Menikmati Keindahan Sesama Wanita

20121223-155253.jpg

Pagelaran Miss Universe 2012 telah berakhir, dengan gelar wanita cantik sejagad jatuh pada Olivia Culpo, asal Amerika Serikat. Kebetulan tadi malam kami sekeluarga menyaksikan acara tersebut live dari televisi.

Menyaksikan ke-88 kontestan wanita cantik dari seluruh dunia, sungguh merupakan tontonan yang menyenangkan. Kami hanya menyaksikan sampai seluruh peserta tampil di awal acara, setelah itu anak-anak memasuki jam tidurnya.

Ke-88 wanita yang mewakili negaranya tersebut sudah melalui seleksi yang ketat, menyangkut kecantikan dan keindahan tubuhnya, kepribadian yang menarik, kepintaran dan cukupnya wawasan, serta kekuatan mentalnya menghadapi persaingan. Wanita yang melangkah dengan percaya diri tadi malam, merupakan wanita-wanita pilihan.

Perasaan saya saat melihatnya, ya senang saja. Melihat banyak mahluk indah bertebaran, menikmati dan memamerkan keindahan yang ia miliki. Saya merasa bahagia, di bumi ada mahluk secantik dan sesempurna itu (setidaknya untuk pagelaran tersebut), dengan langkah yang anggun, tubuh yang semampai, wajah yang sumringah dan menyimpan potensi besar di dalamnya. Kalau saja saya sesama kontestan dan tidak menang, rasanya saya bakal bahagia juga, Pulco yang jadi juara. Karena dia memang lebih cantik, lebih pintar dan lebih berhak menang daripada saya.

‘Tunggu sampai suamimu digodanya’

Nah, semoga cuma saya saja yang membayangkan ada yang ngomong gitu ke saya, begitu saya memuji-muji wanita lain. Saya nih memang aneh, suka memuji sesama wanita, meskipun saya beneran normal lo. Dulu saya pernah menulis artikel tentang pujian saya untuk penyanyi Raisa, yang saya bahas luar-dalam-bolak-balik, untuk menjelaskan kenapa saya ngefans bener sama dia.

Ok, balik lagi ke pernyataan tadi, saya kira itu tuduhan yang kejam.

Pertama, tuduhan kejam untuk para wanita yang hampir sempurna. Tidak selalu wanita cantik, seksi, pintar, punya potensi itu tukang goda suami orang. Yang jelek-jelek juga banyak *grin*. Jadi tidak perlu lah curiga hanya karena dia lebih dari kita.

Kedua, tuduhan kejam untuk para suami. Para suami, kan sudah melalui fit and proper test yang kita buat sebelumnya. Sudah kita ‘kerjain’ untuk tahu tingkat kesetiaannya, kerelaannya mendampingi kita, dan kerentanannya terhadap godaan. Jangan underestimate ke suami sendiri lah, perlu usaha yang lebih besar untuk mencuri eh merampok hatinya.

Ketiga, seandainyapun suami kita terkiwir-kiwir dengan Culpo misalnya, emang Culponya mau? Secara Culpo ini cantiknya tingkat dunia, sedangkan suami kita gantengnya tingkat lokal, alias intern keluarga sendiri saja…hihihi…

Kalaupun, Culpo dengan entah-gimana-caranya ternyata suka juga dengan suami kita (mungkin seperti lagunya Maudy Ayudya di Perahu Kertas ‘di antara milyaran manusia…. dengan radarku, menemukanmu‘ aw…melting!) ya sudah berikan saja. Yang rugi siapa hayoooo^^

Miss Universe, atau siapapun yang lebih dari kita, memang akan memunculkan dua sikap. Yang pertama adalah sikap ikut senang, ikut bahagia, ikut merayakan. Yang kedua adalah sikap tidak senang, iri hati dan cemburu.

Untuk lebih jelasnya, mungkin bisa dilihat dari kisah Raja Saul dan Daud berikut ini.

Raja Saul dan Daud baru pulang dari medan perang. Rakyat menyambut mereka, dengan nyanyian.

Raja Saul mengalahkan beribu-ribu musuh, tapi Daud berlaksa-laksa’
FYI, laksa adalah puluhan ribu.

Raja Saul merasa kesal dan marah mendengarnya. Maka didorong rasa irinya, ia selalu memerintahkan Daud maju ke medan pertempuran yang membahayakan, supaya mati di medan perang. Namun, namanya juga niatnya sudah tidak baik, Daud malah menang terus. Rakyat makin menyanjungnya sebagai pahlawan. Terakhir, saking sebalnya, saat sedang bersama di perjamuan, Saul dengan cueknya melemparkan tombak ke arah Daud, berharap tombak itu mengenainya. Bisa ditebak, Daud lolos dari percobaan pembunuhan nekat tersebut.

Yonatan, anak Raja Saul, sebaliknya malah sayang banget dengan Daud. Sudah dia anggap sebagai saudara sendiri. Dia menentang niatan ayahnya untuk membunuh Daud. Bahkan ia yang menyelamatkan Daud dan menyuruhnya lari untuk menjauhi ayahnya. Padahal, Yonatan berhak untuk iri. Dia jauh dari hingar bingar pemujaan rakyat sebagai anak raja. Dia tak peduli itu, dia hanya melihat Daud sebagai saudara yang ia kasihi.

Lalu kenapa Yonatan bisa mengambil sikap ikut senang dan ikut sedih, saat Daud mengalaminya? Karena Yonatan merasa sama, senasib, sayang, sehingga tak ada yang lebih penting selain mendukung Daud dalam tindakannya. Yonatan merasa Daud itu separuh dirinya, seperti lagunya Noah, aku = separuh dirimu. Sehingga alih-alih merasa iri, sirik dan dengki, dia memilih pada posisi ikut memiliki, ikut senang, sekaligus ikut prihatin.

Kalau saya pribadi sih sudah tahu mau mengikuti yang mana, respon kita terhadap suatu kondisi tergantung kita memilih bersikap bagaimana kok. Kalau seandainya rasa tak suka itu masih berkutat dalam pikiran, gampang. Matikan saja TVnya. Habis perkara ^^

Komen? Silakan^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s