Selamat Menikmati Fahri

Jadi begini ya Bapak Ibu, berhubung terjadi keributan di lapak sebelah tentang ‘siapa yang ditemani oleh Fahri’, karena Fahri cuma ada satu ngga mungkin dibelah, maka pembagiannya sebagai berikut:

– Pertama mbak Nauli Yo, sudah nge-cup mas Fahri pertama kali. Jadi malam ini yaa.
– Mas Em Saia mengaku kangen, tapi saya ngga tahu kangen ke siapa? Ke Fahri? WOW! Ngga usah aja yaaa, skip.
– Lalu ada Om Ujang Kelana yang bilang ‘lumayan buat ngangetin badan’ apakah ditujukan untuk Fahri? Jangan deh, daripada menuh-menuhin kuota *grin*
– Lanjut ke mbak Lilih, yang katanya ngga bisa tidur. OK deh, Fahri will be send, lusa ya…
– Menyusul mbak Na yang mengaku mengantri Fahri *bener ngga yaa..hehehe*,
– dan terakhir sampai jam 12 siang ini adalah mbak Find Leilla yang minta nomor teleponnya Fahri.

Baik, karena saya baik hati tidak sombong dan tidak pelit, maka Fahri akan saya pinjamkan,
.
.
dengan syarat kembali utuh.

Waiiiit….Fahri kuwi sopo?

Fahri, adalah tokoh rekaan yang ada di Api Unggun Kecil, tayang tadi malam. Hingga saat ini sudah menuai belasan komen dan 8 vote inspiratif. Sehingga, saya jadi tertarik untuk menganalisis, kenapa sosok Fahri banyak diantri emak-emak ups, sorry..hehehe maksudnya para pria dan wanita. Ada apa dengan Fahri?

Fahri saya rasa melambangkan sosok sahabat yang hadir di saat seseorang sedang ada masalah, duka atau kesulitan. Gayanya yang cool abis tapi bikin melting (susah tho..mbayanginnya?) membuat kita menginginkan sosok sepertinya.

hand holding

Fahri memperhatikan tokoh ‘aku’ saat mereka semua mengeliling api unggun. Ia melihat ‘aku’ ini tidak bergembira seperti lainnya. Hal ini diperkuat dengan ‘aku’ yang memilih menyendiri di samping api unggun yang mengecil, ketika yang lain tertidur lelap.

Seorang sahabat akan memperhatikan, saat bro atau sisnya mengalami perubahan sikap. Belum terkatakan masalahnya apa, tapi karena sahabat melihat, memperhatikan dan mengawasi dalam suatu kurun waktu, ia dapat merasakan, ada yang berbeda pada diri seseorang. Ada penurunan, ada degradasi, ada kemuraman, atau sebut lah, kegalauan yang mungkin terlihat jelas, mungkin juga berusaha disembunyikan. Apapun itu, seorang sahabat bisa mengetahui, ada suatu masalah yang sedang menaungi.

Fahri mendekati tokoh ‘aku’ dengan cara mengajaknya berbincang untuk mencairkan suasana. Kemudian ia meminta ijin untuk menemani. Meskipun tak dijawab, akhirnya Fahri berhasil duduk di samping ‘aku’.

Seorang sahabat akan berusaha mengetahui persoalan, betapapun sengit penolakannya. Memang agak sulit bagi seseorang yang tertimpa masalah untuk mengungkapkan secara detail apa yang dialaminya, namun seorang sahabat tidak akan cepat menyerah. Ia akan berusaha dekati, hingga seseorang tersebut dapat lebih membuka diri.

Fahri menemani tokoh ‘aku’ meskipun komunikasi berjalan tidak lancar, dan Fahri menemaninya dalam diam. Fahri tetap di sana meskipun tetap saja tokoh ‘aku’ tidak dapat menceritakan masalahnya.

Seorang sahabat adalah ia yang bisa membagi keheningan dengan brosisnya. Ia tidak cepat sakit hati kalau dicuekin, tidak marah kalau brosisnya belum mau cerita. Karena kalau cepat tersinggung, bisa saja dipikirnya brosisnya tidak mau bicara HANYA pada dirinya, padahal sebenarnya hanya masalah waktu saja. Waktu yang akan menguji kesetiaan seorang sahabat.

Fahri akhirnya membuka pembicaraan terhadap sikap murung tokoh ‘aku’. Ia juga berinisiatif mengambil kayu dari tangan ‘aku’, yang sedang menjaga api unggun agar tetap menyala. Fahri melanjutkan aktivitas yang dilakukan ‘aku’.

Api unggun kecil melambangkan semangat yang menurun. Sedangkan api unggun besar adalah keceriaan dan semangat yang tinggi. Kayu melambangkan usaha yang dilakukan agar tetap bersemangat (ketika digunakan oleh tokoh ‘aku’), namun juga dapat berarti beban yang harus ditanggung oleh seseorang (ketika kayu berpindah ke Fahri, beban tersebut hilang).

Seorang sahabat sejati bukanlah mereka yang menemani hanya dengan kata-kata manis, namun kata-kata jujur yang keluar dari hati. Mereka memberikan harta yang paling berharga, yaitu waktu untuk mendengarkan keluh kesah, menasehati, memberikan pertolongan dalam bentuk tindakan nyata, dan bersedia berbagi beban.

Fahri membelai rambut tokoh ‘aku’, menggenggam tangan, memandang dengan lembut, dan menyediakan bahunya agar tokoh ‘aku’ dapat bersandar padanya.

Seorang sahabat akan menunjukkan empati. Tidak selalu berupa sentuhan, tetapi kata – kata penyemangat dan penghiburan, selalu mendukung dalam setiap kesempatan, menyediakan waktunya untuk mendengarkan, bahkan menyediakan dirinya untuk menemani, adalah bentuk-bentuk empati yang dibutuhkan saat seseorang sedang tertimpa masalah.

Bagaimana persahabatan antara pria dan wanita? Selama masing-masing bisa menjaganya dalam koridor persahabatan, punya seat belt yang sama, semuanya akan berjalan dengan lancar. Bahkan kelebihan memiliki sahabat pria bagi wanita adalah: mereka ngga galauan, memberi solusi yang praktis dan punya banyak cara untuk membuat wanita tidak sedih. Sedangkan memiliki sahabat wanita bagi pria, dapat memberikan empati terhadap persoalan yang melanda dan sumbang saran karena para pria biasanya tabrak sana sini ngga mikirin perasaan (eaaa..tau bener tau ngga…hehehe).

Kalau menurut saya sih, jangan hanya rebutan ‘Fahri,’ tapi berusahalah agar dapat menjadi ‘Fahri’ bagi yang lain.

Anyway, selamat menikmati Fahri! ^_^

Advertisements