Serupa Sinetron

train wait

Mungkin aku telah dikutuk sinetron Indonesia.

Teringat saat kita membicarakan keburukan sinetron itu berdua. Tak ada berhentinya, habis konyol luar biasa. Misal adegan nabrak, mbok yao, menghindar gitu lo. Secara sempat meng-zoom in zoom out wajah kaget calon korban. Masih calon lo, kok ya mau-maunya ditabrak. Tapi mungkin memang harus begitu. Kalau tidak mana bisa si pengemudi jatuh cinta dengan korbannya.

Tuh kan, konyol bianget.

Tapi lebih konyol lagi kita. Bolak balik bersama, tapi ngga tahu mau kemana. Kita ini teman, apa pacar sih? Sudah tak pernah bilang cinta, tak ada kata mesra lagi. Parah.

Tapi ya itu tadi. Aku kena batunya. Sekarang malah berharap adegan khas sinetron muncul di depan mata. Disusul sang kekasih, di stasiun kereta.

Gombal.

Mana bisa kamu seperti itu. Hidupmu saja sudah penuh dengan rapat ini itu, aksi sosial ini itu, berkunjung ke ini itu. Seakan hidupmu milik orang banyak. Kasian amat yang jadi pacarmu.

Siapa emang?

Masih belum tahu. Habis, sudah ngga pernah cerita hal-hal pribadi, tiap ketemu isinya cela-celaan melulu. Atau, ya itu tadi, hasil-terpaksa-nonton-sinetron di kos-kosan, membuat kita selalu punya bahan untuk tertawa.

‘Ngomong sendiri!’ katamu yakin. ‘Apalagi kalau orang jahat. Pasti deh dia mengutarakan kekesalannya, tanpa membuka mulutnya.’ Aku tertawa. ‘Sambil melotot-melotot ngga jelas gitu ya Sam.’ kataku menambahkan. ‘He-eh.’ ia mengangguk-angguk. ‘Yang pasti kita tak perlu menebak kisah selanjutnya bakal gimana.’

Aku terkekeh. ‘Backsoundnya juga ada dimana-mana Sam. Lagi mikir, pake backsound. Makan bakso, pake backsound. Di toilet, iya juga gitu Sam?’ Kamu terbahak.

Saat ini, backsound yang tepat mungkin bunyi drum. Soalnya aku sudah berada di dalam kereta, di pinggir jendela, dengan cemas menyaksikan pintu masuk stasiun. Berharap kamu muncul tiba-tiba, berlari cepat ke kereta, menuju gerbong ku berada, dan muncul di depanku sambil terengah-engah. ‘Pergi, kok ngga bilang-bilang sih?’

Hmm. Skip. Cuma mimpi.

Pada kenyataannya semua penumpang sudah naik. Tidak ada seorang pun yang berlari-lari. Yang ada hanya petugas kereta api, yang memberi tanda kereta harus segera pergi.

Duh.

Benar. Dikutuk sinetron sepertinya.

Adegan yang kuharapkan tidak akan terjadi. Kamu, tidak akan menghampiri. Cinta, menghilang sendiri. Aku hanya bilang ke Ibu Kos, selama minggu tenang ini aku akan pulang ke kotaku. Tidak ada yang tahu alamatku, hanya kotaku saja yang mereka tahu. Tak perlu pamit padamu. Buat apa. Toh kau tak peduli padaku.

Sepertinya benar aku kualat. Penyakit favorit di sinetron, amnesia, mungkin sudah melandamu. Kamu lupa saat-saat aku selalu berusaha ada untukmu. Waktu aku tergopoh-gopoh datang ke UGD karena kau dan kecelakaan motormu. Atau saat kau selalu sudah nongkrong pagi-pagi di depan kosku, untuk bertanya mengenai materi quiz yang akan kita hadapi hari ini.

Mungkin aku hanya ada ketika kau perlu saja.

Oh sudah, lupakan semua. Kereta sudah bergerak perlahan meninggalkan stasiun. Melewati pintu tempat ku mengharapkanmu berada. Ya. Kamu masih tidak ada. Butiran mungil muncul di sudut mata.

‘Bangkunya kosong, Mbak?’

Kosong sih. Dengan malas aku mengangguk. Menyeka pipiku. Ia duduk, melepas maskernya.

‘Makasih yaaa.’ Aku menoleh dengan kaget. Sam!

Sinetron banget sih iniiii? kata batinku yang lagi jumpalitan….
***
20130429-001549.jpg
SUmber gambar : pinterest.com

Advertisements