Sia-sianya Perdebatan di Dunia Maya

Sebaiknya, segala diskusi di dunia maya itu tidak perlu berpanjang-panjang. Akan saya uraikan alasannya, dalam hal ini akan saya gunakan prinsip negosiasi.

20131204-045015.jpg

Negosiasi dilakukan oleh dua pihak atau lebih yang berbeda, untuk mencapai suatu tujuan. Tujuan jangka panjang lebih diharapkan, karena jika tujuan jangka pendek, kita cenderung melakukan hit and run. Maksudnya buat keputusan ngga kira-kira, sehingga kecenderungannya adalah win – lose negotiation, atau lose – lose negotiation. Kelak, ketika kita harus negosiasi ulang, yang pasti buang waktu, buang tenaga, dan pihak lawan sudah pengalaman buruk sebelumnya. Jangan bicara, ‘saya ngga akan berhubungan dengan dia lagi kok!’. Jaman sekarang, networking itu penting. Kalau kita tidak jaga, satu entity terlepas, dan bisa menyebarkannya ke yang lain, dan lepaslah entity lainnya.

Sebelum berangkat negosiasi, kita persiapkan orang-orang kita atau diri sendiri dulu, yang dapat melakukan teknik negosiasi dengan baik. Kitapun mempelajari lawan negosiasi kita, apakah kelemahan dan kekuatan dia, agar dapat menggunakannya saat sedang berdiskusi. Tentu saja kelemahan dan kekuatannya jangan yang OOT ya, kalau ngga nyambung ya berarti ada dendam yang belum terbalaskan (emang kungfu?). Karena itu 90% digunakan sebagai persiapan, sisanya adalah pelaksanaan. Agar waktu negosiasi tidak terbuang percuma, atau tak mencapai tujuannya.

Tahap penyelidikan meliputi apa yang diinginkan, apa yang pihak lain inginkan, dan apa konsekwensi dari setiap kemungkinan hasil yang didapatkan. Semua keinginan tersebut saling diungkapkan antar dua belah pihak, dan saling bertanya jika tak mengerti betul permasalahnnya. Kesepakatan bisa dicapai jika situasinya nyaman dan netral, memperhatikan apa yang orang lain ungkapkan, mengabaikan hal-hal lain yang tidak penting dan tak terhubung dengan tujuan, dan berstrategi saat memilih sikap. Maksudnya untuk kasus tertentu, haruskah bersikap reaktif, atau proaktif?

Jika dikaitkan dengan dunia maya, dimana semua orang bisa ikut nimbrung, dan sanksi sosial tidak akan berpengaruh, betapa lemahnya mekanisme yang ada. Kejadian di dunia nyata saat negosiasi tidak berlangsung dengan lancar adalah gagalnya kesepakatan, diblacklist dalam daftar rekan atau pertemanan, termasuk perusahaannya. Sehingga orang lebih hati-hati. Selain itu, ya karena berhadapan muka itu lo, orang jadi tidak serampangan untuk berpendapat.

Pada blog keroyokan macam Kompasiana, forum-forum seperti Kaskus dan Detik, orangnya aja ngga jelas. Apalagi mau tanya tujuannya. Jadi dilanjutkanpun percuma. Identitas, coret. Sehingga tak ada sanksi apapun yang akan diterimanya, jika terjadi kegagalan dalam negosiasi karena ulahnya, atau justru menjatuhkan lawan negosiasinya dengan cara yang memuakkan. Semua hal tersebut tidak bisa dicegah. Memang ada mekanisme seperti laporkan, dilempar bata rame-rame agar akunnya berwarna merah, tapi mereka bisa muncul lagi dengan akun kloningannya.

Tujuan, coret. Ada memang (yang polos-polos) mengungkapkan apa yang dia mau dengan jujur, namun ada pula yang membungkusnya dengan rapi, ngga bakal ketahuan, setidaknya dalam tiga puluh dua tahun ini (niru rezim yang digulingkan). Jadi apa yang keluar, belum tentu sama dengan yang di otak, apalagi di hati. Karena itu nasehat JK Rowling yang selalu saya ingat adalah, ‘Jangan percaya pada apapun yang kau tak tahu di mana letak otaknya.‘ Kalau ternyata di dengkul, mati kita! 😀

Persiapan jadi sia-sia, karena buat apa mempersiapkan diri untuk hal yang ngga tahu tujuan dan arah diskusinya kemana? Malah melebar dan mendalam kemana-mana, yang mungkin sejak awal tidak kita prediksi bakal begini rumitnya. Mempelajari lawan? Lawan yang mana? Karena tiba-tiba ada banyak partner negosiasi, yang bisa jadi lawan, bisa jadi teman, atau pura-pura jadi teman. Sulit dikendalikan, sehingga persiapan harus lebih kompleks dan sangat unpredictable.

Ketidakpastian itu juga mengaburkan tujuan dan arah, muncul distorsi, dan muncul banyak hal yang ngga penting sehingga arahnya malah belok. Boro-boro mencapai tujuan, mendadak kita temui diri kita yang semula niatnya baik jadi dendam karena terlalu banyak sakit hati. Yang persiapannya baik jadi berantakan karena terlalu banyak orang ikut campur. Bukankah kita bangsa yang nganggur sehingga untuk urusan debat di dunia maya ini punya waktu, tapi turun ke lapangan untuk kerja dan menolong orang lain jauh panggang dari api? Komentar-komentar sampah dan tidak pada tempatnya, yang nyolot dari hati langsung ke mulut ngga pake lewat otak juga banyak. Tujuannya buat ngeramein kok, bukan untuk mencapai solusi.

Karena orangnya ngga jelas juga, jangan harapkan pendapat kita yang didasarkan dari pengalaman dan pengetahuan itu jadi berharga di mata lawan diskusi. Ada yang bebal, kuping (di nyata), mata (di maya), otak dan hatinya saat mendengar lawan diskusinya bicara. Kita ngga tahu apa mereka punya tujuan yang sama, level yang sama (ngga usah ngomong soal diskriminasi. Sebagai orang yang tidak jelas, tidak berhak untuk protes masalah kemanusiaan ini, karena jenisnya bukan manusia) jadi ngomong apapun seperti membentur tembok. Sudah jelaspun kita (balik lagi) ngga tahu dimana letak otaknya kan? Jadi masalah menghargai pendapat, coret.

Pada diskusi di dunia maya, hampir semua pihak yang terlibat bersikap reaktif, sehingga diskusi menjadi panas, meski penyebab panasnya entah karena apa. Pesertanya pada sensi sih, atau sudah menyimpan bara sebelumnya, sehingga semua orang dicurigai atas itikadnya, semua peka hanya atas satu kata, dan semua mencari celah pembenaran pribadi atau kesalahan lawan. Ngga ada titik temu, karena hati sudah tertutupi dengki, mata sudah dibutakan iri. Mau meninggalkan diskusi, dianggap mau lari, pengecut, pecundang atau lainnya. Padahal sebenarnya dilanjutkanpun percuma, dengan alasan-alasan yang sudah saya uraikan di atas.

So, peduli setan dan teman-temannya, tinggalkan diskusi tak sehat tersebut!

Saya rasa, kehidupan nyata lebih membutuhkan kita. Perjuangkan apa yang ada dalam diskusi tersebut, agar muncul hasil yang bisa dirasakan langsung oleh yang kita perjuangkan. Tinggalkan saja semua peserta diskusi yang masih punya (banyak) waktu, banyak kata-kata yang belum diungkap, banyak dengki yang belum terucap, biarlah mereka dengan pembusukan hati, sementara kita melenggang pergi.

Atas halnya artikel ini, kenapa tidak dilemparkan ke kerumunan, saya punya mekanisme tersendiri untuk melindungi isi tulisan, dan menjaga diskusi jika memang ada. Mau komen macam-macam? Saya berhak mengedit, tidak menayangkan, bahkan membuang komentar sampah dan tidak pada tempatnya, yang entah apa tujuan dan tidak jelas orangnya. Penulis jangan kalah dong dengan komentator, dan disinilah saya bisa menungkapkan opini pribadi, tanpa khawatir dibelokkan oleh orang-orang yang katanya menjunjung tinggi demokrasi, tapi dengerin lawan bicara aja ngga mau, opininya lemah, dan seenaknya kabur kalau keadaan tidak menguntungkan.

Say tidak siap berdiskusi? Memangnya ada, diskusi di maya? Yang ada cuma pengajuan opini.

Tidak ada yang menang, karena sesungguhnya tidak pernah ada pertempuran.

***
IndriHapsari
Gambar : pinterest.com/pin/186125397070031745/

Advertisements