Ma, Beliin BB Dong!

20130616-152914.jpg

Hebat bener deh RIM, sampai membuat anak 9 tahun meributkan masalah BB, karena teman-temannya di sekolah dan di les sudah menggunakannya. Dan tentu namanya anak umur segitu, dengan atraktif pula mereka memamerkan ke teman-temannya, asyiknya BBMan, main game dan berselancar di internet. Bisa dengar lagu, bisa nonton video, dan fungsi yang hampir terlupa, menelepon orang tua. Padahal orang tua beranggapan itulah alasan utama mereka memberikan gadget tersebut pada anak.

Anak saya mungkin dianggap jadul oleh teman-temannya, karena satu-satunya yang saya bawakan untuk dia, itupuk kalau terpaksa, adalah HP Esia, entah merknya apa. Yang pasti kartunya tak bisa ditukar dengan CDMA lain. Bentuknya kecil, warnanya hitam, monochromatic, monophonic juga. Cuma bisa buat telepon, sms, alarm dan kalkulator. Saya bawakan, kalau saya tak bisa menunggui dia selama les. Jadi cuma antar jemput saja. Lainnya ya kosongan, alian ngga bawa alat komunikasi.

Apakah saya pelit, sampai ngga ngasih BB ke anak? FYI, saya sendiri juga ngga pakai BB kok. Kalau dulu alasannya sayang duit segitu buat beli gadget yang bisanya nelpon, sms, internetan, email dan BBM saja. Dengan gadget android saya dapatkan hal yang lebih, terutama di aplikasi dan harga.

Akhirnya sekarang BB ada yang 2 jutaan, masih saja ada yang tanya kenapa dari dulu saya ngga punya nomor PIN. Sebenarnya alasan utama sih karena males BBMan. Jempol saya ngga bisa cepat di button yang begitu kecil, saya sendiri bukan orang yang menyenangkan untuk diajak chatting. Menurut saya, kalau semua pesan bisa dikirimkan dalam satu pesan, mengapa harus diputus berkali-kali? Nggarai (menyebabkan) salah persepsi saja.

Tapi saya sempat kaget juga, waktu RIM memutuskan membagi aplikasi BBM ke Android dan iOS, untuk menahan gempuran aplikasi chat lain seperti KakaoTalk, Line, WhatsAp dan WeChat. Walah, sekarang saya mau alasan apalagi ngga bisa BBM? Dulu kan karena ngga punya BB.

Anyway, karena emaknya ngga pakai, maka anaknya juga ngga. Oh saya sediakan kebutuhan anak-anak terkait gadget dan elektronik di rumah agar ngga ketinggalan kereta dengan teman-temannya. Tapi tidak untuk dibawa-bawa. Karena tanggung jawab masih berada di orangtua.

Alasan pertama saya tidak memberikannya pada mereka adalah pertimbangan usia. Mereka belum mampu merawat gadgetnya dengan baik. Dua minggu lalu saya ke pusat perbaikan handphone, karena HP Nokia E 52 yang seminggu saya turunkan ke dia, tewas dengan sukses. Baterenya kehabisan daya, sampai ngga bisa ngangkat ketika dicharge. Akibatnya saya harus minta tolong Nokia Service Center untuk memperbaikinya. Untung bisa ditunggu.

Jadi untuk merawat saja mereka belum bisa. Gadget lainnya mengalami hal yang sama. Baterai selalu dalam keadaan kritis karena lupa dicharge. Kalau saya mengingatkan, alasannya masih belum tahu caranya. Padahal sudah diajarin bolak balik.

Alasan kedua, masih terkait dengan usia juga, mereka belum bisa menjaganya. Pada saat menunggu di kafe tempat les anak saya berada, sering terdengar kabar dari mbak penjaganya, ada BB ketinggalan, ada BB hilang dan ada BB yang digunakan untuk mengakses situs porno. Di tempat les sih sudah aman, semua situs porno diblokir. Eh, malah kecolongan di gadget para muridnya.

Pornografi, menjadi alasan ketiga. Mereka mengaksesnya diam-diam, yang pasti tidak di depan keluarganya. Di tengah teman-teman sih jadi kebanggaan, bisa menyimpan adegan panas tersebut. Entah karena mereka tidak tahu, atau tidak sengaja membuka.

Dunia internet begitu jahatnya. Anak-anak kita belum siap dilepas begitu saja di dunia. Jadi perlu pendampingan dan pengawasan dari orang tua. BB atau gadget lainnya digunakan semestinya dan untuk tujuan yang baik. Bagaimanapun kesadaran diri lebih penting daripada hasil perintah.

IndriHapsari

Advertisements