Dua Tukang Pos

Aku si tukang pos. Dengan sepeda merah, mengirimkan surat pada penduduk desa. Kukayuh sepedaku dengan gembira, menyapa dengan ramah sang penerima.

Ada satu rumah di ujung sana. Warnanya putih, lebih cerah dari matahari. Selalu kulewati, setiap pagi.

Jika ada surat untuknya, kumasukkan surat lewat lubang pada kotak yang tertempel di dinding. Kubunyikan bel satu kali agar ia tahu aku datang. Dan kemudian tirai itu akan tersibak, seorang gadis akan melambai dari dalam.

Gadis yang melambai sambil tersenyum. Selalu ada disana seakan sudah tahu aku akan datang untuknya, tiap hari pada jam yang sama. Berkat sikapnya yang hangat, ku selalu merasa gembira selepas dari sana.

Dan jika hari ini tak ada surat untuknya, aku akan berhenti di ladang penuh bunga. Kupetik bunga beraneka warna, kusatukan dan kubawa padanya. Kuselipkan pada lubang di kotak pos, dan kubunyikan bel dua kali. Dia akan melambai lagi, kali ini dengan tertawa.

Hari ini agak berbeda. Karena ia menungguku di depan rumahnya. Entah dorongan apa, tapi melihatnya dari jauh membuatku mempercepat kayuhan sepeda.

Kenapa keluar?’ kataku saat di depannya.

‘Aku ingin mengunjungi temanku. Bisakah ku ikut denganmu?’

Segera kusingkirkan kantong suratku. Kutaruh di depan, agar ia bisa duduk di belakang. Dengan duduk menyamping ia mulai merangkul pinggang.

Ah, hanya ingin tahu, apa yang ia rasakan saat berada di belakangku, saat ku berusaha mengayuh sepedaku, dan menenangkan jantungku? Dia sendiri diam saja, mungkin asyik melihat pemandangan desa.

Waktu berlalu, dan ia belum turun juga. Suratku hampir semua sudah kuserahkan, tinggal satu yang belum kusampaikan. Iseng aku bertanya padanya ‘Temanmu tinggal di desa apa?’

Hyanguiri‘ jawabnya.

Aku segera mengerem sepeda. ‘Tapi, kita telah melewatinya satu jam yang lalu’

‘Aku tahu. Aku hanya ingin naik sepeda bersamamu.
….
Maukah kau mengayuhnya sampai ke bukit?’

Hari ini, ada dua tukang pos.

Ide dari novel grafis Sepeda Merah – Kim Dong Hwa

Advertisements