Dua Natal

13545090711536321173

 

Sebentar lagi Natal. Gerimis selalu membayang setiap senja. Itu tandanya. Udara terasa makin sejuk, dan suasananya terasa meneduhkan. Kidung Natal selalu saya pasang ketika sedang sendirian di kamar.

Kali ini, saya coba untuk menata kembali isi lemari saya. Ada baju-baju yang akan saya sumbangkan ke gereja, dan kini giliran surat-surat berharga. Surat berharga saya, dari kamu. Amplop yang kamu pakai selalu khas, amplop putih sedang, dengan warna biru dan merah di tepinya. Amplop biasa yang didapatkan di toko alat tulis, tetapi terasa istimewa. Karena ada cinta di dalamnya. Kamu kirimkan saat kita berjauhan karena pekerjaan.

Saya ingat ketika kamu pertama kali menyatakannya dalam tulisan, saya hanya terdiam. Kita beda. Kamu tahu itu. Saya tahu itu. Tapi cinta memang tak dapat ditolak. Sudah lama saya dan kamu memendam rasa, dan terasa semakin menggila karena terpisah lautan. Katanya, cinta datangnya dari surga, tidak pernah kita minta. Saya bahkan jadi bertanya, surga kita sama ngga ya, kok bisa menurunkan hal yang begitu indahnya, pada kita.

Saya hanya bilang ‘Kita jalanin aja‘ karena saya sendiri ngga yakin, kita bisa terus bersama. Kamu sendiri bilang, ‘Nanti pasti ada jalan‘ dan saya mengiyakan. Sejak saat itu saya merasa bahagia sekaligus berdosa, telah jatuh cinta pada orang yang salah. Ah, mengapa Tuhan kita bisa beda? Padahal anugerahnya sama.

Saya berusaha memahami kamu dan apa yang kamu percayai. Saat jauhan, saya selalu ingatkan kamu untuk tidak lupa sembahyang. Kalau kamu lagi di sini, saya rela nungguin kamu di luar, saat kamu melaksanakannya. Saya ikut ngga makan, saat kamu sedang puasa. Saya sendiri berusaha selalu ingat hari – hari besarmu, mengirimkan ucapan selamat untukmu, biar kamu tahu saya perhatian.

Saya tahu, kamu melakukan hal yang sama. Kamu selalu tanya di suratmu, minggu ini dapat kotbah apa? Saya senang mendapatkanmu mau menunggu saya selesai kebaktian, saat kamu mengunjungi saya. Menjelang Natal pertama paket berisi hiasan pohon Natal sampai di rumah. ‘Lagi jalan-jalan. Lihat ini. Ingat kamu‘ pesanmu singkat. Saya jadi terharu. Saya ingat, kamu suka sekali menyantap kue nastar, yang kamu lahap tanpa malu-malu di depan Mama pada Natal kedua. ‘Abis enak sih, Tante!‘ katamu jujur, bikin Mama yang bikin kue itu, merasa senang. ‘Kayanya cocok dijadiin mantu’ kata mama waktu kamu pulang.

Dua Natal telah kita lewati, dan saya semakin terikat padamu. Meskipun jauh, tapi amplop-amplop putih yang menyampaikan cinta dan perhatianmu selalu datang. Saya berusaha bertahan. Yang saya tidak bisa, jika saya harus bertahan tanpa kamu. Dan entah kenapa, justru setelah dua Natal terlewati, kamu bilang kita ngga bisa bersama lagi.

Kenapa?

Kenapa kamu ngga sadari itu dari dulu? Sejak awal, saya, kamu, kita, tahu kalau beda. Kenapa ngga dari dulu saja kamu tahan rasa, ngga usah ungkapkan ke saya, dan pergi saja dari kehidupan saya. Setidaknya saya tidak akan mengenal rasamu, saya tidak akan memperkenalkan rasa saya padamu, dan kita akan jadi dua orang asing yang sama – sama tahu, ada rasa tapi tak bisa bersatu.

Tapi saya salah juga. Dari awal saya sudah terlena, tidak pakai logika. Hubungan ini mau dibawa kemana, waktu itu saya tak peduli. Bahkan saya berharap, entah saya yang dapat hidayahNya, atau kamu yang tertarik jadi murid Tuhan saya, sehingga salah satu dari kita bisa merelakan.

Namun dua Natal telah memperlihatkan, seharusnya memang kita tak bersama. Saya dan kamu, lebih mencintai Tuhan masing-masing, dan menganggap hubungan ini harus berakhir. Saya menangis. Di depanmu. Di belakangmu. Saat kamu ada dan tak ada. Saya tahu kamu juga menahan kesedihan. Hanya kamu, seperti biasa, berusaha bersikap tegar.

‘Jauh dalam lubuk hatiku, aku ingin menikahimu. Berharap kau yang jadi pengantinku, dengan pemberkatan model apapun, dengan upacara yang berlaku umum. Aku ingin doa yang diucapkan adalah tentang cinta yang abadi, dan bersama di surga, nanti’

Saya menutup surat terakhir dari kamu, yang kali ini amplopnya berbeda. Diselipkan dalam undangan pernikahanmu, dengan bukan nama saya yang ada di samping namamu.

Natal saya memang pedih, tapi saya lebih memilihNya daripada memilihmu.

.

.

—Dua Natal—

Dua Natal telah kita lalui,
dan aku semakin terikat padamu.

.
Aku,
Ingin menikahimu.
Kamu,
yang jadi pengantinku.

.
Jauh,
dalam lubuk hatiku?

.
Natalku, memang lah pedih.

– – –

***

IndriHapsari

Poem: anonymous

Picture: irishvillagemarkets.ie

 

Advertisements