Museum Nasional: Museum Paling Keren di Indonesia

Kalau nyimak tulisan-tulisan saya sebelumnya, isinya keluhaaan mulu tentang museum di Indonesia yang meskipun isinya keren tapi kondisinya mengenaskan. Tapi begitu melihat Museum Nasional, saya jadi yakin kita masih punya semangat untuk menghargai sejarah kita sendiri. Setidaknya bisa lah disandingkan dengan Museum of Natural History di negara manapun 🙂

image

Museum Nasional atau saya singkat aja ya, Munas, letaknya di Medan Merdeka Barat yang merupakan daerah 3 in 1, dan ngga jauh dari lokasi pengemboman Thamrin. Jalanannya gede dan sepi, bersanding dengan gedung-gedung kementrian. Dari lokasi aja udah wow banget, semoga ngga sombong kaya ngga perlu pengunjung.

image

Untung pikiran buruk saya sirna. Halamannya memanjang dan ada beberapa karya seni raksasa di depan. Pengunjung pada foto-fotoan atau sekedar duduk-duduk. Dari sini aja sudah sip buat saya, museum menjadi oase dan bukan jadi tempat yang lazim dijauhi, dikunjungi kalau terpaksa. Masuk tas-tas diperiksa, melewati gerbang detektor. Setelah membeli tiket 5 ribu untuk orang dewasa dan 2 ribu untuk anak-anak (10 rb untuk turis asing), serta menitipkan tas, kami memasuki gedung yang langit-langitnya tinggi ini.

image

Satu pertanyaan saya waktu itu, ini dulu bekas gedung apa ya. Biasanya kan pake gedung-gedung bekas yang dialihfungsikan. Ternyata saya totally wrong. Gedung ini dibangun Belanda, memang untuk museum. Jadi jamn dulu para arkeolog Belanda sudah nemu barang-barang yang wow dari Indonesia, lalu menyimpannya. Sempat pindah-pindah karena selalu bikin penuh rumah, akhirnya dibikinin khusus di lokasi sekarang. Saya tahu info ini dari brosur cantik yang bisa diambil gratis waktu beli tiket. Syukurlah brosurnya terlihat elegan dan ada bahasa Inggrisnya.

image

Dari brosur, terlihat gedungnya ada gedung A yang lama, dan gedung B yang diresmikan oleh Presiden SBY tahun 2007. Gedung A diawali dengan arca-arca yang menunjukkan peradaban kita pada saat itu. Suka kagum gitu ini gimana cara mahatnya, ngambil batunya, nulisnya, pengambaran atas tokohnya, yang mendasari pembuatan patung-patung ini. Orang jaman dulu serius ya menghormati kepercayaan dan kerajaannya, ngga sotoy kaya jaman sekarang 🙂

image

Setelah melewati taman yang berisi patung sapi, kami masuk ke area etnografi. Disini ada barang-barang yang berhubungan dengan suku-suku di Indonesia. Barangnya banyak, disimpan dengan rapi ngga uyel-uyelan. Meski bawaannya ni gedung emang temaram, tapi koleksinya bisa dilihat dengan baik. Soalnya terus terang nih, beda tingkat penerangan aja (illumination level) bisa bikin mood pengunjung untuk explore juga jadi berubah.

image

Koleksi keramiknya cantik-cantik. Keramik bukan barang asli Indonesia, melainkan dibawa para pedagang asing yang mampir di pelabuhan-pelabuhan kita. Kebayang dong dulu sebelum dijajah, ekonomi kita jalan ya karena hubungan perdagangan ini. Koleksi tekstil dan arkeologi ngga bisa kita lihat karena ditutup. Begitu juga dengan lantai duanya.

image

Gedung ini juga rame dikunjungi anak SD, lalu ada pemandunya juga. Kebiasaan kami pas baru beli tiket biasanya cari pemandu. Tapi rupanya di museum ini waktu itu ngga ada. Tapi syukurlah keterangan dual language yang ada di tiap lemari pajangan sudah cukup membantu. Kami juga beberapa kali ketemu dengan turis asing yang mau mengunjungi museum ini. Toiletnya juga bersih, areanya berpendingin udara, petugas kebersihan juga tersebar dimana-mana.

 

Screen Shot 2016-02-14 at 9.06.33 PM

Peralatan debus. Jadi ceritanya abis dibakar trus ditusukkan ke tubuh pemainnya. Brrr….

Screen Shot 2016-02-14 at 9.06.25 PM

Alat pengatur kecepatan kapal pedagang China

 

Area gedung baru terdiri dari 7 lantai dilengkapi dengan eskalator dan lift. Lantai pertama ada manusia dna lingkungan, isinya: ‘ini waktu manusia masih jadi monyet Rey,’ kata saya ke anak saya 🙂 Kita melihat tengkorak manusia dari Sangiran, penggalian kerangka dan diorama manusia purba. Gitu doang sih, cukup dikit. Jadi deh ke lantai dua, ilmu pengetahuan teknologi dan ekonomi. Disini berisi benda-benda tradisional yang mencerminkan cara hidup orang jaman dulu. Gitu juga dengan lantai berikutnya, organisasi sosial dan pemukimn. Lantai 4 berisi emas dan keramik, naiknya pakai lift.

Screen Shot 2016-02-14 at 9.06.44 PM

Keliling Jakarta Yuk!

Pulang dari Munas kita sempat ambil brosur ini dari meja tourist information. Secara keseluruhan ini kunjungan ke museum di Indonesia paling memuaskan. Sayangnya…ntar ya…saya update soal Saran Untuk Museum di Jakarta 🙂

***
IndriHapsari

Advertisements