Taman Nusa, Taman MINI Indonesia di Bali

Awalnya saya merencanakan datang ke Taman Nusa sebagai bagian dari makan siang saja. Ternyata isinya…wadaw! Dua jam lebih kami habiskan di sana. Ngga nyangka isinya begitu, akhirnya malah asyik kelilingan di dalam. Itu sebabnya saya tekankan di kata MINI, karena isinya mirip TMII di Jakarta.

Lokasinya nyelempit di Gianyar, Bali. Tanpa Google Map, sepertinya bakal susah mencapai tempat tersebut. Wong minim petunjuk dan ngga ada orang yang ditanyai. Di dalam kompleknya, kemodernan terlihat di tengah lingkungan yang mirip lembah. Hampir mirip Eco Green Park di Batu ya. Parkirnya luas, rapi penataannya. Tiket masuk 60 ribu, kalau dengan berbagai kegiatan seperti membatik, dapat welcome drink atau foto studio jadi 80 ribu.

Memasuki arenanya kita disambut payung warna warni yang melayang. Lalu ada penari jaipong dengan musik yang rancak, menyambut setiap tamu yang datang. Ini beneran. Selama kami menunggu makan siang di restoran selama 2 jam, berkali-kali terdengar musik tanda mbak-mbak penari berjoget lagi. Boleh foto juga dengan penarinya atau bergaya sendiri.

Mengenai restoran, besar dan bagus pemandangannya karena letaknya di atas. Sebenarnya mirip dengan restoran di Taman Safari Bali, cuma sepi sehingga terkesan kosong. Ini juga sih yang jadi pertanyaan, dengan jumlah pengunjung yang ngga banyak (kami berkunjung pas liburan sekolah lo) bagaimana dia membiayai karyawan dan biaya perawatan, belum kalau restoran kan harus siap semua. Dari beragam menu yang ditawarkan, yang habis cuma ayam taliwang. Tapi masakan ayam yang lain ada. Staffnya ramah dan helpful, makanannya enak meski lama. Soto ayam madura terutama, enak banget, bahkan bagi saya yang tinggal di Surabaya dan dikelilingi banyak soto enak. Konro bakarnya empuk dan bumbunya terasa, bebek dan ayamnya muncul dalam porsi setengah ekor.

Sebenarnya kalau ngga mau makan di restoran, agak ke lembah ada kedai – kedai yang menjual makanan tradisional. Belinya pakai voucher 5 ribuan, harga makanan antara 15 hingga 25 ribu. Pemandangannya terasering buatan, jadi kita seperti makan di tebing.

Nah sekarang soal isinya yang bikin kita betah berlama-lama. Kalau dari peta, ada 78 titik lokasi termasuk toilet dan cafetaria yang tersebar di sepanjang tebing. Ini gila banget yang bikin, bayangin membangun puluhan rumah tradisional di seluruh Indonesia, di area yang nyelempit dan bahaya begini. Awalnya mungkin tempat ini tebing, atau jurang, bawa semen dan batunya itu lo…terbayang mahalnya.

Rumah tradisional ada dari semua provinsi, bahkan ada yang satu provinsi terdiri dari beberapa rumah. Rumah pertama adalah rumah adat Papua, yang bernama Honai. Dari mas-mas yang menggunakan baju adat Papua dan ternyata dia ‘diimpor’ langsung dari Papua, ada tiga macam rumah adat. Yaitu tumah untuk laki-laki, perempuang, dan untuk ternak. Musik yang riang terdengar di seantero area, dan memgangkut rumah dengan orangnya sekalian sungguh luar biasa.

Menurut pengakuan mas tersebut, kayunya ambil dari lokal saja. Tapi kalau dilihat emang dibuat semirip mungkin. Kalau pakai kayu asli bisa puluhan tahun bertahan. Sedangkan di Taman Nusa ini ada beberapa rumah yang under construction karena kayunya sudah lapuk, padahal berdirinya baru 5 tahun yang lalu. Hampir semua area ada petugasnya, yang kalau bisa diambil dari penduduk lokal. Kami bertemu dengan ibu cantik yang sedang menenun, mewakili Nusa Tenggara Timur. Karena mendung dia ngga lanjutkan menenunnya, tapi membuat gelang-gelng yang dijual dengan harga 10 hingga 25 ribu rupiah. Hasil tenunannya juga ada, dari 500 ribu (sebulan pembuatan) hingga 2,5 juta (3 bulan pembuatan). Kalau ngeliat dari lama prosesnya, semoga saja orang Indonesia tambah kaya-kaya untuk bisa membeli kain tenun khas Indonesia.

Semua petugasnya berlagak melakukan kegiatan sehari-hari khas daerahnya. Yang Bali selain ada mbak-mbak yang membuat canang, ada mas-mas yang memainkan gamelan. Saat kami di Sulawesi juga ada serombongan bapak-bapak yang memainkan kolintang. Di sisi Jawa Barat ada yang mainkan angklung. Sayang yang di Sumatra Utara ada orangnya tapi mereka tidak memainkan ortungnya alias organ tunggal. Saat di Sulawesi juga di bawah rumah panggung, ada bapak yang memperagakan merakit kapal dalam botol. Yang kecil dari dop lampu, harganya 70 ribu. Kalau yang besar dari botol miras, harganya 100 ribu. Oya bapaknya ternyata dari kota tetangga, Sidoarjo 😄 Ada lagi di rumah Jawa Barat ada bapak-bapak lagi menggergaji kayu sengon, dia membuat gantungan kunci bentuk rumah adat. Harganya 10 ribu. Kalau gini-gini ngga usah ditawarlah ya, dia ada di Bali daja sudah piro-piro. Kalau perlu kasih tiplah pada pemusik yang rajin memainkan alat musik tradisional. Dari pengakuan ibu dari NTT, merek yang dari luar Bali ada messnya, dan tiap hari antara jam 9 pagi hingga 5 sore mereka bertugas. Itu kan sudah wow banget ya…

Selain rumah tradisional, ada juga miniatur Borobudur, gua buatan, patung Gajah Mada dan patung Soekarno Hatta. Ada juga museum tekstil, wayang, etnografi…saking banyaknya sampai ngga sempat dikunjungi satu-satu. Jalannya jauh juga (15 hektar!) tapi tidak terasa karena banyak pepohonan dan semuanya sudah diatur sedemikian rupa sehingga rasanya pingin ngampiri satu-satu 😄

A must visited destination! 👍

***

IndriHapsari

Komen? Silakan^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s