap ia ada disini, menemani. Atau lega, karena ku sebenarnya malu bila harus bertemu muka. Malu telah menyandarkan kepalaku di bahunya, orang asing yang menawarkan perlindungan.

Aku berdiri mengawasi panci. Air di dalamnya sudah mendidih. Kubiarkan, atau kuangkat sekarang?

‘Mau minum kopi?’

Aku menoleh. Fahri muncul di belakangku dengan membawa dua gelas dan dua sachet kopi.

Aku mengangguk. Lega.

20130206-200755.jpg
Pinterest.com

***

Aku duduk bersila sambil memperhatikannya. Dua gelas berisi kopi sudah siap di depanku. Fahri mengangkat panci itu dengan melilitkan kain di tangannya. Dituangkannya air mendidih dengan hati-hati ke kedua gelas. Kuaduk perlahan keduanya sementara Fahri meletakkan panci kembali.

‘Kumatikan apinya?’ tawarnya padaku. Aku menggeleng cepat. Kami memang tidak hendak memasak apa-apa lagi. Tapi aku menginginkan api itu tetap menyala. Entah..terasa harus saja.

Aku mengangsurkan satu gelas padanya. Ia duduk di sampingku. Tidak berdekatan seperti tadi malam. Hanya duduk di samping. Mengangkat dan menghirup kopinya pelan-pelan, dengan satu tangan. Sementara aku menggenggam gelas itu dengan dua tangan. Hangat. Kutiup dulu sebelum kuhirup. Kini hangatnya memenuhi rongga mulut. Mengalir ke tenggorokanku.

‘Sudah baikan?’ Fahri memandangku. Samar kulihat dagunya ditumbuhi rambut yang belum sempat dicukurnya.

Aku mengangguk. Kenapa di depanmu lidah ini terasa kelu, aku mengeluh atas ketidakberanianku.

‘Rencanamu selanjutnya?’ kini ia menghirup kopinya lagi. Tapi matanya tetap mengawasi.

Aku menggeleng tak mengerti. Aku tak pernah punya rencana. Jalani saja apa adanya.

‘Kamu suka kopi?’ tanyanya lagi.

Aku bengong. Apa hubungannya dengan pertanyaan sebelumnya? Tapi tak urung juga aku mengangguk dengan muka heran.

‘Kau pasti hapal paduannya. Bubuk kopi instan, susu dan gula. Kopi menyumbang rasa pahit. Susu untuk gurih, dan gula memberikan rasa manis. Kau tahu bagaimana rasanya jika dicicipi satu persatu. Tak seenak bila mereka berpadu.

Untuk itu diperlukan air panas untuk menyatukannya. Agar mereka dapat melewati lidahmu bersama-sama. Dan saat itulah kau bisa merasa, sensasinya yang luar biasa.

Demikian juga dengan hidup. Ada suka, ada duka. Jika yang lalu tak begitu kau suka, percayalah, ada hal yang manis di depan sana.’ Fahri menghirup kopinya lagi. Matanya kini memandang ke api unggun kecil. ‘Dan jangan khawatir. Kali ini ada aku yang menemani’ katanya pelan.

Aku memandang Fahri. Tak percaya rasanya. Dia yang bersedia mendampingi. Siap berbagi pedih. Bersama melewati hari. Sepi? Mungkin bakal tak ada lagi.

Fahri, terima kasih.

Ingin ku berucap seperti itu. Namun tak keluar apapun dari mulutku. Tapi senyuman di wajahku, sudah menjadi tanda baginya.

Ia tersenyum. ‘Sekarang, boleh kumatikan apinya?’

Aku mengangguk setuju. Fahri meletakkan gelasnya dan bangkit berdiri. Diceraikannya susunan kayu yang ada. Api mati pelan-pelan, kini yang terlihat hanya asapnya. Biarlah semua yang berlalu menjadi kenangan. Kayu telah berubah menjadi arang. Tapi akan ada tunas-tunas lain yang tumbuh, memberi harapan.

Fahri mengangsurkan tangannya padaku. ‘Ayo!’ katanya mengajakku.

Kuletakkan gelasku, dan kusambut uluran tangannya. Ia menarikku dengan lembut. Jemarinya menggenggam erat jemariku. Kini kami berdiri berdua, menatap cakrawala.

‘Sekarang…sudah siap? Untuk cerita?’ katanya sambil memandangku mesra.

Aku tersenyum. ‘Kayanya..udah ngga perlu’ kataku malu. Ia melingkarkan lengannya ke bahuku.

Bikin cerita sendiri aja ya Fahri…
…tentang kamu dan aku
^_^

20130206-221301.jpg

***THE END***

A sunset in one land is a sunrise in another

Advertisements